
"Nona Wina ada yang ingin bertemu dengan anda," kata seorang laki-laki berjas hitam.
Wina dengan ragu mendekati mobil yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Silakan masuk nona," kata laki-laki asing tersebut.
"Siapa anda?" tanya Wina takut.
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Saya ingin menawarkan banyak uang untukmu asal kau mau mengikuti perintahku," ucap Beni memberi tahu.
Saat ini Wina memerlukan uang untuk biaya pembangunan rumah barunya. Dia tidak berpikir panjang, Wina langsung mengiyakan permintaan Beni.
"Buatlah kesalahan lalu limpahkan kesalahan itu pada David."
Wina terkejut ketika laki-laki itu menyebut nama atasannya. "Kenapa saya harus menjebak Dokter David?"
"Jangan tanya alasan karena aku tidak akan menyebutnya di depanmu. Lakukan sesuai perintahku maka kamu akan mendapatkan bayaran yang sesuai."
Beni memberikan sebuah amplop berisi uang. "Itu sebagai DP agar kamu mau melakukan perintahku. Jika kamu bisa membuat David masuk jeruji penjara maka aku akan membayar tiga kali lipat dari bayaran yang aku berikan sekarang."
Wina tergiur dengan tawaran uang banyak yang dijanjikan Beni. Dia pun mengangguk patuh. "Anda tidak perlu ragu," kata Wina sambil menyeringai licik.
Wina yang biasa menjadi asisten David hari ini merencanakan untuk menjebak David. Kebetulan mereka sedang menangani pasien hamil yang akan melahirkan. Namun, wanita itu mengamuk ketika merasakan sakit saat kontraksi.
"Dok bagaimana kalau kita beri obat penenang?" usul Wina.
"Periksa dulu apakah ada gangguan jantung atau tidak. Akan sangat berbahaya jika saat kontraksi dia diberi obat penenang. Sebaiknya biarkan dia meronta karena itu efek dari rasa sakit akibat kontraksi," jawab David.
"Baik, Dok."
Wina memeriksa riwayat jantung pada pasien tersebut. "Ini sempurna," gumamnya lirih ketika melihat hasil tes ternyata dia memiliki riwayat jantung lemah.
__ADS_1
Diam-diam Wina menyuntikkan obat penenang tanpa sepengetahuan David. Dia segera menyembunyikan alat suntik itu setelah melakukannya.
Ketika proses melahirkan wanita itu pingsan dan tak lama kemudian dia tak lagi bernafas. David merasa frustasi ketika pasiennya tak tertolong. Pihak rumah sakit memberikan kabar kematian pada keluarga pasien itu. Namun, pihak keluarga tidak terima. Mereka melaporkan David ke pihak yang berwajib. David dituduh melakukan malapraktik.
"Tapi saya tidak melakukannya," teriak David ketika tangannya diseret polisi dengan kasar.
"Ada apa ini?" tanya Yudha yang melihat anaknya akan digelandang polisi.
"Saudara David dituduh melakukan malapraktik hingga menyebabkan pasiennya meninggal," lapor polisi yang akan membawanya.
"Tidak, Pa. Aku tidak melakukan hal sehina itu." David berharap ayahnya akan percaya.
Yudha menghela nafas berat. "Kamu tenanglah! Papa akan selidiki semua ini demi kamu," kata Yudha menenangkan.
David pasrah ketika polisi membawanya. Percuma dia mengelak saat ini karena dia tidak punya bukti yang kuat. Rumah sakit terlihat kacau saat itu. Safa pun menyaksikan adiknya dibawa ke kantor polisi.
Sofia menjemput Aksa terlebih dulu setelah itu dia menyusul suaminya ke rumah tahanan. "Mas, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sofia sambil menangis. Dia tidak tega melihat David diborgol seperti itu.
David menggenggam tangan istrinya. "Tenanglah sayang. Semua ini akan berlalu karena aku tidak bersalah. Semua pasti ada solusinya."
David menatap Aksa. "Mas Aksa tolong jagain ibu ya selama ayah tidak pulang," pesan David pada anak sulungnya. Aksa mengangguk patuh. Dia sudah mengerti mengenai apa yang terjadi pada ayahnya. Meskipun begitu Aksa tidak yakin kalau ayahnya bersalah.
"Maaf waktu kunjungan sudah selesai," seru petugas lapas yang berdiri di sana.
"Pulanglah sayang. Bukankah kamu sedang sakit? Istirahat dan jangan lupa meminum obat," pesan David sebelum kembali ke dalam sel tahanan.
Sofia dan Aksa menangis melihat kepergian laki-laki yang mereka cintai. Setelah itu Sofia dan Aksa pulang ke rumah. "Mas Aksa harus doain ayah supaya ayah cepat bebas," pesan Sofia pada anaknya.
"Ayah salah apa, Bu? Kenapa mereka menangkap ayah?" tanya Aksa ingin tahu.
__ADS_1
"Mas Aksa masih kecil. Kalau ibu menjelaskan Mas Aksa belum mengerti, yang penting ingat pesan ibu kalau ayah tidak bersalah. Kebenaran pasti berpihak pada ayah. Jangan khawatir lagi Mas Aksa."
Sofia mencoba menenangkan putranya. Sejujurnya dia ingin menangis sejadi-jadinya tapi Sofia menahan diri di depan putranya. Jika dia bersedih maka Aksa juga akan melakukan hal yang sama. Dia tidak mau putranya menjadi stress dan terbebani.
Berita yang memuat tuduhan malapraktik yang dialami David pun viral di media sosial dan televisi. Teman-teman Aksa menyaksikan berita itu karena rata-rata mereka memakai gadget.
Ketika di sekolah Aksa menjadi bulan-bulanan temannya. Padahal sebelumnya mereka sangat menyukai Aksa. Tapi kali ini mereka mengejek dan menghina anak berusia delapan tahun itu.
"Katanya ayah kamu dipenjara ya?" ledek salah satu temannya. Padahal pagi itu Aksa baru saja sampai di sekolah.
"Dengar-dengar ayahnya membunuh orang," tambah anak lain.
Aksa tidak tahan dengan hinaan mereka. Dia pun memukul temannya hingga terjatuh. Anak itu mengadu pada gurunya. "Aksa, kenapa memukul teman kamu?" tanya Martha yang saat itu mengintrogasi cucunya.
Aksa dibawa ke ruang kepala sekolah agar dia dihukum setelah memukul temannya sendiri. "Mereka menghina ayahku. Ayahku bukan pembunuh. Ayah difitnah," teriak Aksa sambil menangis.
Martha yang tak tega melihat cucunya itu langsung memeluk Aksa. Tapi dia juga tidak boleh berat sebelah. Aksa tetap dihukum dia diskors selama dua hari. Itu dilakukan agar Aksa lebih tenang dan jauh dari hinaan teman-temannya.
Martha mengantar cucunya pulang ke rumah Sofia. "Maaf aku harus menghukum anakmu karena dia terbukti memukul temannya hingga babak belur," kata Martha memberi tahu.
Sofia tidak menyangka kalau putranya akan terkena imbas dari kasus yang mengandung suaminya itu. "Biarkan dia di rumah selama dua hari. Aku juga memikirkan perasaannya," ungkap Martha.
"Iya, aku paham. Terima kasih sudah mengantar putraku."
Martha pamit pulang. Setelah itu Sofia mengajak putranya masuk ke dalam. "Mas Aksa pasti lapar, ganti baju terus makan siang. Ibu sudah masak spesial buat Mas Aksa."
Aksa tiba-tiba memeluk ibunya sambil menangis. "Bu, jelaskan padaku kenapa ayah dipenjara? Apa dia membunuh orang seperti yang dikatakan oleh teman-temanku?" tanya Aksa sambil mendongak.
Sofia bingung bagaimana menjelaskan duduk permasalahan yang dihadapi suaminya pada anaknya itu. Sofia berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Aksa. "Mas Aksa tidak perlu merisaukan masalah yang menimpa Ayah. Yakinlah kalau Ayah tidak melakukan hal itu. Ingat untuk selalu mendoakan Ayah, hm," ucap Sofia menasehati anaknya dengan lembut.
__ADS_1