Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Dikira Hilang


__ADS_3

Malam ini Fabian terpaksa tidak pulang ke rumahnya. Dia takut sang ayah mencium bau alkohol dari badannya. Fabian menepikan mobil di tempat pengisian bahan bakar. Dia akan bermalam di dalam mobil hari ini.


Sesaat sebelum memejamkan mata, dia mengecek ponselnya. Ternyata ponsel itu mati karena kehabisan daya. "Sial! April sama papa pasti khawatir. Be*go lo Fab, ini gara-gara elo ikut-ikutan Axel," ucap Fabian kesal pada dirinya sendiri.


Fabian berusaha memejamkan mata tapi dia tidak bisa. "Hish, susah banget sih." Tiba-tiba ingatan tentang kelakuan sang ibu terlintas di pikiran pemuda itu.


"Kenapa mama bikin aku kecewa? Padahal aku sangat menyayangi mama," gumam Fabian sambil menangis. Hatinya teramat sakit melihat Wanda melakukan perbuatan asusila.


Sementara itu April terus mengirim pesan pada kakaknya karena dia sangat cemas. Sudah lewat tengah malam tapi Fabian tidak memberi kabar. Begitu juga dengan Erik. Baru kali ini Fabian tidak izin dan tidak memberi kabar padanya. Dia yang cemas terpaksa menghubungi Wanda.


"Apa Fabian di sana?" tanya Erik to the point pada mantan istrinya.


"Tidak, dia tidak di sini," jawab Wanda acuh. Wanita itu sedang duduk di pangkuan laki-laki yang sama. Laki-laki yang ditemui Fabian ketika kepergok sedang bercinta dengan ibunya.


Tak butuh jawaban lain dari Wanda, Erik pun langsung menutup teleponnya. Kemudian lelaki itu mengetuk pintu kamar April. "Sayang, maaf mengganggu istirahat kamu. Apa sudah ada kabar dari kakakmu?" tanya Erik pada putrinya. April menggeleng.


Erik semakin khawatir. "Apa kamu ada kontak teman-temannya Fabian?"


"Aku hanya menyimpan nomor Mas Aksa, Pa," jawab April.

__ADS_1


"Tolong hubungi dia. Barangkali Fabian menginap di tempat Aksa." Meski sebenarnya April tidak enak mengganggu Aksa tengah malam begini, tapi dia juga cemas pada kakaknya.


Aksa yang sedang tertidur pulas terbangun ketika mendengar suara handphonenya berbunyi. Dia mengucek matanya yang sepat. Dia terkejut ketika melihat nama yang tertera di layar handphone miliknya.


"Hallo, Yang. Ada apa menelepon larut malam begini? Kamu takut tidur sendirian? Perlu aku temani?" tanya Aksa panjang lebar.


Saat itu Erik menggeleng ketika mendengar omongan Aksa. Dia tengah menguping pembicaraan antara April dan Aksa karen dia ingin tahu apakah Fabian ada di sana atau tidak. April merasa malu pada ayahnya.


"Bukan, Mas. Apa kakakku ada di situ?" tanya April.


Aksa mengubah posisinya yang semula tidur menjadi duduk bersandar di kepala rajang. "Fabian? Dia tidak ada di sini? Apa dia pergi tidak bilang?" tebak Aksa.


"Nanti aku akan coba hubungi Axel atau Imam. Barang kali mereka tahu keberadaan Fabian," kata Aksa meyakinkan kekasihnya.


"Om tunggu kabar baik dari kamu ya nak Aksa," sahut Erik. Aksa menjadi gugup karena ayah April ternyata ikut mendengarkan obrolan antara dirinya dan sang putri. Aksa menepuk jidatnya karena malu.


Setelah menutup telepon, Aksa menghubungi teman-temannya. Pertama dia menghubungi Imam, tapi Imam tidak bersama Fabian. "Sorry, Bro. Kalau ganggu waktu istirahat kamu," kata Aksa merasa tak enak menghubungi sahabatnya larut malam begini.


Setelah itu dia menghubungi Axel. Saat itu Axel sedang berada di kamarnya sepulang dari klub tadi. "Ada apa, Daf?" tanya Axel. Matanya enggan terbuka.

__ADS_1


"Fabian nginep di tempat kamu?" tanya Aksa.


"Nggak, Bro. Tadi sih dia emang ke klub bareng gue tapi dia pulang duluan," jawab Axel dengan jujur.


"What? Gila kamu Xel. Ngajak Fabian ke klub? Lalu dia pulang ke mana?" tanya Aksa yang panik.


"Tadi dia bilang mau ke rumah nyokapnya karena dia takut kalau bokapnya akan marah."


"Oke, thank you infonya." Aksa menutup telepon. Kemudian Aksa mengirim pesan singkat pada April. Dia tidak menelepon karena dia masih malu dengan kejadian saat Erik mendengar obrolannya dengan April.


April ketiduran karena sejak tadi dia belum bisa tidur. Jadi dia baru membaca pesan yang dikirim oleh Aksa pada pagi setelah bangun tidur.


April bergegas menemui ayahnya. "Pa, kakak ada di rumah mama Wanda kata Mas Aksa."


"Benarkah? Berarti semalam Wanda berbohong. Ketika aku menanyakan keberadaan Fabian dia bilang tidak ada."


"Sayang, kamu berangkat sekolah naik taksi saja. Papa harus memastikan kalau Fabian ada di sana," pesan Erik pada putrinya. April mengangguk paham.


Erik bergegas ke rumah matan istrinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan Fabian, Erik tidak akan sudi menginjakkan kaki di rumah mantan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2