
"April," panggil Erik.
Saat itu April sedang berjalan beriringan bersama Aksa, Diva dan lainnya. Mereka semua terkejut ketika melihat laki-laki paruh baya memanggil April.
Erik berlari lalu memeluk gadis itu. April jadi heran. "Ada apa ini, Om?" tanya April.
Fabian yang bergabung juga heran kenapa sang ayah malah menghampiri April yang bukan siapa-siapa. "Pa," panggil Fabian pada Erik.
"Fab, April ini adik kamu," ungkap Erik. Fabian dan April sama-sama bingung.
Erik memberikan surat hasil tes DNA yang dia bawa. Fabian kaget ketika membaca surat itu. "Tapi Pa..."
"April ini anak dari istri kedua papa." Erik memberikan penjelasan di depan teman-teman Fabian. Fabian jadi merasa malu. Dia pergi meninggalkan Erik dengan mengendarai motornya.
April juga pergi. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau di adalah anak dari Erik. Erik mengejar April. "April, papa mohon ikut papa pulang sekarang!"
April menghempaskan tangan Erik. "Aku anak Bu Dini bukan anak Om," elaknya.
"Pril, papa mohon dengar penjelasan papa dulu waktu itu..." Belum selesai Erik menjelaskan April berlari mengejar angkot.
Aksa segera menaiki mobilnya mengikuti angkot tersebut. Sedangkan Diva, Axel dan Imam hanya bisa diam dan bingung. Mereka tidak berhak turut campur jadi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Aksa kehilangan jejak angkot tersebut karena saat itu dia terjebak macet. "Sial." Dia memukul stir mobilnya. April menaiki angkot menuju ke makam ibunya. Untung saja dia masih punya uang cadangan walau sedikit cukup untuk membayar angkot.
Setelah membayar dia menuju ke akan ibu dan adiknya. Sang adik dikubur bersebelahan dengan makam ibunya. April menangis di pusara ibunya. "Apa kabar, Bu? April sangat merindukan ibu. Ibu tahu April sendirian Bu. Kenapa ibu malah meninggalkan April. April tidak tahu harus ke mana setelah ini, Bu. Rumah kita terbakar habis. April tidak punya uang."
__ADS_1
Cukup lama April menangis tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aksa sudah mengira kalau April ke makam ibunya. Dia membawa payung lalu berjalan mendekati kekasihnya itu. "April," panggil Aksa.
April mendongak. "Mas Aksa," panggilnya. Aksa berjongkok lalu dia mengangkat April. "Ayo kita pulang!"
"Pulang ke mana?" tanya April.
"Kita pulang ke rumahku," jawab Aksa di bawah hujan yang sangat lebat.
"Tidak, itu bukan tempatku. Aku tidak bisa selamanya tinggal di sana," tolak April.
Aksa menggenggam tangan April. "Kata siapa tidak bisa. Kalau masalah status menjadikan kamu ragu maka aku akan menikahi kamu."
April melotot tak percaya. "Mas Aksa."
"April ayo kita pulang dulu. Hujan ini akan membuat kamu sakit," bujuk Aksa. April akhirnya menurut. Aksa membawa April ke dalam mobil. Ketika berada di dalam, Aksa memberikan jaket agar gadis itu tidak kedinginan.
Sementara itu di tempat lain, Fabian bertanya pada ibunya tentang ayahnya yang menikah lagi. "Apa benar papa punya dua istri, Ma?" tanya Fabian.
"Fab, dari mana kamu tahu?" tanya Wanda.
"Papa sendiri yang bilang. Dia bilang kalau April adalah adikku yang lahir dari istri keduanya."
Wanda mengepalkan tangan. "Bagaimana bisa dia mengetahui kalau April itu anaknya? Padahal waktu itu aku sudah menyuruh orang memalsukan hasil tes itu."
"Papamu berkhianat pada mama. Dia menikah lagi tanpa izin dari mama." Apa yang dikatakan oleh Wanda memang benar tapi dia juga salah karena sengaja membuang April ketika baru lahir. Wanda tidak menceritakan hal itu pada putranya. Fabian jadi salah paham terhadap Erik.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan papa."
...***...
Erik mendatangi rumah David. Dia berharap April pulang ke rumahnya. Tak lama kemudian Aksa dan April pulang dalam keadaan basah kuyup. "April," panggil Sofia.
David dan Erik berjalan mendekat. "Kalian dari mana?" tanya David.
"Aku menyusul April ke makam ibunya, Yah," jawab Aksa.
"April, ikut papa pulang ke rumah ya," bujuk Erik.
April melihat ke arah Aksa. David yang tahu kalau gadis itu sedang bingung akhirnya buka suara. "April, Om Erik betul ayah kamu. Kamu hilang ketika kamu masih bayi. Om Erik sudah mencari kamu selama belasan tahun, itu artinya dia tidak menyayangi kamu."
"Pril kita ganti baju kamu dulu yuk! Nanti kamu sakit." Sofia mengajak gadis itu ke dalam kamar. April berjalan bersama Sofia menaiki tangga menuju kamar Lovely.
"Tante tunggu di luar ya." April mengangguk paham.
Aksa berniat memberikan April handuk. Namun, dia lupa mengetuk pintu sehingga dia membuka pintu kamar Lovely begitu saja. Aksa tak sengaja melihat April sedang membuka bajunya. Aksa mematung di tempat. Sedangkan April berteriak ketika melihat pacarnya sedang berdiri di ambang pintu. "Aaa..."
David, Sofia dan Erik naik ke atas ketika mendengar suara teriakan Apri. "Ada apa ini?" tanya David.
"Yah, aku akan bertanggung jawab." Ucapan Aksa membuat semua orang bertanya-tanya.
Erik seketika emosi. "Katakan! Apa yang kamu perbuat pada putriku?" tanya Erik seraya mencengkeram kerah baju pemuda itu.
__ADS_1
...♥️♥️♥️...
Segini dulu ya maaf belum bisa crazy up. Tapi aku usahakan up setiap hari meski 1 bab