Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Dara menyesal


__ADS_3

Sofia menarik tangan Dara. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian di rumah sakit itu. Namun, Dara menolak mengikutinya.


"Aku sudah tahu niat kamu mendekati suamiku. Bagaimana kalau kakek kamu tahu? Apa dia bisa melihat cucunya menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain?" tanya Sofia.


Dara tersenyum sinis. "Kakek sudah lama tahu kalau aku ke kota untuk mencari Mas David," tantang Dara.


Sofia menggelengkan kepalanya. "Apa kamu pikir dia baik-baik saja selama ini? Asal kamu tahu tanpa kamu ketahui dia memendam rasa malunya memiliki cucu seperti kamu," tunjuk Sofia.


Dara tidak mengerti omongan Sofia. Dia pun tidak membalas. "Dengar ya Sofia aku akan mengejar suamimu sampai dia bertekuk lutut padaku," tantang Dara.


"Aku tidak akan menduakan istriku," kata David. Dia menyusul istrinya kembali setelah menitipkan anaknya pada sang kakak. Kebetulan Safa masih bertugas di rumah sakit itu.


"Selama ini aku diam saja karena aku tidak ingin menegurmu secara langsung. Tapi hari ini aku muak melihat sikap kamu yang keterlaluan. Bahkan kamu berani mengancam istriku terang-terangan. Dara dengarkan aku. Sampai kapan pun aku tidak akan berpaling ke wanita lain," ucap David dengan tegas.


Setelah mengatakan itu pada Dara dia mengajak istrinya pergi meninggalkan gairah itu. Dara menangis tersedu-sedu karena dia kalah telak. David secara terang-terangan menolak dia di depan istrinya.


"Hatiku sakit sekali," ucapnya sambil meremat baju yang dia kenakan.


Sofia bangga memiliki suami seperti David. "Terima kasih Mas."


"Sudah seharusnya aku bersikap tegas padanya. Maaf karena kau telah membuat kamu marah." Dia mencium tangan istrinya.


"Aku lega karena bisa melampiaskan kemarahanku tapi aku minta maaf seharusnya kamu tidak perlu melihat aku marah-marah seperti itu."


"Sudahlah. Mari kita susul Aksa. Dia pasti terkejut melihat kamu menampar Dara tadi." Sofia mengangguk patuh.


Mereka pun menghampiri anaknya yang sedang bersama Safa. Safa meninggalkan Aksa pada orang tuanya. "Aku balik dulu ya," pamit Safa.


"Makasih, Kak," ucap David. Safa mengangguk.


"Mas Aksa kita pulang yuk!" ajak Sofia pada anaknya.


Aksa menatap ibunya nanar. "Kenapa ibu menampar Bu Dara?" tanya Aksa pada ibunya.


"Maafkan ibu ya sayang. Ibu hanya memberi peringatan pada Bu Dara karena sikapnya kurang sopan. Tapi Mas Aksa tidak boleh meniru apa yang ibu lakukan pada Bu Dara."

__ADS_1


"Kenapa Bu?"


"Karena sikap ibu tadi tidak patut dicontoh. Besok ibu akan meminta maaf pada Bu Dara." Ucapan Sofia membuat Aksa tak membahasnya lagi.


David pun menggendong anaknya hingga ke mobil. Mereka akan pulang ke rumah.


Sementara itu Dara masih menangis di depan ruang rawat kakeknya. Dia merenungkan kesalahannya. "Aku memang sudah keterlaluan. Selama delapan tahun aku hanya memenuhi obsesiku belaka," gumam Dara sambil menangis.


Ketika sampai di rumah, Sofia mendapatkan telepon dari Jino. "Assalamualaikum Bu Sofia. Ini saya Jino."


"Owh iya Mas Jino ada apa?" tanya Sofia.


"Saya akan ke kota, bisa kirimkan alamat rumah sakit tempat kakek di rawat?"


"Oh, iya Mas. Nanti saya kirim lewat pesan ya," jawab Sofia kemudian menutup telepon. Dia menulis alamat rumah sakit kemudian mengirimnya pada Jino.


"Siapa yang telepon Yang?" tanya David.


"Mas Jino dia minta alamat rumah sakit tempat kakek dirawat," jawab Sofia.


"Aku sengaja memberinya nomor teleponku agar keluarga di kampung bisa menghubungiku jika mereka meminta alamat. Dan benar kan dugaanku." Sofia berbohong pada suaminya agar David tidak curiga kalau sebenarnya dia ingin Jino menyusul Dara.


Keesokan harinya, Dara menyerahkan surat pengunduran diri kepada Martha selaku kepala sekolah di tempat dia mengajar.


"Lho kenapa kamu tiba-tiba berhenti? Apa gajinya kurang?" tanya Martha terkejut.


"Tidak, Bu. Saya hanya fokus merawat kakek saya yang ada di rumah sakit," kata Dara.


"Lho kamu kan bisa mengandalkan perawat di sana. Setelah pulang kerja baru mengunjungi kakekmu di sana. Pasti tidak akan lama bukan di rumah sakit? Apa kamu rela menganggur?" bujuk Martha.


"Maaf Bu, ini sudah jadi keputusan saya." Martha pun tidak bisa menolak keinginan Dara. Gadis itu kembali ke rumah sakit.


Sementara itu, Sofia sengaja datang menjemput anaknya sekaligus meminta maaf pada Dara karena telah menamparnya kemaren. "Ma, Dara tidak masuk ya hari ini?" tanya Sofia.


"Bu Dara maksud kamu? Kenapa Sof? Apa ada urusan dengannya?" tanya Martha. Wanita itu tidak tahu kalau Dara pernah menggoda anak dari suaminya.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku hanya ingin meminta maaf karena aku bersikap tidak sopan kemaren," ungkap Sofia.


"Kemaren? Bukankah dia pulang kampung?" tanya Martha.


"Ya sudah, Ma. Aku bawa Aksa pulang dulu," kata Sofia dia sebenarnya bingung dari mana dia menceritakan masalahnya dengan Dara. Jadi Sofia berpikir untuk pulang saja.


Namun, dia ingat kalau hari ini Jino akan datang ke rumah sakit. "Apa Dara sedang di rumah sakit?" batin Sofia. Dia ingin menyusul ke sana tapi kasian anaknya yang baru pulang sekolah.


"Mas Aksa capek ya?" tanya Sofia pada putranya.


Aksa mengangguk. "Tadi ikut lomba lari makanya kaki Aksa capek banget," ungkapnya menceritakan kegiatannya di sekolah.


"Ya sudah kita langsung pulang ya," usul Sofia. Aksa mengangguk setuju.


Sementara itu Jino sampai di rumah sakit. Dia datang sendiri karena ada yang ingin dia sampaikan pada Dara. Kali ini dia bertekad pada dirinya sendiri jika Dara menolaknya maka Jino akan mundur karena sudah lama dia mengharapkan cinta Dara akan tetapi gadis itu tak kunjung memberikan harapan.


Dia menanyakan ruangan kakek Firman di rawat pada resepsionis. Setelah mengetahui kamar kakeknya Dara, Jino menuju ke sana. Laki-laki itu melihat Fara sedang duduk seorang diri di kursi yang disediakan oleh rumah sakit.


"Dara," panggil Jino dengan lembut.


Dara mendongak. "Jino." Gadis itu jelas terkejut mendapati Jino ada di depannya saat ini. Dara pun berdiri.


"Aku datang untuk menjenguk kakek," kata Jino.


"Dia ada di dalam. Apa kamu mau masuk?" tanya Dara. Jino pun mengangguk pelan. Jujur saat ini jantungnya berdegup kencang. Untuk mengurangi kegugupannya dia pun menyesuaikan diri terlebih dulu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Jino ketika melihat Kakek Firman tertidur.


"Aku belum tahu. Dokter yang merawatnya belum datang," jawab Dara.


"Dara, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu." Jino mengambil kesempatan ketika dia mulai bisa menguasai diri.


Dara mengerutkan keningnya. Jujur dia takut Jino mengungkapkan perasaannya lagi. "Aku masih mencintaimu hingga saat ini. Apa kamu akan menolakku lagi?" tanya Jino.


...🍒🍒🍒...

__ADS_1



__ADS_2