Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Sepeda baru


__ADS_3

April pulang ke rumahnya menggunakan ojek. Dia pulang sekitar jam sembilan lewat seperti biasanya. "Assalamualaikum, Bu," April mengetuk pintu lalu sang ayah membukakan pintunya.


April menerobos masuk. "Anak kurang ajar, kenapa kamu tidak mencium tangan ayah?" bentak sang ayah.


"Tangan ayah bau alkohol," jawab April.


"Dasar anak kurang ajar. Sudah untung kamu tinggal di sini bersama kami kalau tidak kamu akan terlantar di jalanan."


"Apa maksud ayah?"


"Kamu itu cuma anak pungut. Ibumu menemukan kamu di bawah pohon pisang menangis sendirian," racaunya. Mata April berkaca-kaca ketika mendengar ucapan ayahnya itu.


"April jangan dengarkan dia," seru sang ibu. April pun masuk ke dalam kamar. April tidak tahu apakah perkataan ayahnya itu benar atau tidak.


"Dasar tukang mabuk. Seenaknya saja mengarang cerita," geram April. Dia mencoba berpikir positif. Tidak mungkin ibu yang melahirkannya adalah ibu angkatnya.


"Sadar, Pril ini bukan cerita novel yang sering kamu baca," gumam April seraya menatap langit-langit kamarnya yang penuh dengan sarang laba-laba.


"Lain kali aku akan membersihkan genteng itu," ucapnya kemudian. Setelah itu April memilih memejamkan matanya. Dia melepas lelah setelah bekerja seharian.


Keesokan harinya April bangun dengan badan segar. Dia mandi lalu mengajak Azriel untuk berangkat ke sekolah bareng dirinya. "Hari ini kakak terlihat senang sekali."


"Iya, alhamdulillah pengajuan beasiswa kurang mampu kakak diterima jadi kakak bisa nabung uang gaji kakak untuk biaya hidup kita," jawabnya.


"Alhamdulillah, kenapa aku tidak mendapatkan beasiswa kurang mampu juga ya? Ah nanti akan aku tanyakan pada wali kelasku," gumam Azriel.


Di tempat lain, Dokter David mengunjungi Dokter Erik yang merupakan sahabatnya di rumah sakit. Dokter Erik sedang memandangi foto istrinya yang sedang mengandung saat itu.


"Ehem." Dokter David memberikan kode agar Dokter Erik menyadari keberadaannya.


"Siapa dia?" tanya David. Karena dia tahu itu bukan wajah istrinya.


"Dia istri keduaku," jawab Erik.


"Apa? Selama ini kamu tidak pernah bercerita padaku?" protes David yang merasa dikhianati oleh sahabatnya.


"Dia sudah meninggal sesaat setelah melahirkan anak kami," jawab Erik dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anak kalian?" tanya David.


"Istri pertamaku membuang anak yang dilahirkan oleh istri keduaku. Dia tidak menerima anak itu karena dia anak hasil perselingkuhanku dengan wanita lain."


David tak menyangka sahabatnya itu memiliki kisah yang tak terduga. "Aku berdoa semoga anakmu bisa segera dipertemukan. Kira-kira berapa usia anakmu?" tanya David.


"Hampir enam belas tahun. Seharusnya aku bisa merayakan ulang tahunnya sebulan lagi."


David menepuk bahu temannya itu. "Berdoalah terus Allah pasti kasih jalan jika kamu tidak putus asa. Berdoalah juga untuk anakmu agar dia selalu diberi kebahagiaan di manapun dia berada," ucap David menasehati temannya.


Di sekolah jam istirahat pertama Nesya mendatangi April. "Gue udah beliin sepeda baru buat Lo, nih kuncinya ada di tempat parkir."


April hendak meraih kunci itu tapi Nesya menjauhkan tangannya. "Jauhi Dafi!"


April tersenyum miring. "Kalau berani bilang sendiri sama orangnya. Kira-kira dia mau nggak menjauhi aku?" tantang April.


Nesya membuang kunci itu tepat di selokan. "Ups, maaf. Ambil gih kuncinya," ledek Nesya.


Namun, seseorang lebih dulu mengambil kunci itu dari selokan. "Kamu mau ngasih yang ikhlas," sindir Aksa. Nesya tak menghiraukan Aksa dia memilih berlalu dari pada bertengkar dengannya.


"Diva kamu punya tisu basah nggak?" tanya April.


"Kak, pakai ini." Aksa meraih tisu basah pemberian April.


"Ini kunci sepeda baru kamu. Mulai besok kamu bisa hemat uang transportasi ke sekolah," ucapnya sambil tersenyum ke arah April. April membalas senyuman Aksa.


Semua teman April menjadi terkesima ketika melihat Aksa tersenyum. "Esnya sudah meleleh," ucap salah seorang siswi.


"Aku nggak kuat lihat senyumnya Dafi."


"Ya ampun cuma April yang bisa buat Dafi senyum."


Beragam komentar teman-teman April ketika melihat dua orang anak manusia itu yang sedang menatap satu sama lain.


Usai pulang sekolah April mengambil sepedanya. Namun, di saat yang bersamaan dia berpapasan dengan Fabian. "Kak," panggil April ketika Fabian hendak menghindar.


"Maaf, karena aku telah mempermalukan kakak di depan anak-anak lain. Apa kita tidak bisa berteman seperti dulu? Aku tidak punya banyak teman. Kakak salah satu orang yang peduli denganku. Aku akan sedih jika kehilangan teman sepertimu."

__ADS_1


Fabian mencibir. "Sebaiknya kita jaga jarak. Hatiku belum bisa tersambung setelah kamu patahkan," sindirnya.


April merasa sedih karena Fabian menolak niat baiknya. April pun mengendarai sepeda barunya ke tempat kerja. Meski jauh dia tetap bersemangat.


"Maaf, saya telat," ucap April ketika baru sampai.


"Kamu bawa sepeda ya Pril?" tanya Sofia.


"Iya, Bu. Hadiah dari taman saya," ungkapnya.


"Ya ampun baik sekali temannya. Apakah kamu sudah berterima kasih padanya?" tanya Sofia.


"Belum, tapi sepeda itu diberikan untuk mengganti sepeda lama saya yang dia rusak. Terima kasih sudah mengingatkan besok akan saya temui dia dan mengucapkan terima kasih," ucap April.


Sofia menyukai semangat April dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Setelah jam kerja selesai April menemui Sofia. "Ini gaji kamu di bulan pertama. Semoga kamu menggunakannya dengan baik." Sofia memberikan amplop coklat pada April.


Tangan April gemetar menerima uang yang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini. "Terima kasih banyak, Bu." Sofia mengangguk.


"Jangan boros ya Pril. Kalau bisa buat rekening agar kamu bisa menyimpan uangmu di bank."


"Tapi usia saya belum tujuh belas tahun, Bu."


"Coba nanti saya tanyakan pada pihak bank apakah usia tujuh belas tahun boleh membuat rekening bank atau tidak. Kalau kamu simpan di rumah saya takut ada yang mencuri."


"Benar sekali, Bu. Tangan bapak saya gatal seperti terkena ulat bulu jika tidak memegang uang," batin April.


"Saya pamit pulang, Bu. Sudah malam."


"Eh, saya antar ya." Sofia menawarkan tumpangan. April tidak berani menolak. Mereka pun naik dalam satu mobil.


"Oh ya, Pril. Kapan-kapan kamu mau main nggak ke rumah saya. Lovely nanyain kamu terus tuh. Saya melarangnya ke toko supaya dia tidak kecapekan."


"Baik, Bu. Nanti kalau libur kerja saya akan main ke tempat ibu," jawab April.


Tak lama kemudian mobil Sofia berhenti di depan gang menuju rumah April. "Terima kasih banyak buat hari ini, Bu. Saya beruntung punya atasan seperti Bu Sofia yang baik hati," puji April.


"Jangan berlebihan. Sudah sepantasnya kita saling membantu satu sama lain."

__ADS_1


Setelah itu April menurunkan sepedanya dari mobil Sofia. Kebetulan Nesya membelikan sepeda lipat untuk April jadi kuat di bagasi mobil.


__ADS_2