Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Baper


__ADS_3

Sofia berjalan menuju ke ruang prakteknya. Kali ini dia tak lagi memakai cadar. Menurutnya cadar yang dia kenakan bukan atas kemauan dari hati melainkan karena ingin menghindari David. Baginya dia belum pantas mengenakan itu. Lagi pula dia tidak mau dianggap menutup diri.


Saat Sofia melihat David dari kejauhan Sofia sudah mengira kalau laki-laki itu pasti akan kembali mendekatinya. Kali ini Sofia lebih dulu memberi salam. "Assalamualaikum, Dok."


David tertegun sejenak. "Ada angin apa sampai anda mengucapkan salam terlebih dulu?" tanya David tanpa menjawab salam Sofia.


Sofia menghentikan langkahnya. "Apabila ada seseorang yang memberikan salam hendaklah menjawabnya."


David tersenyum kikuk. "Waalaikumsalam Dokter Sofia yang cantik," goda David. Dilihat dari sisi manapun wajah Sofia tidak membosankan. Hidung mancung dan kulit putih bersih bak susu membuat pemilik wajah tersebut banyak digilai para lelaki. Sayangnya Sofia tidak pernah merespon mereka. Hanya pada Leo saat itu dia menjatuhkan hati.


"Maaf, kemaren saya sudah bersikap kasar pada Dokter," ucap Sofia.


"Sikap yang mana?" David pura-pura lupa.


Sofia tersenyum. "Syukurlah kalau anda melupakannya. Oh ya ini uang untuk mengganti biaya bengkel mobil saya." Sofia menyerahkan sejumlah uang yang dikemas di dalam amplop berwarna coklat.


David tak mengambil uang itu. "Saya mohon ambillah agar saya tidak berhutang pada Dokter." Sofia menggoyangkan amplop yang dia pegang agar David segera mengambilnya.


"Saya tidak kekurangan uang, Dok," tolak David.


"Baiklah, kalau dokter tidak mau mengambilnya, saya akan menyumbangkan uang ini ke panti asuhan. Tapi saya tetap anggap saya tidak berhutang lagi pada anda." Sofia sudah mengira kalau David akan menolak uang pemberiannya.


"Baiklah." David tersenyum simpul. Setelah itu seorang perawat memanggil David ke ruang UGD karena pasien yang baru masuk merupakan ibu hamil.


"Ceritakan kondisinya!" Perintah David pada salah seorang perawat yang bertugas.


Jantung Sofia berdebar ketika melihat David yang bersikap serius saat menangani pasiennya. Sofia mengulas senyum tipis. Setelah itu dia menuju ke ruangannya.


Usai menyelesaikan prakteknya hari ini, Sofia menuju ke kantin rumah sakit. Dia tidak punya banyak teman jadi dia ke kantin sendirian. "Tolong lemon tea satu." David menyela pesanan Sofia.


Setelah itu dia tersenyum ke arah Sofia. "Benarkan itu pesanan anda?" Sofia mengangguk. "Dari mana anda tahu?"


"Kenapa? Saya selalu memperhatikan dokter selama ini, jadi saya tahu apa yang anda pesan setiap ke kantin."

__ADS_1


Hati Sofia berdesir ketika David terang-terangan menyatakan kalau dia mengamati Sofia selama ini. Antara senang dan malu mendapatkan perlakuan dari seseorang. Tapi lebih ke malu karena mereka tidak terikat dalam hubungan apapun.


"Apa anda selalu menggombal pada setiap wanita yang anda dekati?" tanya Sofia asal


"Sayangnya saya hanya mengeluarkan kata-kata manis saya untuk anda."


Wajah Sofia memerah karena malu. "Ada apa dengan laki-laki ini. Oh Sofia jangan sampai kamu termakan bujuk rayu laki-laki. Jangan sampai meleleh duluan seperti es krim yang dikeluarkan dari kulkas," batin Sofia meronta.


Sofia cepat-cepat mengambil gelas yang disuguhkan oleh penjual yang ada di kantin itu. Tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan David. Sofia terlonjak kaget. Sedangkan David tersenyum senang. Sofia cepat-cepat menarik tangannya.


"Dok, bukankah ini minuman saya?" tanya Sofia.


"Apa anda tadi memesan Dokter?" Ah benar juga David memesan lebih dulu. Sofia mengira kalau David memesan minuman itu untuknya. "Maaf saya kira minuman itu untuk saya," ucap wanita berhijab itu merasa tidak enak.


David mendorong gelas itu pada Sofia. "Untuk anda."


"Apa maksudnya laki-laki ini? Tadi mengakui minumannya sekarang memberikannya untukku," batin Sofia bingung. Tak mau ambil pusing dia pun mengambil minuman itu. Setelah itu duduk di kursi yang kosong. David juga memesan minuman yang sama lalu ikut duduk di samping Sofia.


"Kenapa selalu memesan lemon tea?" tanya David penasaran.


"Rasanya terlalu asam," jawab David setelah mencicipi rasanya.


"Seperti rasa lemon tea ini, hidup itu tidak melulu manis dan pahit kadang perlu merasakan asam agar tidak monoton," ucap Sofia sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Bagaimana kalau saya menjanjikan kehidupan yang manis?" tawar David.


"Uhuk-uhuk," Sofia tersedak mendengar ucapan David. Sofia mengedarkan pandangannya. Saat melihat adik iparnya dia memanggil. "Dokter Safa, tunggu saya!"


"Maaf, Dok. Saya ada perlu dengan Dokter Safa," pamit Sofia terburu-buru tapi karena tak hati-hati kaki Sofia tersandung kursi. Beruntung David menangkap tubuh Sofia sehingga dia tak sampai jatuh ke lantai.


Sejenak pandangan mereka bertemu. Jantung David maupun Sofia berdegup kencang. Mereka sama-sama gugup satu sama lain. Sofia cepat-cepat melepas pegangan tangan David setelah itu berjalan ke arah Safa.


"Anda tidak apa-apa, Dok?" tanya Safa. Sofia menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


Sementara itu Leo mencari tahu apakah benar Sofia mengetahui perselingkuhannya. Dia curiga karena Sofia memutuskan hubungan sehari setelah dia berhubungan Fania.


Leo pergi ke bagian keamanan yang ada di gedung apartemen yang dia tinggali. Dengan mengandalkan uang semuanya bisa dia dapatkan dengan mudah.


Benar saja Leo melihat Sofia masuk ke apartemennya tanpa sepengetahuan dirinya waktu itu. Setelah itu dia memberikan kue dan bunga yang dia bawa pada OB. "Assial." Leo menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi.


Tidak disangka kebohongannya selama ini ketahuan oleh Sofia di hari ulang tahunnya sendiri. Dan sebagai hadiahnya Sofia memutuskan hubungan secara sepihak.


"Aku harus bertemu dengan Sofia. Aku harus meminta maaf padanya," gumam Leo berjalan menuju ke tempat parkir.


Leo melajukan mobil dengan kecepatan tinggi untuk menemui Sofia.


Sementara itu, Sofia ingin langsung pulang setelah praktek hari ini. Dia sangat capek mendengarkan curhatan para pasiennya dengan masalah yang berbeda-beda.


Tapi dia ingat untuk mampir ke sebuah panti asuhan untuk menyerahkan uang yang seharusnya diberikan pada David. Akhirnya Sofia mengendarai mobilnya ke panti asuhan yang terdekat dari lokasi tempat kerjanya.


Ketika berada di jalan, mobil Leo bersimpangan dengan mobil Sofia. Leo pun memutar balik kemudi mobilnya untuk mengikuti Sofia.


Leo menambah kecepatan mobilnya lalu menghadang mobil Sofia. Sofia mengerem mobilnya secara mendadak saat sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya.


"Astaghfirullah." Dia mengenali pemilik mobil itu. "Itu kan mobilnya mas Leo?" Gumam Sofia lirih. Seperti dugaannya Leo keluar dari mobil mengenakan kacamata hitamnya.


Tok tok tok


Leo mengetuk kaca mobil Sofia. Lalu wanita itu membuka separuh jendela mobilnya. Tapi tanpa diduga tangan Leo menerobos ke dalam. Dia membuka kunci pintu mobil Sofia. Setelah itu Leo menarik tangan Sofia.


"Mas, aku mau dibawa ke mana?" Sofia menahan langkahnya tapi tenaganya tak sekuat Leo.


"Kita perlu bicara Sofia," ujar laki-laki itu tanpa menoleh.


Sofia membuang tangan Leo dengan kasar. "Tidak ada lagi pembicaraan di antara kita Mas." Leo menoleh.


"Maafkan aku," ucapnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


Apakah Sofia akan luluh pada Leo?


__ADS_2