
...Hal-hal yang baik datang untuk mereka yang menunggu. Tapi hal yang lebih baik lagi datang kepada mereka yang bergerak untuk mendapatkannya....
April bangun pagi-pagi seperti biasa. Dia mengambil koran lalu menjualnya ke banyak orang. Itulah mengapa dia sering terlambat sekolah karena dia bekerja lebih dulu.
Hari ini April diskors selama dua hari. Jadi dia akan memanfaatkan hari ini untuk bekerja. Setidaknya April tak perlu khawatir telat lagi. Usai mengantarkan koran ke langganannya, April bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Dia mengenakan pakaian hitam putih agar terlihat rapi karena karyawan yang bekerja memakai seragam. Berhubung dia belum diangkat menjadi karyawan tetap maka April memakai baju hitam putih hari ini.
"Selamat pagi, Bu," sapa April dengan ramah pada Sofia. Dia telah menunggu kedatangan pemilik toko roti tersebut.
"Lho kamu nggak sekolah hari ini?" tanya Sofia. April menggelengkan kepala.
"Saya cuti dua hari, Bu." Sofia terkekeh mendengar jawaban April. Sofia yakin kalau dia sedang diskors. Tapi untuk menjaga perasaan April dia tak menanyakan alasannya.
Sofia memanggil salah satu pegawainya. "Mbak tolong jelaskan apa saja yang harus dilakukan April," perintah Sofia pada salah seorang pegawai senior di sana.
April pun diminta untuk mengikuti pegawai senior tersebut. Sofia mengamati pekerjaan April dari jendela kaca yang transparan yang ada di ruangannya. "Anak itu rajin juga," gumam Sofia memuji pekerjaan April.
Sesaat kemudian Sofia mengirimkan pesan pada anaknya, Aksa. 'Mas nanti siang jemput ibu usai pulang sekolah.'
Di sekolah Aksa yang sedang istirahat dan makan di kantin bersama teman-temannya membaca pesan dari ibunya. "Serius banget baca pesannya. Dari siapa Daf?" tanya Axel.
"Dari ibu. Nanti siang minta dijemput katanya," jawab Aksa.
"Yagh, Daf. Padahal aku mau nebeng kamu ntar siang," ucap Fabian sedikit kecewa.
"Biasanya juga bawa motor," seru Imam menimpali setelah itu menyedot es teh yang dia beli.
"Lagi di bengkel. Kemaren bannya bocor belum sempat ambil orang malam baru aku taruh bengkel," jawab Fabian. Mulutnya berbicara sambil memakan kacang kulit yang dia kupas.
"Nebeng sama Axel saja. Kamu tahu kan prioritas ibu tu di atas rata-rata. Ya nggak pak ustadz?" tanya Aksa meminta dukungan pada Imam.
"Bener banget. Ibu derajatnya tiga kali daripada ayah men," jawab Imam sambil berdiri.
"CK, ceramah mulu," gerutu Axel kesal melihat tingkah Imam yang sok ustadz.
"Eh, kalian ingat gadis yang kemaren dihukum sama kepala sekolah tidak?" tanya Fabian.
__ADS_1
"Anak kelas sepuluh itu ya?" tebak Imam. Fabian mengangguk.
"Aku kayaknya naksir sama dia," ungkapnya secara terang-terangan. Aksa menyemburkan minumannya ke muka Axel. Sedangkan dua temannya lain bersikap biasa saja.
"Kira-kira dong. Kena muka aku nih," gerutu Axel ketika wajahnya menjadi basah.
"Sorry sorry," ucap Aksa menyesal lalu dia menyodorkan tisu untuk Axel.
"Kok kamu kaget Daf? Jangan-jangan kamu suka ya sama gadis yang menantang kamu kemaren?" tebak Fabian.
"Nggak lah. Ya kali naksir cewek urakan kaya dia. Lagian aku nggak mau nilaiku menurun karena sibuk pacaran," elak Dafi. Aksa memang dikenal orang yang serius kalau sudah menghadapi buku.
"Deh, segitunya yang cinta sama pelajaran," ledek Imam.
Usai jam pelajaran berakhir Aksa berpamitan pada teman-temannya. "Aku duluan ya," ucap Aksa sambil melambaikan tangan.
Tapi tiba-tiba Nesya merangkul tangan Aksa. "Dafi, antar aku pulang ya," ucapnya dengan manja.
Aksa melepas tangan Nesya. "Maaf, aku mau jemput ibu di toko," tolaknya.
"CK, bohong banget mau jemput ibunya. Pasti dia nggak enak nolak aku," gumam Nesya sedikit kesal.
Aksa menyalakan mesin mobil lalu menuju ke toko roti milik neneknya. Selama beberapa hari ini Sofia menggantikan ibunya bekerja di toko roti karena Raina sedang sakit-sakitan.
Aksa turun dari mobil kemudian memasuki toko. "Selamat da..." April menghentikan ucapannya ketika melihat laki-laki yang menyeretnya ke ruang kepala sekolah kemaren tiba-tiba berdiri di depannya.
"Kamu? Ngapain kamu ada di sini?" tanya Aksa.
"Kerja, kenapa?" tantang April.
"Hah, dia kerja?" batin Aksa. Tak mau meladeni April, dia pun berlalu ke ruangan ibunya.
Namun, gadis itu menghadang langkah Aksa. April belum tahu kalau dia anak pemilik toko. "Eh nggak sopan banget. Kamu nggak boleh masuk ke sana," tegas April.
"Kenapa? Ibuku ada di sana," jawab Aksa.
"Oh ya?" ledek April. Dia tidak percaya pada omongan Aksa.
__ADS_1
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Sofia yang keluar dari ruangan setelah mendengar keributan di luar.
"Oh, Mas Aksa udah pulang. April ini anak saya," ucap Sofia menjelaskan siapa pemuda yang ada di hadapannya kini.
April terkejut ketika ucapan pemuda itu ternyata benar. "Oh, maaf Bu saya tidak tahu," ucap April merasa tidak enak.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu bisa kembali bekerja, nanti kamu pulang jam dia," perintah Sofia pada April. April mengangguk patuh.
"Sudah lama dia bekerja di sini, Bu?" tanya Aksa.
"Baru hari ini. Kenapa Mas Aksa kenal?" tanya Sofia pada putranya.
"Ah, nggak kok Bu," elak Aksa. Setelah itu Sofia mengajak anaknya pulang.
Sementara itu ketika April akan pulang, dia melihat salah seorang pegawai akan membuang roti yang mendekati kadaluarsa. "Mbak rotinya mau diapakan itu?" tanya April.
"Ini mau dibuang soalnya mendekati tanggal kadaluarsanya," terang teman April.
April pun melihat kondisi roti tesebut. "Mbak masih bagus boleh saya bawa pulang saja nggak?" April meminta izin.
"Tapi buat apa?" tanya temannya bingung.
"Mau dikasih ke ayam," bohongnya. Padahal April memberikan roti tersebut pada ibu dan adiknya.
"Bu, ibu," teriak April.
"Ada apa, nak?" tanya sang ibu.
"April bawa roti dari tempat April bekerja," ucapnya seraya mengulas senyum lebar.
"Kamu tidak mencuri kan, Nak?" tanya sang ibu curiga.
"Ya nggak dong Bu. April kan tidak pernah mencuri. Ini dikasih secara cuma-cuma, Bu. Kalau boleh jujur roti ini mendekati tanggal kadaluarsa jadi mereka akan membuangnya. Tapi saat April lihat masih bagus dan belum berjamur April bawa pulang saja," terang April panjang lebar. Ibunya menatap anak sulungnya dengan tatapan nanar.
"Kasian sekali kamu nak. Ini semua salah ibu yang tidak bisa bekerja seperti dulu. Kamu harus banting tulang untuk menggantikan ibu."
"Jangan bicara seperti itu, Bu. April ikhlas menjalani semua ini. Bantu doa ya Bu supaya April selalu diberi kesehatan agar April bisa menghasilkan banyak uang."
__ADS_1