
...Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah....
...***...
April yang tidak memiliki handphone tidak tahu menahu kalau ada video yang tersebar di grub sekolahnya. "Pril gue turut prihatin ya sama lo. Nesya emang keterlaluan," ucap salah satu temannya.
"Nesya? Emangnya dia kenapa?" tanya April pada siswi tersebut.
"Dia kan orang yang udah nyuri sepeda Lo dan menyembunyikan di gudang," ungkapnya. April pun tak menyangka kalau Nesya sejahat itu.
"Apa ini karena aku terlalu dekat dengan Kak Dafi?" April sedang bermonolog.
April pun menghampiri Diva. Tapi ketika dia baru sampai Diva menangis di depan April. "Kok nangis, kamu kenapa Div?" tanya April khawatir.
"Maaf ya Pril aku yang udah membuang kotak makan yang diberikan kak Dafi padamu. Tapi itu semua atas perintah Nesya karena aku diancam sama dia," ungkap Diva sambil menundukkan kepalanya.
"Ya udah jangan nangis lagi. Aku sudah bilang ke Kak Dafi kalau kotak makannya hilang. Dia nggak masalah."
Diva memeluk April. "Sekali lagi aku minta maaf Pril. Aku terlalu lemah. Diancam begitu saja membuat aku menjahati kamu."
"Kamu diancam apa sama Nesya?" tanya April yang mendadak geram ketika sahabatnya diancam.
"Ini privasi aku jadi aku tidak bisa bilang," jawab Diva.
April menggenggam erat tangan Diva. "Lain kali kamu jangan mau menuruti omongan Nesya. Sekali-kali kamu lawan dia." Diva mengangguk setuju.
Sesaat kemudian Pak Restu memanggil April. "Kamu diminta kepala sekolah untuk datang ke ruangannya sekarang," perintah Pak Restu.
"Baik, Pak." April pun bangkit dari kursinya lalu berjalan mengikuti Pak Restu.
Di dalam ruang kepala sekolah Nesya memohon dengan nada manja pada pamannya. "Ayolah paman jangan hukum aku. Kejadian kaya gitu udah biasa di kalangan anak sekolah," rengek Nesya.
"Tapi perbuatan kamu merugikan orang lain, Nes," tegur Pak Wibowo.
"Aku akan mengganti sepedanya asal paman tidak menghukum kami." Nesya mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Baiklah, asal kamu tidak lagi menjahati dia. Dia termasuk murid berprestasi di sekolah ini. Jadi dia akan jadi penyumbang nama baik sekolah kita."
"Baik paman baik aku janji," jawab Nesya.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk ruangan kepala sekolah. "Masuk!"
Nesya dan Pak Restu memasuki ruangan. Pak Restu bisa kembali mengajar," perintah kepala sekolah.
Mau tak mau Pak Restu keluar dari ruangan itu. "Duduk, Pril!" April menuruti perintah kepala sekolahnya.
"Jadi gini saya akan menjadi penengah masalah yang tengah kalian hadapi. Nesya ingin meminta maaf padamu."
Nesya mengulurkan tangan. "Maaf," ucapnya dengan singkat.
"Saya belum bisa memaafkan karena dia telah membuat saya kehilangan mata pencaharian saya, Pak. Saya tidak bisa lagi berjualan koran setiap pagi semenjak sepeda saya DICURI." April menekankan kata terakhir dengan tegas.
"Heh, gue bukan pencuri," elak Nesya.
"Kalau bukan pencuri lalu apa namanya?" tantang April.
"April, Nesya sudah meminta maaf. Seharusnya kamu memaafkan dia."
"Pak kenapa anda malah membela dia? Apa karena saya orang miskin?" tuduh April tak terima.
"Bukannya begitu. Apa kamu ingin Nesya mengganti sepedamu?" tanya Pak Wibowo.
Sebuah tawaran yang menggiurkan untuk April. Kapan lagi dia mendapatkan sepeda baru tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. April berpikir lagi. "Baiklah, saya akan memaafkan dia jika dia mengganti sepeda saya."
Pak Wibowo dan Nesya mengulas senyum tipis. Mudah sekali membujuk April, pikir keduanya. "Aku akan mengganti sepedamu yang buntut itu dengan yang baru," ucap Nesya dengan angkuh.
"Terserah, aku mau besok udah ada sepeda barunya," ancam April. Dia juga tidak mau menjadi orang yang ditindas. Sudah seharusnya Nesya mengganti sepedanya itu.
Setelah sepakat, April keluar lebih dulu. Dia kembali ke kelasnya. "April," panggil wali kelasnya.
"Ada apa, Pak?"
__ADS_1
"Selamat pengajuan beasiswa kurang mampu kamu disetujui oleh komite sekolah," ucap Wali kelasnya memberi tahu.
April menutup mulutnya tak percaya. Hari ini dia benar-benar beruntung karena dia mendapatkan rejeki yang melimpah. "Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak."
Dengan begitu bebannya akan berkurang. Dia bisa menabung untuk membeli handphone. Jujur saja karena dia tidak memiliki handphone dia sering merepotkan Diva karena April selalu bertanya pada Diva mengenai tugas yang diberikan lewat grub kelasnya.
April kembali ke kelasnya dengan senyum merekah. Diva jadi bingung karena wajah April mendadak sumringah. "Kamu kaya habis dapat rejeki nomplok aja Pril," ledek Diva.
"Emang bener."
"Hah? Dapat apa?"
"Aku akan dapat sepeda baru dari Nesya dan Wali kelas kita memberi tahu padaku kalau aku dapat beasiswa kurang mampu dari sekolah," ungkapnya bersemangat.
Diva ikut senang sahabatnya itu mendapatkan banyak rejeki hari ini. "Kamu memang orang baik yang pantas dapat itu semua Pril." April tersenyum pada Diva.
Ketika lelah belajar seharian, April merasakan sangat haus tapi dia lupa membawa botol minuman. "Aku pergi ke kantin dulu ya," pamit Diva di jam istirahat kedua.
"Aku nitip air mineral ya. Ini uangnya." April menyodorkan uang lima ribuan pada Diva. Tapi Diva menepis tangannya. "Lek apaan aja. Biar aku yang bayar. Nanti aku beliin teh botol sekalian," ucap Diva lalu pergi.
Kemudian Fabian datang dengan membawa sekuntum bunga dan coklat di tangannya tapi dia menyembunyikan barang-barang itu di belakang punggungnya. Dia berjalan ke meja April.
"April," panggil Fabian. April mendongak. "Ada apa Kak?" tanyanya.
Fabian menarik sebuah kursi lalu duduk di samping April. "Pril semenjak aku melihat kamu pertama kali jantungku sudah berdebar kencang. Kamu membuat pandanganku tak teralihkan. Sikap kamu yang sederhana membuat aku ingin selalu menjadi pelindungmu. Apa kamu bersedia menerima aku sebagai pacarmu?" tanya Fabian
April tersentak kaget. Baru pertama kali dia ditembak oleh cowok. Dia tidak menyukai Fabian. Tapi beberapa kali Fabian telah menolongnya. Bagaimana caranya dia menolak pemuda itu? April sangat gugup berhadapan dengan Fabian.
"Terima terima terima." Sorak sorai suara teman-temannya sekelas April yang mendukung Fabian. Mereka pikir April pantas mendapatkan cowok most wanted di sekolah ini.
Pemandangan itu tak luput dari pengamatan Aksa. April melihat Aksa berdiri di depan kelasnya. "Kak Dafi tolong," ucap April dalam diam.
April bingung akankah dia menerima Fabian jika orang yang disukai sebenarnya adalah Aksa alias Dafi. Di sisi lain dia tidak mau mengecewakan orang lain.
Apakah April akan menerima pinangan Fabian? Eits belum lamaran hehehe maksud othor menerima tembakan Fabian.
__ADS_1
Arrg....ribet yang penting VOTE nya jangan lupa