Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Antara Aksa dan Fabian


__ADS_3

Aksa turun dari mobil. "Ayo naik!" ajaknya pada April.


"Eh?" April terkejut dengan tawaran Aksa. "Aku lagi nunggu ojek," tolaknya.


"Ojek jam segini nggak ada yang lewat sini," kata Aksa menakut-nakuti.


"Masa?" tanya April tidak percaya.


Aksa melihat jam tangannya sudah lewat pukul sembilan malam. Dia pun menyeret April ke mobil. "Eh eh apaan nih?"


"Udah naik aja," kata Aksa memaksa. Aksa pun memutari mobil lalu menempati kursi kendali. "Rumah kamu di mana?" tanya Aksa. April masih diam karena bingung.


"Jangan takut aku nggak gigit. Kamu bisa hemat uang kamu kalau nebeng sama aku," kata Aksa meyakinkan. Setelah percaya April pun memberi tahu alamat rumahnya. Sepanjang jalan mereka sama sekali tidak bicara. April merasa canggung satu mobil dengan Aksa.


"Rumah aku masuk gang, jadi kamu berhenti saja di sini," ucapnya sebelum turun. Aksa pun mengehentikan mobilnya.


"Makasih buat tumpangannya dan sorry karena nggak sengaja nyiram baju kamu," ucap April sedikit menyesal. Aksa hanya mengangguk. Dia melajukan mobil setelah April turun.


Beberapa orang tetangga yang sedang berjaga di pos kamling membicarakan April. "Jangan-jangan dia kerja jadi pela*cur lagi jam segini baru pulang. Diantar pakai mobil lagi. Pasti dia simpanan om-om."


"Heh, April kan masih sekolah."


"Justru karena desakan ekonomi jadi dia cari jalan pintas," timpal pria lain.


April memasuki rumahnya dengan cara mengendap-endap. Dia tidak mau ayahnya terbangun lalu mengambil uangnya kembali. Dia merasa lega ketika dia bisa memasuki kamarnya. "Alhamdulillah, nggak ketahuan," gumam April.


Dok Dok dok


Pintu digedor dari luar. "April kamu baru pulang ya? Kasih bapak yang! Bapak mau keluar. April!"


Untung saja April mengunci pintu. Dia menutup telinganya menggunakan bantal agar dia bisa tidur malam ini. Tidak peduli bapaknya berteriak sekencang apapun dia tidak akan membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Keesokan harinya April bangun pagi-pagi sekali. Seperti biasa dia akan mengantarkan koran. "Kak, uang sekolahku bagaimana?" tanya Azriel ketika April akan berangkat.


"Kamu tenang aja nanti kakak langsung ke sekolah kamu buat bayar iuran sekolah. Kakak harus jual anting dulu baru bisa bayar uang sekolah, Dek. Kamu yang sabar ya. Kakak mau berangkat sebelum ketahuan bapak." April terlihat terburu-buru.


Biasanya dia masih memakai pakaian biasa ketika mengantarkan koran kali ini langsung pakai seragam. Dia akan langsung berangkat menggunakan sepedanya ke sekolah nanti. Hal itu dia lakukan agar tidak bertatap muka dengan ayahnya. April khawatir bapaknya akan mengambil uangnya kembali.


April bersepeda sambil menggunakan topi untuk menutupi rambutnya yang panjang agar tidak tergerai ketika terkena angin. Dari kejauhan Aksa melihat gadis yang dia kenal sedang bersepeda dengan santainya. Aksa pun mengikuti dari belakang. Dia menurunkan laju kendaraan yang dia tumpangi.


"Ini anak hidupnya nggak kaya ada beban. Tapi kenapa dia harus kerja pagi sampai malam? Kasian juga," gumam Aksa ketika melihat April dari belakang.


Sesaat kemudian April memasuki gerbang sekolah. Di saat yang bersamaan Fabian juga baru memarkirkan motornya. April menaruh sepedanya di samping motor Fabian. Fabian mengulas senyum lebar ketika melihat April turun dari sepeda.


"Eh, kamu lagi. Kenalan boleh dong?" Fabian mengulurkan tangannya. April membalasnya. Dia mau diajak berkenalan dengan Fabian karena kemaren Fabian telah membela dia di depan Aksa.


"Aku April," jawabnya memberi tahu namanya.


"Fabian, panggil aja Bian." April mengangguk setelah itu dia berusaha melepas tangannya tapi Fabian menahannya. April merasa tidak nyaman. Lalu datanglah Aksa. Dia yang melepas tangan Fabian.


"Yah, Daf kamu bikin kesempatan aku buat dekat dengan April gagal tahu nggak?" Fabian sedikit kesal.


Aksa hanya tersenyum. Dia merangkul leher Fabian. "Belajar yang bener. Pacaran mulu!" cibir Aksa.


"April," panggil Diva ketika sedang berjalan ke kelasnya. Lalu April pun menoleh.


"Semalam pulangnya gimana?" tanya Diva.


"Owh, ada yang nganterin," jawab April.


Diva tersenyum mendengar ucapan April. Lalu dia menyenggol bahunya. "Cie cie pacar kamu ya?" tebaknya.


"Bukan," jawab April. Dia sengaja berarti meninggalkan Diva dan masuk ke kelas lebih dulu.

__ADS_1


"Siapa Pril?" tanya Diva nafasnya terengah-engah karena ukuran badannya yang gembul menyebabkan dia kesulitan untuk berlari.


"Kepo. Udah ah. Kemaren ada PR nggak? Pinjam catatannya dong!" Diva pun mengeluarkan buku catatan miliknya.


Sementara itu ketika jam istirahat, Nesya menghampiri Aksa ke kelasnya. Mereka memang beda jurusan tapi Nesya yang negebet banget pacaran sama Aksa selalu mengejar-ngejar pemuda itu.


Nesya bersama dua orang yang selalu mengekori dirinya tiba-tiba mengusir siswa yang duduk di depan Aksa. "Kasih aku tempat duduk!" perintahnya pada siswa tersebut. Dia pun pergi sesuai perintah Aksa.


"Dafi, ke kantin bareng yuk! Aku traktir," ucapnya membujuk Aksa agar dia mau pergi ke kantin bersamanya.


Imam, Fabian, serta Axel yang mendengar kata traktir langsung merapat. "Kalau kamu mau traktir Dafi, kamu juga harus traktir kita. Soalnya di mana ada Dafi di situ harus ada kita bertiga. Iya nggak men?" Axel meminta dukungan pada Imam dan Fabian.


Imam dan Fabian mengangguk sedangkan Aksa menahan tawa karena teman-temannya berusaha memeras Nesya. Nesya merasa keberatan. "Idih, aku nggak mau sama kalian. Orang aku cuma mau ajak Dafi. Mau ya Daf?" tanyanya dengan nada lembut.


Sesaat kemudian Aksa melihat April sedang berjalan bersama Diva yang kebetulan lewat di depan kelasnya. "Sorry aku mau bareng sama dia," tunjuk Aksa pada April. Dia pun berjalan menyusul April.


Fabian merasa didahului. "Sial. Itukan gadis incaranku," gumamnya kesal lalu menyusul Aksa.


Imam dan Axel yang merasa ditinggal pun mengikuti Aksa dan Fabian. "Gila aja mereka ninggal kita. Nanti yang bayar makanan kantin siapa? Ya nggak?" Imam bertanya pada Axel.


"Dasar kere. Makanya besok-besok kerja kaya April biar bisa dapat uang saku," cibir Axel pada Imam.


"Eh, kok aku lihatnya kasian ya sama April. Kalau cewek seumuran dia pasti gengsi banget buat kerja. Tapi dia tuh keren banget mau bantu ortunya nyari duit," puji Imam. "Cewek sholekah pantes buat calon istri," gumam Imam sambil membayangkan wajah April.


Axel yang bergidik ngeri malah meraup muka Imam. "Jangan bikin persahabatan kita hancur gara-gara cewek doang. Liat tuh Dafi sama Fabian rebutan jalan ke kantin bareng April," tunjuk Axel pada kedua temannya.


Siapa yang akan dipilih oleh April?


♥️♥️♥️


__ADS_1


__ADS_2