Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Setahun kemudian


__ADS_3

Hari-hari berlalu semakin cepat. April sudah bisa menyesuaikan diri dengan keluarga barunya. Meski sesekali dia datang ke makam orang yang membesarkan dia selama ini. "Bu, aku datang lagi. Sudah setahun lebih ibu meninggalkan aku, semoga ibu dan adik selalu bahagia di sana." April meneteskan air mata setelah menyapa ibunya.


"Ini ambillah!" Aksa memberikan sapu tangan pada April. Hari ini dia dengan suka rela mengantarkan kekasihnya menemui sang ibu di pemakaman.


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Cuaca mendung sepertinya sebentar lagi mau turun hujan," usul Aksa. April mengangguk setuju.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Setelah itu Aksa mengantarkan April pulang ke rumah orang tuanya.


"Dari mana aja kalian?" tanya Fabian yang sedang menunggu kepulangan adiknya.


"Kami dari makam ibu," jawab April.


"Oh, kok nggak minta kakak aja yang mengantar?" tanya Fabian.


"Maaf, Kak. Mas Aksa nawarin duluan," jawab April. Aksa memang sudah hafal setiap tanggal tiga April selalu mengunjungi makam ibunya. Karena sang ibu pergi di tanggal itu.


"Ya sudah masuk sana! Mandi terus ganti baju kamu yang basah itu!" perintah Fabian. Namun, ketika dia melihat Aksa akan mengikuti April masuk, Fabian menghadangnya.


"Eits, mau ngapain?" tanya Fabian.


"Emangnya tamu nggak disuruh masuk? Dingin Fab di luar hujan lagi," ujar Aksa.


"Pulang, udah sore. Mandi sana! Bau," ledek Fabian seraya menutup bagian hidungnya.


Aksa mencium ketiaknya sendiri. "Ah, wangi. Ya udah besok pagi aku akan jemput April."


"Nggak boleh! April berangkat bareng aku," tegas Fabian.


"Ck, pelit amat. Jadi kakak jangan terlalu posesif. Nanti kamu susah jodoh." Aksa menyumpahi sahabatnya.

__ADS_1


"Sialan!" Fabian mengambil sandal lalu berpura-pura akan melempar ke arah Aksa. Sedangkan Aksa tertawa meledek.


Setelah kepergian Aksa, Fabian masuk ke dalam rumah. "Pril, kamu udah makan?" tanya Fabian.


"Masakin mi instan dong. Hujan-hujan gini enaknya makan yang anget-anget," perintah Fabian pada adiknya.


"Boleh, kakak mau pakai telor apa nggak?" tanya April seraya mengambil dua buah mi instan di laci dapur.


"Pakai, kasih sayur juga ya!" Fabian menambahkan perintah.


"Siap, Bos."


Sementara menunggu mi instan matang, Fabian menyalakan televisi. Sedangkan April sedang mengangkat panci yang panas.


"Wah bau apa ini enak sekali?" seru Erik ketika baru pulang kerja.


"Aku sedang masak mi instan. Kak Fabian yang minta, Pa. Apa papa mau aku buatkan juga?" tanya April. Tak tega menolak putrinya maka Erik pun bersedia. Walaupun sebenarnya dia anti makan makanan junkfood. Tapi demi melihat April tersenyum dia rela.


"Lalu kamu bagaimana?" tanya Erik.


"Nanti aku bisa buat lagi, Pa. Ini porsinya juga kebanyakan untukku." Erik mengangguk setuju.


Setelah itu mereka bertiga makan mi instan yang lengkap dengan telor dan sayuran segar buatan April. "Wah, perut papa jadi kekenyangan," kata Erik seraya mengusap perutnya beberapa kali.


April membereskan mangkuk bekas makanan. Sementara itu Erik bertanya pada Fabian. "Rencananya kamu akan kuliah di mana, Fab?" tanya Erik.


"Belum ada bayangan, Pa," jawab Fabian.


"Kenapa nggak ambil jurusan kedokteran aja kaya papa. Nanti papa bisa rekomendasikan kamu di rumah sakit tempat papa bekerja."

__ADS_1


"Bingung mau ambil jurusan apa, Pa," jawab Fabian.


Erik menepuk bahu putranya. "Kalau begitu pikirkan dulu baik-baik. Jurusan yang kamu ambil akan menentukan pekerjaanmu di masa depan." Setelah memberi nasehat pada anak sulungnya, laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu naik ke lantai atas.


Ketika Erik berjalan ke kamarnya, dia tak sengaja melihat putrinya sedang belajar dari celah pintu kamar April yang terbuka. "Papa bangga memiliki anak yang serajin kamu, Pril," gumam Erik melihat punggung April.


April sedang fokus belajar karena besok akan diadakan ulangan akhir semester. Dia akan naik ke kelas XII, sedangkan Fabian dan Aksa sudah menyelesaikan ujian akhir sekolahnya sebulan yang lalu. Mereka hanya perlu menunggu hasil ujian keluar.


Kalau Fabian belum ada bayangan mau kuliah di mana, berbeda dengan Aksa. Dia sudah menentukan mau kuliah di jurusan kedokteran jurusan ahli saraf. Aksa mantap meneruskan profesi turun menurun dari keluarganya. Hanya saja jurusan yang dia ambil berbeda dengan jurusan ayah dan ibunya.


"Kenapa mau jadi ahli saraf?" tanya David pada putra sulungnya.


"Soalnya masih jarang dokter yang bekerja di bidang itu, Yah. Aku pengen menambah dokter ahli di masa yang akan datang," jawab Aksa.


David menepuk bahu belakang putranya. "Baik, papa setuju. Kuliahlah yang serius. Kalau perlu ayah akan sekolahkan kamu di luar negeri." David berjanji pada putranya.


Aksa mengerutkan keningnya. "Tawaran yang menggiurkan tapi aku ingin berunding dengan April," jawab Aksa.


"Sayang, sekarang zaman sudah canggih. Kalau kamu kangen sama dia kalian bisa video call bukan?" sambung Sofia.


Aksa pikir ada benarnya juga perkataan ibunya itu. "Tapi rasanya pasti beda kalau ketemu langsung, Bu."


"Kuliah kedokteran di mana-mana memang lama. Apalagi kalau kamu ambil profesi," kata Sofia memberi tahu putranya.


"Tapi nanti kita long distance dong?" Aksa membayangkan ketika dirinya sedang video call.


"Ck, maunya nikah cepat ya sama April?" goda David. Dia tau kalau Aksa bucin pada April. Aksa mengangguk pelan.


"Aku mau berunding dulu sama calon istri," kata Aksa dengan santainya. David dan Sofia tak mempermasalahkan hal itu. Sejauh ini kedua muda mudi itu pacaran secara sehat.

__ADS_1


Apakah April akan menerima keputusan Aksa kuliah di luar negeri? Tunggu kelanjutannya


__ADS_2