
Setelah dari acara pernikahan Sofia, Leo yang merasa frustasi pergi ke bar untuk minum-minum. Dia sana dia bertemu dengan Fania. "Long time no see, Honey," ucap Fania kemudian memberikan satu kecupan di pipi Leo. Leo tak merespon. Dia masih sibuk dengan minuman beralkohol yang ada di tangannya. Leo memegang satu botol besar minuman beralkohol.
Ketika Leo akan meminum alkohol tersebut, Fania mencegahnya. "Sudah cukup, Honey."
"Lepaskan!" sentak Leo.
"Kamu sudah banyak minum bagaimana kamu bisa pulang?" Fania tidak mau kalah.
"Aku tidak mau pulang. Percuma saja tidak ada yang merindukanku," racaunya.
Fania mendekat lalu mengusap dada bidang Leo. "Aku sangat merindukanmu, honey. Sudah lama kita tidak bercinta. Apa kau tidak menginginkanku, hm?" goda Fania.
Leo menatap mata Fania. Dia sudah terlalu banyak minum dan mabuk berat. "Sofia," panggil Leo. Dia mengira Fania itu adalah Sofia.
Di dalam hati Fania sungguh geram ketika Leo mengingat wanita lain saat sedang bersamanya. Namun, dia akan memanfaatkan Leo yang sedang mabuk. Tentu saja Fania merindukan sentuhan laki-laki yang dia cintai.
Ya, sudah lama Fania naksir pada Leo tapi Leo hanya menjadikan wanita itu pelampiasan hasratnya saja. Namun, Fania tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja wanita itu tidak suka ketika Leo menganggapnya wanita lain.
"Anggaplah aku sebagai wanita yang kamu cintai, tapi aku akan memanfaatkan dirimu agar kita tidak bisa dipisahkan lagi, honey," batin Fania bersumpah.
Lalu Fania menggiring Leo keluar dari bar tersebut. Dia mengajak Leo masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka turun di sebuah hotel. Fania memesan kamar hotel agar bisa bercinta dengan Leo. "Kali ini aku tidak akan melepaskan kamu honey," gumam Fania.
Leo sudah mabuk berat. Dia tertidur di atas ranjang. Fania mulai membuka baju yang dikenakan Leo satu persatu. Kemudian dia baju yang dia kenakan sendiri.
Biasanya Leo menggunakan pengaman ketika bercinta dengan Fania. Namun, saat ini dia tidak memakainya karena dia tidak sadarkan diri saat Fania menyentuhnya. Fania ingin rahimnya tertanam benih Leo agar dia tidak bisa berpisah dengan laki-laki yang dia cintai.
"Aku harap akan ada sesuatu yang tumbuh di dalam perutku," gumam Fania setelah berhasil melakukan penyatuan dengan Leo. Dia tersenyum puas. Fania mengecup bibir Leo sebelum dia tertidur.
__ADS_1
Di tempat lain, David dan Sofia kini berada dalam satu kamar. Sofia sedang di kamar mandi untuk melepas baju kebaya yang dia kenakan. Cukup lama dia berada di dalam sana. Rasanya deg-degan karena saat ini ada David yang sedang menunggunya. Sofia ragu untuk keluar tapi dia tidak mungkin terus berada di dalam kamar mandi lama-lama.
Sofia keluar dengan memakai baju piyamanya sehari-hari. Namun, ada yang berbeda. Rambutnya tergerai indah ke bawah. Kali ini dia melepas hijabnya.
David sempat tertegun. Untuk pertama kalinya dia melihat Sofia tanpa mengenakan hijab. Sofia melihat dirinya sendiri. "Apa aku terlihat aneh?" tanya Sofia pada suaminya.
David mengulas senyum tipis. "Aku hanya terpesona dengan kecantikan istriku." David menarik tangan Sofia dengan lembut lalu mengajaknya duduk di tepi ranjang.
Tangan David mengelus rambut Sofia yang begitu indah. "Aku sangat beruntung memiliki istri secantik kamu," puji David dengan suara yang sangat halus tapi dapat didengar oleh Sofia.
Wajah Sofia merah merona. Jujur saja sentuhan David membuat dirinya meremang.
Cup
David memberikan ciuman di bibir Sofia. Sofia tersentak kaget. David langsung terkekeh melihat reaksi istrinya itu. "Bagiamana rasanya?" tanya David.
David memeluk istrinya secara tiba-tiba. "Apa aku boleh menyentuhmu lebih dari ini?" tanya David yang berbisik di telinga istrinya.
"Apa pintunya sudah dikunci?" tanya Sofia. David pun menahan senyum. Dia sudah mendapatkan kode dari istrinya itu. Sesaat David melepas pelukannya dan berjalan mendekat ke arah pintu.
Ingin sekali dia berjingkrak. Tapi dia coba menahan diri. David memastikan pintunya terkunci. Lalu dia menoleh ke arah istrinya. "Udah aman," lapor David pada Sofia.
Setelah itu dia berjalan mendekat kembali ke sisi ranjang. David berjalan setenang mungkin padahal di dalam hatinya dia sangat gugup. Tentu saja karena ini pertama kalinya David akan melakukan hubungan suami istri.
"Apa kamu sudah siap?" tanya David pada istrinya. Sofia mengangguk malu-malu.
David mengusap pipi istrinya dengan lembut. Lalu tangannya beralih menyentuh dagu Sofia. Dia memberikan kecupan singkat di sana. "Rileks saja sayang." Sofia tersenyum.
__ADS_1
David pun ikut tersenyum. Lalu tatapan mereka terkunci hingga tanpa sadar keduanya saling menyentuh dalam damba. David mengecap bibir Sofia dengan lembut. Bahkan sangat lembut meski Sofia masih kaku. David memakluminya.
Tahap demi tahap mereka lakukan tanpa terburu-buru. David dan Sofia benar-benar memanfaatkan malam ini dengan sebaik-baiknya. Sofia mulai mengikuti permainan David meski dia membalas dengan gayanya yang masih amatir.
Sofia rasanya lepas kendali ketika David mulai bermain di bagian intinya. "Jangan ditahan sayang, lepaskan saja." Sofia merespon dengan anggukan kepala.
Mata Sofia terpejam menikmati permainan suaminya. David sungguh membuat dirinya melambung tinggi. Meskipun David pemain baru tapi insting laki-lakinya begitu kuat. Dia melakukan semuanya sesuai nalurinya. Sofia pun terlena hingga wanita itu menginginkan lebih.
David melakukan penyatuan dengan perlahan. Dia tahu kalau Sofia akan merasakan sakit. "Mungkin untuk pertama akan sakit sayang. Tahan sebentar saja." Sofia mengangguk paham.
Tapi Sofia tidak tahu kalau akan sesakit ini. David yang pengertian kemudian menggenggam erat jemari sang istri. Dia juga mendaratkan ciuman ke bibir istrinya untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Apa sakit sekali?" tanya David. Pria itu masih berada di atas tubuh Sofia.
"Tidak," jawab Sofia jelas berbohong. David tersenyum nakal. "Apa boleh kita lakukan sekali lagi?" David ingin sekali melihat reaksi Sofia.
David memeluknya dari samping. "Mas, lepasin ah. Aku mau ke kamar mandi," ucap Sofia.
Perempuan itu beranjak dari atas ranjang. Dia menggulung selimut ke badannya. Lalu berjalan dengan tertatih. "Apa perlu aku bantu?" tanya David.
"Nggak usah," tolak Sofia.
Tiba-tiba David berdiri lalu mengangkat tubuh istrinya. "Mas, turunin nggak?" pinta Sofia.
"Nggak usah malu. Bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar mandi?" Usul David tapi Sofia berontak.
"Mas turunin!"
__ADS_1
"Nggak mau." Sofia akhirnya pasrah lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. David benar-benar mengajaknya bergulat di kamar mandi.