
Pagi ini Fania bangun seperti biasa. Dia selalu bangun lebih dulu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Semenjak Leo menikahi Fania, wanita itu menjelma menjadi wanita idaman. Dia menurut pada suaminya, menyiapkan makanan dan segala kebutuhan Leo.
Leo pun lambat laun jadi terbiasa dengan perlakuan Fania. Bahkan dia hampir melupakan perjanjian yang dibuatnya yaitu menceraikan Fania setelah melahirkan.
"Honey, mau aku buatkan teh atau kopi?" tanya Fania pada Leo. Leo tidak risih lagi ketika Fania memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Teh saja," jawab Leo. Meskipun dia masih dingin seperti dulu, Fania selalu bersikap riang di depan suaminya.
Ketika Fania sedang menuangkan air, perutnya tiba-tiba mulas. Hari perkiraan lahir anaknya memang hampir bersamaan dengan HPL anak Sofia.
Gelas yang ada di meja tak sengaja tersenggol hingga jatuh. Suara gelas yang pecah itu membuat Leo beranjak dari kursinya. Dia pun menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Leo.
Fania tidak menjawab karena dia sedang menahan sakit. Leo melihat air keluar dari sela-sela paha istrinya. Tak pikir panjang, Leo langsung menggendong Fania. Dia akan membawa istrinya ke rumah sakit.
Leo bingung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa melihat istrinya kesakitan. Saat itu juga Leo mengurungkan niatnya untuk menceraikan Fania. Dia menggenggam tangan istrinya sambil mengemudi.
Hati Fania menghangat. Dia terharu baru kali ini Leo menyentuhnya dengan tulus. Akhirnya usahanya untuk memenangkan hati Leo berhasil.
Mobil Leo memasuki area rumah sakit. Wanita itu segera dibawa oleh perawat ke rumah sakit. Sedangkan Leo sedang cemas menunggu kelahiran anak pertamanya.
Hampir empat jam menunggu Fania baru melahirkan seorang bayi perempuan. Leo menangis haru ketika melihat bayi cantik itu.
"Aku pasrah jika setelah ini kamu menceraikan aku, Mas." Panggilan Fania terhadap Leo tiba-tiba berubah.
"Apa kamu tidak suka jika aku terus bersama dengan kalian?" tanya Leo. Fania seolah tak percaya suaminya berkata demikian. Selama ini Leo selalu dingin tak tersentuh. Namun, hari ini dia seolah meminta Fania terus berada di sisinya.
__ADS_1
Wanita itu meneteskan air mata. Leo meletakkan bayi mungil yang ada di pangkuannya itu di box bayi kemudian memeluk Fania.
"Maaf, aku selalu bersikap dingin dan kasar padamu. Aku sadar aku membutuhkan kalian, jangan pergi jangan tinggalkan aku. Jadilah istriku seumur hidupmu," ucap Leo di pelukan istrinya.
Fania meneteskan air mata. "Baik, tapi jangan menyesal dengan keputusanmu," balas Fania.
"Tentu aku tidak akan menyesal. Terima kasih." Leo melepas pelukannya lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Aku mau membuka lembaran baru denganmu," ucap Leo.
***
Sejak suaminya dinyatakan hilang, Sofia tinggal bersama orang tuanya. Selain dia dalam masa berkabung dia juga masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan.
"Kamu jangan cemaskan uang untuk kebutuhan anakmu. Papa yang akan membiayai semuanya," ucap Julian dengan yakin. Sofia tersenyum menanggapi ucapan sang ayah.
"Apa kamu tidak akan menamai anakmu? Sudah sebulan dia belum mendapatkan nama yang baik untuknya. Bagaimana kami akan memanggil namanya?" tanya Raina sambil mengingatkan.
Raina tersenyum. "Nama yang indah sekali. Lalu akan kita panggil siapa dia?" tanya Raina.
"Aksa, Baby Aksa kini kamu punya nama," kata Sofia pada anaknya. Wanita itu memejamkan mata sambil mencium bayi yang ada di pangkuannya itu.
"Baiklah, kapan kita adakan syukuran untuknya?" tanya Julian antusias. Sejujurnya Sofia tidak ingin mengadakan syukuran. Tapi dia tidak ingin melukai hati orang tuanya.
"Aku mau syukurannya diadakan di panti asuhan tempat Mas David tinggal dulu," pinta Sofia. Julian mengangguk setuju. Dia pun meminta bantuan Zidan mengurus semuanya.
Hari yang ditunggu tiba. Julian memenuhi permintaan putrinya. Di panti asuhan Al Mubarok, Julian mengadakan acara syukuran untuk cucunya. Tidak ada yang diundang kecuali keluarga Zidan dan juga ayah David.
__ADS_1
Selain syukuran dan doa agar cucunya menjadi anak yang sholeh, mereka juga diminta mendoakan David yang belum ditemukan sampai sekarang.
"Ibu turut berduka atas musibah yang menimpa kamu, Nak," ucap Bu Asih.
Sofia menghela nafas. Walau masih terasa berat tapi dia mencoba ikhlas. "Terima kasih banyak, Bu."
"Seharusnya kami yang berterima kasih, anak-anak di panti ini mendapatkan banyak makanan enak dan juga santunan dari keluargamu."
Sofia tersenyum menanggapi ucapan Bu Asih. "Sama-sama, Bu. Sudah seharusnya kami membantu saudara yang membutuhkan," jawab Sofia dengan bijak. Sofia menatap bayinya. Baby Aksa terlihat anteng dalam strollernya.
Setelah acara selesai, Sofia meminta izin pada ibunya agar menjaga baby Aksa. "Aku ingin mengunjungi tempat di mana Mas David mengalami kecelakaan."
Mama Raina pun mengizinkan. Dia berharap anaknya akan lebih tenang dan bisa melupakan David usai pulang dari sana. "Hati-hati dan jangan lama-lama. Baby Aksa masih bergantung padamu," kata Mama Raina mengingatkan. Sofia mengangguk patuh.
Sofia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Dia bertanya pada Zidan letak lokasi kecelakaan itu terjadi sebelum berangkat tadi.
Wanita itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia turun dari mobil dan berdiri di pinggir jembatan. Dia melihat ke bawah. "Kenapa kamu tidak juga kembali, Mas. Apa kamu tidak merindukan aku dan anakmu? Dia sangat lucu wajahnya mirip sepertimu," ucap Sofia berderai air mata.
Meski dia jadi pusat perhatian, Sofia tak menghiraukannya. Di saat dirinya sedang menangis seseorang mengulurkan sapu tangan untuknya.
Sofia menoleh. Dia menatap tak percaya pada laki-laki yang sedang berdiri di depannya. "Mas David," serunya.
David merentangkan tangan lalu Sofia memeluk erat laki-laki yang sudah sebulan lamanya pergi. "Kamu jahat, Mas. Ke mana saja kamu selama ini?" tanya Sofia sambil menangis.
David tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. "Bawa aku pulang ke rumah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan anakku," kata David. Sofia mengangguk setuju.
Dia pun mengajak suaminya masuk ke dalam mobil. "Sayang, tolong kemudikan mobil ini untukku. Kakiku sakit setelah kecelakaan itu." Sofia pun menyetujui permintaan suaminya.
__ADS_1
Dengan senang hati Sofia membawa suaminya pulang ke rumah. Lalu bagaimana ceritanya David bisa bertemu Sofia di jembatan itu?
Bagaimana dengan orang yang telah merawat dirinya semasa sakit?