Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Hasil tes yang sebenarnya


__ADS_3

Hari ini April mulai sekolah lagi. Dia berangkat bareng Aksa dan Lovely. "April sarapan dulu ya," kata Sofia. April malah berkaca-kaca. Dia ingat ibu dan adiknya.


Sofia merasa sedih lalu memeluk April. "Jangan bersedih lagi. Kami semua adalah keluargamu. Biarkan adik dan ibumu tenang di sana." Sofia mencoba menenangkan April.


"April, apa kamu yakin akan sekolah hari ini?" tanya David. April mengangguk.


"Kak, berangkat yuk!" ajak Lovely pada Aksa.


"Eh, tunggu dulu. Ibu buatkan bekal untuk kalian," kata Sofia. "April ini bekal buat kamu. Kata Aksa dulu bekalnya selalu dikasih kan buat kamu? Sekarang kamu punya bekal sendiri."


"Terima kasih, Bu." April merasa terharu. Setelah itu Aksa mengajak April berangkat ke sekolah menggunakan mobilnya.


"Kita antar Lovely dulu ya," kata Aksa. April mengangguk. Di sepanjang perjalanan dia hanya diam tanpa bicara. Tidak seperti biasanya, April selalu ceria. Namun, semenjak ibu dan adiknya meninggal keceriaan gadis itu seolah hilang.


"Mas, nanti siang aku pulang naik taksi aja," kata Lovely.


"Oke. Cepat masuk gih!"


Jarak sekolah Aksa dan Lovely tak terlalu jauh. Sesampainya di sekolah, Diva menyambut April. Dia memeluk April karena mendengar kalau rumah April kebakaran. "Pril, aku turut sedih atas musibah yang menimpa kamu," ucap Diva dengan wajah sendu. April tersenyum tipis.


Setelah itu Axel, Imam dan juga Fabian menghampiri April. "Pril, kami juga turut berduka atas meninggalnya keluarga kamu," ucap Axel. Lagi-lagi April menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Aksa langsung memeluk April.


"Udah nggak usah nangis terus. Kita semua peduli sama kamu," kata Aksa. Fabian tak lagi cemburu pada Aksa karena dia melihat April bisa tenang jika Aksa sedang menghiburnya.


Sesaat kemudian April mengusap air matanya. "Kak Fabian sudah sembuh?" tanya April.


"Aku udah nggak apa-apa, Pril."

__ADS_1


"Maaf, gara-gara aku kakak terluka," ucap April tak enak.


"Nggak, Pril. Aku ikhlas nolongin kamu."


Tak lama setelah itu bel masuk kelas berbunyi. April masuk ke kelasnya ditemani Diva. Semua teman sekelas April menyalami April atas musibah yang menimpa gadis itu.


Di tempat lain, Erik sedang menunggu hasil tes DNA keluar. "Dok, ini hasilnya." Seorang petugas laboratorium yang pernah bekerja bersama Erik memberikan hasil tes DNA yang dia jalani.


Mata Erik berkaca-kaca ketika membaca hasil tes DNA tersebut. "Ini asli kan?" tanya Erik memastikan.


"Asli, Dok," jawab petugas laboratorium tersebut.


"Terima kasih banyak." Erik pun segera memberi tahu David. Hari ini Erik cuti kerja jadi dia datang ke rumah sakit bukan untuk bekerja.


Brak


Erik membuka ruang kerja David dengan kasar. "Dave," panggil Erik pada sahabatnya itu.


"Lihat ini. April anakku, Dave. Aku telah mengikuti tes DNA atas saranmu. Hasilnya 100% DNA ku cocok dengan DNA April," ungkap Erik.


"Kamu perlu cari tahu dulu kenapa hasilnya beda saat kamu tes di sini? Apa ada orang lain yang tahu saat kamu melakukan tes DNA?" tanya David.


"Maksud kamu semua ini atas rencana seseorang?" David mengangguk saat menjawab pertanyaan Erik.


Erik keluar begitu saja menuju ke rumah laboratorium. Dia mencari petugas laboratorium yang beberapa waktu lalu disuruh untuk melakukan tes DNA untuk dirinya. Erik menarik paksa kerah kemeja petugas itu. "Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk merekayasa hasil tes DNA yang aku jalani?" tanya Erik dengan nada dingin.


"Ti-dak ada, Dok. I-tu murni hasilnya," jawab orang itu dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Bohong! Berapa dia membayarmu, hah? Aku bisa membayar 3x lipat dari uang yang dia berikan padamu," bujuk Erik. Akhirnya lelaki itu mengatakan yang sejujurnya. Dia tergiur dengan uang yang ditawarkan Erik.


"Istri anda yang menyuruh saya memalsukan hasil tes DNA itu," jawabnya dengan jujur. Erik mengepalkan tangan.


Erik pergi dengan keadaan marah. Dia menuju ke rumah Wanda untuk memberi pelajaran pada istrinya itu. "Wanda! Keluar kamu!" teriak Erik dari luar.


Wanda yang mendengar suara teriakan Erik pun akhirnya keluar. "Ada apa ini? Kenapa kamu membuat kegaduhan di rumahku?" tanya Wanda dengan halus.


"Dasar wanita munafik! Kamu kan yang telah membayar petugas laboratorium untuk memberiku hasil tes palsu ini." Erik melempar selembar kertas ke wajah Wanda.


"Aku tidak mengerti maksud kamu?" Wanda berpura-pura polos.


"Licik kamu Wanda. Apa tidak cukup kamu membuang anakku? Apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah pada April? Dasar wanita tak punya hati," umpat Erik pada istrinya itu.


Wanda tertawa lepas. "Kamu bilang aku tidak punya hati? Seharusnya aku yang bilang itu ke kamu. Kalau aku ini tidak punya hati kenapa rasa sakit ini begitu dalam? Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan pengkhianatan kamu bersama wanita itu, Mas."


"Wanda kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Apa kamu masih menaruh dendam pada orang yang sudah meninggal?" tanya Erik.


"Hemf, kamu pikir mudah sekali menyembuhkan lukaku, Mas?"


"Baiklah kalau itu maumu. Sebaiknya kamu renungkan kesalahan kamu itu. Aku akan menggugat cerai kamu. Mulai sekarang kita bukan suami istri lagi."


Bagai disambar petir di siang bolong Wanda terkejut bukan main. "Mas, kamu tega berpisah dengan Fabian?"


"Dia bisa datang ke rumah kapan saja. Bukankah pernikahan kita tidak ada kejelasan selama belasan tahun? Sekarang aku beri kamu kejelasan. Aku talak kamu mulai saat ini."


Erik pergi setelah mengatakan itu. Sedangkan Wanda tubuhnya merosot ke lantai. Dia mengusap tersedu-sedu setelah mendengar keputusan dari suaminya. "Dasar laki-laki breng*sek!"

__ADS_1


Erik terlalu bahagia. Dia menyusul ke sekolahan April. Erik lupa kalau April masih dalam keadaan berduka pasca kematian orang yang dia sayangi.


Bagaimana reaksi April kalau tahu dia adalah anak kandung Erik?


__ADS_2