Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Berkumpul


__ADS_3

Setelah hampir sebulan David dirawat di rumah Kakek Firman, lukanya mulai membaik hanya saja kakinya yang masih pincang. Dirawat di rumah tanpa bantuan medis membuat David tidak mendapatkan pengobatan maksimal.


"Pak, saya ingin kembali ke rumah saya," ucap David meminta izin.


"Kakek paham. Apalagi ada keluarga yang merindukanmu. Temuilah mereka, nak. Besok pagi-pagi sekali akan ada mobil bak yang membawa hasil perkebunan ke kota. Kamu bisa menumpang pada pemilik mobil tersebut."


David meraih tangan Kakek Firman. "Terima kasih banyak, Pak." Kakek Firman mengangguk. Dia turut senang karena David bisa kembali ke kota.


Di sisi lain, Dara merasa sedih karena dia akan berpisah dengan David. Meskipun dia sudah tahu kalau David memiliki istri, tapi perasaannya tidak bisa dicegah. "Rasa suka ini tumbuh terlalu cepat hingga tak tersampaikan," gumam Dara lirih.


Dara keluar dari tempat persembunyian. "Dara, aku akan kembali," pamit David pada gadis berusia dua puluh tahunan itu. Dara mengangguk.


"Hati-hati di jalan. Saya doakan Mas David bahagia bersama keluarganya."


"Saya juga akan berdoa untuk kebahagiaan kalian. Terima kasih jika saya sudah pulang nanti saya akan membalas kebaikan kalian," kata David berjanji pada keluarga yang telah menolongnya.


Keesokan harinya David diantar oleh Kakek Firman menemui pemilik mobil yang akan menjual hasil perkebunan ke kota. "Pak Bakri, izinkan anak saya untuk menumpang di mobil bapak sampai ke kota," seru Kakek Firman pada pemilik mobil.


"Oh silakan. Tapi tidak ada kursi jadi apa kamu mau menumpang di bagian belakang?" tanya pemilik mobil.


"Tidak masalah, Pak."


Setelah itu David berpisah dengan Kakek Firman. "Saya akan mengunjungi Bapak jika ada waktu. Terima kasih telah merawat saya selama ini." Kakek Firman mengangguk. Dia sedih karena harus berpisah dengan orang yang sudah dianggap keluarga olehnya. David pun naik. Mobil tersebut berjalan menuju ke kota.


Ketika matahari mulai tinggi, mereka sudah memasuki perkotaan. Perjalanan pagi buta hingga menjelang tengah hari membuat David mengantuk. Apalagi angin begitu sejuk berhembus karena cuaca agak mendung.


Di tengah perjalanan. David tak sengaja melewati lokasi di mana dia mengalami kecelakaan. Dan beruntungnya lagi sang istri tengah berdiri di atas jembatan itu sendirian.


"Pak, saya turun di sini," ucapnya pada pemilik mobil.


"Terima kasih banyak, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan bapak," ucap David sebelum pergi menemui istrinya.


Dilihatnya dari kejauhan Sofia tengah menangis saat itu. "Kenapa kamu tidak juga kembali, Mas. Apa kamu tidak merindukan aku dan anakmu? Dia sangat lucu wajahnya mirip sepertimu," ucap Sofia berderai air mata.

__ADS_1


Meski dia jadi pusat perhatian, Sofia tak menghiraukannya. Di saat dirinya sedang menangis seseorang mengulurkan sapu tangan untuknya.


Sofia menoleh. Dia menatap tak percaya pada laki-laki yang sedang berdiri di depannya. "Mas David," serunya.


David merentangkan tangan lalu Sofia memeluk erat laki-laki yang sudah sebulan lamanya pergi. "Kamu jahat, Mas. Ke mana saja kamu selama ini?" tanya Sofia sambil menangis.


David tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. "Bawa aku pulang ke rumah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan anakku," kata David. Sofia mengangguk setuju.


Dia pun mengajak suaminya masuk ke dalam mobil. "Sayang, tolong kemudikan mobil ini untukku. Kakiku sakit setelah kecelakaan itu." Sofia pun menyetujui permintaan suaminya.


"Jadi kamu di mana selama ini Mas?" tanya Sofia sambil mengemudi.


"Aku terbawa aliran sungai sampai ke sebuah desa lalu aku diselamatkan oleh seorang Kakek dan cucunya," terang David menceritakan apa yang dia lalui selama ini.


"Alhamdulillah, aku selalu berdoa untuk keselamatanmu, Mas," kata Sofia menimpali.


"Doamu terkabul sayang. Bagaimana dengan anak kita?" tanya David antusias.


"Dia sehat, Mas. Maaf aku tidak menunggumu saat memberi dia nama."


"Kamu tahu jenis kelaminnya, Mas?" tanya Sofia heran. Saat itu janin yang ada di dalam perut Sofia selalu menutup alat kelam*innya ketika di USG


"Aku hanya menebak," jawab David.


Sofia tersenyum. "Namanya Dafi Aksa Bilal. Panggilannya Aksa. Apa kamu suka dengan nama itu?" tanya Sofia.


"Nama yang sangat bagus, sayang."


Mobil Sofia memasuki pelataran rumah orang tuanya. Ternyata mobil Zidan tengah berada di sana. "Ayo turun, Mas. Orang-orang pasti sudah tidak sabar bertemu denganmu," ucap Sofia pada suaminya.


Sofia turun lebih dulu kemudian dia membantu suaminya turun. "Hati-hati, Mas."


Di saat yang bersamaan Zidan dan Safa yang keluar dari rumah itu berpapasan dengan David dan Sofia. "Mama itu uncle David," seru Willa. Zidan dan istrinya bisa mengenali bahwa orang yang bersama Sofia adalah David meskipun wajahnya penuh dengan jambang yang belum dicukur.

__ADS_1


"Uncle." Willa berlari lalu memeluk pamannya. Setelah itu dia berjalan mendekat ke arah saudara perempuannya. David berdiri di depan Safa. Mata Safa berkaca-kaca ketika menatap adiknya yang baru kembali. "Dave," seru Safa yang langsung memeluk adiknya.


Sesaat kemudian dia mengurai pelukannya. "Kamu ingat aku bukan? Aku kakakmu Dave." Safa mengguncang tubuh David yang hanya terdiam.


"CK, aku tidak amnesia," jawab David. Zidan yang tengah menggendong adik Willa pun merasa tersindir. Di masa lalu dia pernah mengalami amnesia usia kecelakaan.


Raina dan Julian yang berada di dalam keluar saat mendengar Safa meneriaki nama David. Kebetulan Raina sedang menggendong anak Sofia. Mata David pun tertuju pada bayi laki-laki yang belum bisa mengangkat kepalanya itu.


David menoleh ke arah istrinya seolah bertanya dalam diam 'apa dia anakku?' Sofia mengangguk.


David pun berjalan mendekat. Dia mengambil alih gendongan baby Aksa dari tangan ibu mertuanya. Laki-laki itu terharu hingga meneteskan air mata. "Akhirnya kita bertemu," ucapnya setelah itu menciumi pipi bayi gembul itu.


"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Julian. Zidan dan Safa tidak jadi pulang.


David memberikan Baby Aksa pada istrinya. Lalu Sofia menaruh bayinya di box bayi. David duduk bersama anggota keluarga lainnya di ruang tengah.


"Ceritakan apa yang terjadi setelah kamu jatuh dari jembatan!" pinta Julian pada menantunya.


David mulai bercerita seperti apa yang dia katakan pada istrinya ketika di dalam mobil tadi. Setelah itu Zidan menimpali.


"Kecelakaan itu disengaja, Dave. Polisi belum menemukan pelakunya tapi menurut anak buahku, semua ini ulah wanita bernama Dena. Apa kamu mengenalnya?" tanya Zidan.


Sofia tak menyangka kalau Dena akan senekad itu. Tapi kenapa dia ingin mencelakai suaminya padahal dia sangat yakin Dena menyukai David. Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Sofia.


David mengangguk. "Dena adalah anak Tante Martha. Dia juga teman sekolahku dulu," terang David.


"Sayangnya dia kabur ke luar negeri," terang Zidan. "Apa kamu akan menuntut dia? Aku akan kumpulkan bukti jika kamu mau," tawar Zidan.


Apa jawaban David?


...***...


Othor mau ingetin buat subscribe ya, klik titik tiga di pojok atas.

__ADS_1



__ADS_2