Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Cewek atau cowok?


__ADS_3

Hari ini Sofia antusias sekali mendatangai suaminya di ruang praktek setelah jam kerjanya. "Ap masih sibuk?" tanya Sofia ketika masuk ke dalam ruangan David.


David tersenyum melihat istrinya datang. "Masuk sayang!"


"Dok, saya permisi dulu," pamit asisten David yang merasa tidak mau menganggu interaksi pasangan suami istri tersebut. David mengangguk.


Sofia melepas jas kedokteran miliknya. "Kalau aku pindah jadi dokter kandungan kaya kamu gimana?" guraunya.


"Kamu mau kuliah lagi?" tanya David balik.


"Habisnya jadi psikiater itu sepi pasien. Kalau tidak ada pasien di sini aku harus ke rumah sakit jiwa," keluh Sofia pad suaminya.


"Boleh, nanti setelah kamu melahirkan. Asal tidak mengabaikan anak kita nanti," jawab David.


"Enak kali ya kalau kuliah di jurusan yang sama. Nanti aku bisa minta tolong sama Mas buat bantuin kerjain tugas."


"Apa sih yang nggak buat kamu sayang?" David mencium sekilas bibir istrinya.


"Mas, kita lagi ada di ruangan kamu bagaimana kalau ada yang melihat?" protes Sofia.


"Tidak apa-apa. Aku harap mereka mengerti kalau kita suami istri," jawabnya dengan enteng.


Sofia tersenyum malu-malu. "Ayo periksa aku! Aku sudah tidak sabar melihat jenis kelamin anakku," pintanya dengan antusias.


Sofia pun naik perlahan dibantu suaminya ke atas ranjang. David membuka atasan Sofia kemudian mengoleskan sebuah jel di perutnya. "Sepertinya anak kita malu-malu. Aku tidak bisa melihat jenis kelaminnya karena dia menutupnya dengan tangan," kata David memberi tahu hasil pemeriksaannya pada sang istri.


Sofia menghela nafas. "Padahal mama ingin sekali tahu jenis kelamin kamu karena mama nggak sabar buat belanja baju bayi, sayang." Sofia mencoba berbicara pada janin yang ada di dalam perutnya.


"Bulan depan saat periksa kita coba lagi, sayang." David menghibur istrinya.


Sofia hendak turun tapi David menahannya. "Mas kok aku ditahan di sini?" tanya Sofia bingung.


"Just a minute." David menempelkan bibirnya ke bibir Sofia. Sofia tersentak kaget karena suaminya bukan hanya menempelkan bibir tapi juga me*lu*matanya dengan lembut. Sofia reflek melingkarkan tangannya ke leher sang suami. Dadanya naik turun karena sentuhan lembut David.

__ADS_1


Menginjak kehamilan yang ke tujuh belas minggu ini gairah bumil itu mudah naik hanya dengan sentuhan kecil suaminya. Dia pun terlena tanpa peduli suaminya melakukan sentuhan di tempat yang tidak semestinya.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan mereka. David dan Sofia melepas pagutannya. Jantung Sofia berdebar kencang ketika melihat orang lain memergoki aktivitas mereka.


"Kalian ini kenapa melakukannya di ruang praktek? Untung saja aku yang masuk," omel Safa.


"Ada apa, Kak? Kamu menggangguku saja," balas David tak terima.


"Papa mengundang kalian makan malam hari ini. Jangan lupa datang," ucap Safa memberi tahu keduanya.


"Oke, nanti aku akan ke sana. By the way ada acara apa?" tanya David penasaran.


Safa menggedikkan bahu. "Aku tidak tahu."


"Ya sudah, Mas aku keluar dulu. Mari, Dok." Sofia jelas tidak bisa menyembunyikan rasa malu di depan iparnya itu.


"Dave, jangan lakukan itu lagi. Ingat ini rumah sakit. Cari tempat lain jika ingin melakukan hal-hal mesum bersama istrimu." Safa memberikan peringatan. David menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Bu Fania ini hasil pemeriksaan anda dan obat yang harus anda konsumsi sampai habis. Lukanya dua hari sekali ganti perban ya, Bu. Bisa dilakukan sendiri di rumah. Nanti minta tolong saja sama suaminya," pesan seorang perawat yang mengunjungi Fania untuk terakhir kalinya.


"Baik, Sus."


Sesaat kemudian Fania keluar dari ruangannya. Dia membawa tas yang lumayan berat itu dengan tergopoh-gopoh. Sesaat kemudian seseorang mengambil alih tas itu. "Biar aku yang bawa."


Fania girang bukan kepalang melihat Leo datang menjemputnya. Namun, langkah Leo terlalu cepat hingga dia sulit untuk menyamakan langkahnya.


"Masuklah!" Leo membuka pintu mobil untuk wanita yang tengah hamil anaknya itu.


"Terima kasih, honey." Wajahnya kembali ceria mendapatkan perlakuan manis dari Leo. Sebenarnya Leo adalah orang yang tidak tega jika sudah berhadapan dengan wanita. Terbukti saat dia masih menjadi pasangan Sofia dia selalu memperlakukan Sofia bak ratu.


"Aku akan antar kamu ke apartemenku. Tinggallah di sana, mulai besok aku akan urus apa saja yang diperlukan untuk melangsungkan pernikahan."


Fania reflek merangkul lengan Leo. Namun, Leo bereaksi lain. Dia menepis tangan Fania. Fania mencoba bersabar. "Baiklah, apapun yang kamu lakukan aku tidak akan protes. Asal kamu tetap menikahiku, itu saja," ucap Fania. Walau ada rasa sakit di bagian dadanya tapi coba dia tahan agar dia tetap berada di sisi Leo.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen Leo mengajak Fania masuk. "Ayo aku tunjukkan kamarmu." Fania berjalan mengikuti langkah Leo. Tiba-tiba laki-laki itu berhenti mendadak hingga Fania menabrak dada bidang Leo. Wajah Fania merah karena malu.


Leo tak mengira Fania bisa semanis itu. Padahal saat berada di atas ranjang dia begitu liar. Leo menggeleng cepat untuk mengusir pikirannya. "Aku akan kembali bekerja. Kamu tinggal di sini sendirian karena kita belum menikah. Ini peganglah."


Leo memberikan sebuah ATM pada Fania. "Kamu bisa menggunakan itu untuk kebutuhanmu," ucap Leo. Fania merasa terharu. Belum jadi istrinya saja Leo sudah perhatian begini. Dia berharap Leo akan lebih menyayanginya.


"Terima kasih akan aku gunakan dengan baik," jawab Fania.


"Tutup pintu jangan bukakan pintu untuk orang lain. Aku sudah bawa kunci cadangan jadi tidak usah mengkhawatirkan aku. Oh ya satu lagi. Jangan menungguku pulang!"


Kata-kata terakhir yang diucapkan Leo sungguh sadis. Tapi Fania pasrah. Kini dia jadi lebih kalem selama hamil. Dia hanya bisa melihat punggung Leo saat berjalan pergi meninggalkannya.


Fania masuk ke dalam apartemen dan mengistirahatkan tubuh tubuhnya. Namun, sebelumnya dia tidak lupa meminum vitamin yang diresepkan oleh dokter. "Apa kamu baik-baik saja? Aku sudah tidak sabar menunggumu lahir ke dunia," tanya Fania pada janin yang ada di dalam perutnya. Dan bayinya bergerak merespon ucapan Fania.


♥️♥️♥️


Mampir ke karya baruku ya


MAHAR 10 MILIAR


Blurb :


"Siapa anda? Kenapa anda bersedia membayar hutang saya? Apa anda menginginkan rahim saya? Maaf saya tidak menjual rahim?" tuduh Fara pada Cello.


"Jangan drama, kamu pikir ini cerita novel? Aku tidak butuh rahimmu. Kamu hanya perlu menikah denganku," ucap Cello.


"Sama saja, bukankah tujuan orang menikah itu ingin memiliki anak. Apa anda dituduh impoten sehingga anda terpaksa menikahi gadis miskin seperti saya?" tuduh Fara dengan kejam.


Cello tertawa lantang. "Kamu tahu bagaimana itu impoten? Apa kamu mau bukti kalau aku ini laki-laki normal?"


Apakah Fara akan menerima tawaran menikah dari Cello?


__ADS_1


__ADS_2