
Sofia bukan gadis yang tidak punya pendirian. Memilih Adam meskipun karena terpaksa adalah caranya berbakti pada ayahnya. Dia akan mengutamakan perasaan ayahnya ketimbang perasaanya sendiri. Karena dia bukan tipe wanita yang egois dan pembangkang.
Tapi bagaimana dengan perasaan David? Jelas-jelas laki-laki itu menunjukkan ketertarikannya pada Sofia tapi Sofia enggan untuk menjawab. Awalnya dia mengira David hanya becanda karena dia tipe orang yang humoris. Tapi seiring berjalannya waktu Sofia dapat melihat keseriusan di wajahnya. Namun, dia harus mempertimbangkan kembali mengingat status pernikahan adiknya dengan kakak David. Dia tidak ingin ayahnya kembali menentang hubungan asmara anaknya seperti yang dulu dilakukan pada Zidan meskipun alasannya berbeda.
Karena memikirkan itu semua, Sofia merasa pusing hingga dia demam tapi memaksakan masuk. Pada akhirnya dia tumbang di pangkuan David.
"Sofia," panggil Adam dari kejauhan.
Dahi David tentu berkerut. Bagaimana bisa laki-laki yang baru saja diterima Sofia sebagai kekasihnya itu datang di saat yang tepat.
"Anda siapa?" tanya Adam pada David. Pertanyaan itu membuyarkan lamunan David.
"Saya teman kerja Dokter Sofia," jawab David. Tentu tidak etis kalau dia menjawab kalau dia adalah laki-laki yang juga menyukai wanita yang sedang pingsan di pangkuannya itu.
"Biar saya saja yang angkat dia." Adam meminta izin pada David dengan sopan.
Dalam satu hentakan Adam mengangkat tubuh Sofia bermaksud untuk membawanya ke ruang rawat. "Dokter kenapa anda dia saja? Tunjukkan di mana saya harus meletakkan kekasih saya ini agar bisa diperiksa."
"Cih, kekasih," cibir David dalam hati.
"Mari saya tunjukkan," ucapnya dengan datar. David berjalan lebih dulu dibandingkan Adam.
Sesampainya di ruang perawatan, David memberi tahu pada dokter yang bertugas di sana untuk memeriksa Sofia. "Lho bukan anda yang akan memeriksanya?" tanya Adam.
"Bukan, saya dokter kandungan," jawab David menyebutkan bidang yang dia geluti. David hendak keluar tapi Adam mencegahnya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Dok." David mengangguk. Namun, Adam tak selesai sampai situ, dia mengulurkan tangan. "Nama saya Adam, kekasih Dokter Sofia," ucapnya memperkenalkan diri.
David sebenarnya enggan membalas uluran tangan laki-laki itu. Tapi dia pasti akan curiga dan mengira David sombong. Maka dari itu, David membalas uluran tangan Adam secara singkat. "Saya David," balasnya. David pura-pura melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya permisi karena ada jadwal praktek sebentar lagi." Adam mengangguk paham.
Ada rasa sakit yang tertinggal di dadanya ketika melihat Adam menemani Sofia. Tapi David menahan diri. "Untuk sementara aku akan membiarkanmu menemani jodohku tapi pada saatnya aku akan mengambilnya kembali," gumam David tersenyum menyeringai.
Tak lama kemudian Sofia tersadar. "Mas Adam? Kenapa bisa di sini?" tanya Sofia saat dia baru membuka mata.
Adam tersenyum. "Aku dapat telepon dari Om Julian kalau kamu sedang sakit, jadi aku mencemaskanmu."
Ucapan Adam tidak membuat wanita itu terkejut. Ayahnya sudah pasti ingin melihat dirinya dan Adam selalu dekat. "Entah aku harus senang karena ada yang memperhatikan aku ataukah sedih karena orang yang memperhatikanku bukan orang yang aku harapkan," batin Sofia hingga terasa sesak di dadanya.
Sofia menurunkan kakinya. "Aku sudah tidak apa-apa, Mas Adam bisa tinggalkan aku."
"Tapi bagaimana kalau kamu pingsan lagi?" Adam jelas mencemaskan keadaan Sofia.
"Baiklah, hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu?" Sofia mengangguk paham. Adam meninggalkan Sofia dengan berat hati.
David yang pagi itu sedang visit ke ruangan pasien bersama asistennya tak sengaja berpapasan dengan Adam. David mengangguk pada Adam. Adam membalasnya.
"Kenapa dia meninggalkan Sofia?" Batin David sedikit girang. David menoleh ke arah lain, dia melihat Sofia berjalan ke ruangannya. Ada perasaan lega saat melihat Sofia sudah bisa berjalan kembali. Meski baru saja sadar dari pingsan, Sofia tetap memaksa praktek.
Pada jam istirahat, Sofia mengantri di kantin rumah sakit seperti biasa. "Lemon tea satu, Bu." Dia memesan minuman favoritnya. Tapi setelah minuman itu datang, David merebutnya.
"Dok, kenapa anda meminum minuman saya?" Protes Sofia.
__ADS_1
"Bu, susu strawberry hangat satu ya!" Seru David memesan minuman lain untuk Sofia.
"Jangan terlalu sering minum-minuman asam, tidak baik untuk lambung. Kata dokter yang memeriksa kamu asam lambungmu naik."
"Susu hangatnya, Dok," kata pelayan kantin tersebut. David mengambil susu tersebut kemudian memberikannya pada Sofia. "Minumlah!"
"Dari mana anda tahu saya suka susu strawberry?" tanya Sofia penasaran.
"Karena minuman itu seperti orang yang meminumnya, manis." Mendengar ucapan David wajah Sofia memerah.
"Uhuk-uhuk." Sofia sampai tersedak.
"Pelan-pelan minumnya!" David menepuk punggung Sofia tanpa ada perlawanan. Biasanya wanita itu akan menepis tangan laki-laki manapun yang menyentuhnya. Tapi dengan David dia seolah mengabaikannya. Apakah itu karena Sofia mengizinkannya tanpa sadar? Entahlah.
Dokter Safa dan Dokter Selly yang tak sengaja lewat melihat interaksi David dan Sofia dari kejauhan. "Kadang aku suka bingung sama sikap Dokter David pada Dokter Sofia? Apa jangan-jangan adik kamu itu menaruh hati pada kakak iparku itu?" tanya Dokter Selly pada Dokter Safa.
Safa sebenarnya sudah menaruh curiga pada adiknya itu sejak lama. Akan tetapi dia membiarkannya. Apapun yang dilakukan oleh David asalkan tidak merusak nama baik keluarga mereka akan Safa dukung. Karena meski berbeda ibu, Safa sangat sayang pada adiknya, begitu juga sebaliknya. David begitu menyayangi Safa tanpa ada perasaan dendam meski ayah nya baru mengakui David setelah dia menginjak usia remaja.
Bagi David diakui di keluarga Yudha sudah cukup baginya. Tidak ada dendam sedikitpun karena didikan ibu Asih yang selalu menanam kebaikan padanya. Karena pada dasarnya Yudha, sang ayah bertanggung jawab dengan membiayai kehidupannya David sejak bayi.
Safa menggedikkan bahu ketika menanggapi ucapan sahabatnya Selly. "Aku pun tidak tahu, apapun yang dia lakukan asal tidak membuatku rugi aku tidak ambil pusing." Safa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas kedokteran yang dia pakai kalau berlalu meninggalkan David dan Sofia.
Sedangkan David dan Sofia kini sama-sama meninggalkan kantin menuju ke ruangannya masing-masing. Akan tetapi, David sempat bertanya pada Sofia mengenai Adam.
"Atas dasar apa kamu menerima laki-laki yang bernama Adam itu sebagai kekasih kamu?" Sofia mematung ketika David menanyakan itu padanya. Dia tahu pasti David ingin protes pada dirinya setelah selama ini diabaikan.
__ADS_1
"Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut Sofia.
Apa reaksi David begitu mendengar kata maaf dari Sofia? Kisahnya ada di bab selanjutnya ya. Pastikan kalian subscribe supaya dapat info pemberitahuan update dari othor.