
April belum keluar, Fabian menunggu di dalam mobil. Sepuluh menit kemudian dia melihat April sedang berjalan dengan sahabatnya. Pemuda itu pun turun dari mobil. "April," teriak Fabian memanggil adiknya.
April menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum ketika melihat sang kakak berlari ke arah dia. "Kak Fabian. Ke mana saja? Kenapa semalam nggak pulang?" cecar April.
Fabian enggan menjawab pertanyaan April. "Kita jalan-jalan yuk! Nanti aku traktir makan sepuasnya," bujuk Fabian.
"Pril, aku duluan ya. Kakakku udah jemput," sela Diva.
"Oh iya, Div. Hati-hati ya," pesan April.
Diva menghampiri seorang wanita cantik. Wanita itu tak lain adalah Lidia. "Kak, ayo buruan!" "seru Diva. Yang diajak ngomong malah melihat ke arah lain.
"Cowok itu kok ada di sini?" gumam Lidia sambil menghampiri Fabian. Dia menarik tangan Fabian ketika akan membuka pintu mobil. Fabian menoleh saat tangannya merasa ditarik oleh seseorang.
"Ganti rugi sekarang!" Lidia menengadahkan tangan.
"Heran. Kayaknya benar kata pepatah dunia hanya selebar daun kelor. Ganti ruginya bisa besok aja nggak? Ini mau jalan sama adik gue," tolak Fabian secara halus.
"Owh, ini adik lo." Lidia melirik ke arah April.
"Mbak siapa? Kenapa minta ganti rugi sama Kak Fabian?" tanya April dengan sopan pada wanita yang meletakkan kaca mata di atas kepalanya.
"Gue Lidia. Abang lo ini udah nabrak mobil gue sampai penyok. Tapi, dia hanya ngasih nomor telepon doang," protes Lidia sambil memicingkan mata ke arah Fabian.
Diva akhirnya menghampiri ketika kakaknya ribut dengan Fabian. "Kak, ini kakaknya teman aku. Kakak kenapa ribut sama dia?" tanya Diva.
"Tuh mobil kakak penyok bagian depannya gara-gara ditabrak sama cowok ini." Lidia mengadu pada Diva.
"Maafin Kak Fabian ya, Kak." Sesaat kemudian April menoleh pada kakaknya. "Kak Fab, ayo ajak dia ke bengkel. Kakak harus tanggung jawab karena kakak yang salah," perintah April pada Fabian.
"Tapi Pril..." Belum selesai Fabian berbicara April sudah menyela. "Aku nggak suka kakak jadi pria yang lari dari tanggung jawab," tegas April.
Bahu Fabian meluruh. Niatnya untuk mengajak April jalan-jalan akhirnya batal. Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Lalu Fabian mengajak Lidia mampir ke sebuah bengkel.
Fabian turun dari mobil setelah sampai di bengkel mobil yang tak lain milik sahabatnya sendiri, Axel. "Axel," panggil Fabian.
Axel memang menyukai otomotif sejak SMA. Dia berhasil mendirikan bengkel mobil yang lumayan besar setelah jalan dua tahun mengelola bengkel mobil. "Ada apa, Bro?" tanya Axel ketika melihat temannya datang.
"Hai, Kak," sapa April.
__ADS_1
"Hai, Pril. Kamu nggak sama Dafi?" tanya Axel.
"Nggak. Gue yang jemput dia," sela Fabian. Dia selalu kesal kalau mendengar nama Aksa disebut.
"Mas Aksa tidak bisa jemput aku karena dia ikut tes masuk perguruan tinggi hari ini," jawab April. Axel manggut-manggut.
"Semalam lo di mana? Dafi telepon gue," bisik Axel. Fabian terkejut.
"Terus lo bilang apa?" tanya Fabian. Belum sempat Axel menjawab Lidia lebih dulu menyela.
"Udah ngobrolnya?" Lidia menghampiri. Dia seperti obat nyamuk saja menyimak obrolan ketiga orang itu.
Axel menyenggol bahu Fabian. "Siapa dia, Fab?" tanya Axel yang penasaran dengan wajah asing Lidia.
Lidia mengulurkan tangan. "Kenalin, gue korban tabrakan Fabian." Exel terkejut ternyata gadis yang berdiri di hadapannya itu seorang wanita yang sangat percaya diri.
"Gue Axel, temannya Fabian sekaligus pemilik bengkel mobil ini," jawab Axel. Dia tak membalas uluran tangan Lidia karena tangannya penuh dengan oli. "Sorry tangan gue kotor."
"Jadi gue ke sini supaya elo perbaiki mobilnya," kata Fabian menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi bengkel Axel.
Axel melihat kerusakan mobil Lidia. "Oke, nggak terlalu parah. Nanti kalau udah jadi gue kabari. Boleh minta nomor teleponnya?" tanya Axel pada Lidia.
Lidia mengeluarkan ponsel lalu memberi tahu nomor teleponnya pada Axel. "Nomor telepon gue udah lo catat 'kan?" sela Fabian.
"Udah. Nulis nomor telepon di tangan bikin kotor aja tangan gue," jawab Lidia dengan ketus.
"Kak, kalau urusannya udah selesai kita pulang yuk! Aku capek nih," rengek Diva yang sejak tadi hanya menonton.
"Anterin gue pulang!" pinta Lidia pada Fabian.
"Idih ogah," tolak Fabian.
"Kak, anterin aja mobil mereka kan harus menginap di sini," saran April.
"Papa nyuruh kita langsung pulang, Dek."
"Bentar doang. Kasian mereka. Lagipula jalan ke rumah Diva bukannya searah ya," imbuh April. Lidia menahan senyum.
"Apa nggak ngerepotin, Pril." Diva merasa tidak enak pada sahabatnya.
__ADS_1
April tersenyum. "Ya nggak dong. Ya kan kak Fab?" April memiringkan kepalanya agar Fabian menjawab.
"Iya," jawab Fabian sambil mengerucutkan bibir.
"Kalau lo nggak mau sama dia kasih ke gue aja, Bro," ledek Axel sambil tertawa mengejek.
Fabian menoyor kepala Axel. "Ambil!" jawab Fabian sambil mengerucutkan bibir.
Setelah itu April, Lidia dan Diva masuk ke dalam mobil Fabian. Pemuda itu akan mengantarkan Lidia dan Diva sesuai permintaan April.
"Kak Lidia apakah masih kuliah?" tanya April memecah keheningan.
"Iya, naik semester lima," jawab Lidia.
"Owh, beda dua tahun sama Kak Fabian." Ucapan April membuat Fabian menoleh.
"Apa hubungannya sama kakak? Kamu ini ada-ada saja." Fabian mengacak rambut April. Lidia memperhatikan interaksi kakak adik itu.
"Kak, turun sini!" seru Diva. Fabian pun menghentikan mobilnya. Diva dan Lidia pun turun. Lidia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Diva menjadi tidak enak.
"Terima kasih banyak ya, Pril, Kak Fabian," ucap Diva merasa sungkan.
"Iya, sama-sama," jawab April. Setelah itu April dan Fabian meninggalkan halaman rumah Diva.
"Kakaknya Diva cantik ya, Kak," goda April.
"Nggak, biasa aja," jawab Fabian ketus. April menahan senyum.
"Semalam kakak ke mana?" Fabian bingung menjawab pertanyaan April. April tidak boleh tahu kalau semalam ria mabuk-mabukan sama Axel.
"Main sama Axel sampai lupa pulang," jawab Fabian dengan santainya.
"Bukannya semalam menginap di rumah Mama Wanda?" April menunggu jawaban kakaknya itu. Fabian mengangguk.
Bayangan saat ibunya berada di bawah kungkungan seorang pemuda kembali melintas di pikiran Fabian. "Aku pergi ke sana sebentar. Mulai sekarang aku tidak mau mendengar namanya disebut. Tolong jangan tanya alasannya karena itu akan membuat hatiku sakit."
April mengangguk setuju. Dia tak mau banyak bertanya. 'Sepertinya Kak Fabian dan Mama Wanda habis bertengkar,' pikir April.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1