Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Titik terang


__ADS_3

Plak


Sofia menampar wajah Wina yang dalam keadaan terikat. "Aku bukan orang yang suka main kekerasan tapi kamu telah membuat aku melakukan itu. Katakan dengan jujur apa motifmu sebenarnya?" tanya Sofia pada wanita yang duduk di kursi single itu.


Wina gelagapan. Sofia ternyata bukan orang lemah yang seperti dia kira. "Apa maksud anda?" tanya Sofia.


Sofia mendekatkan wajahnya ke wajah Wina. "Jangan coba membohongiku. Kamu kabur setelah menyadari kesalahan yang kamu perbuat bukan?"


Mata Wina bergerak ke sana ke mari. "Kesalahan apa? Lepaskan saya!" teriak Wina.


Dia ditangkap ketika sedang keluar sendiri. Setelah mendapatkan uang dari Beni, dia kabur ke luar Jawa bersama suaminya. Sang suami tidak tahu kalau istrinya telah melakukan perbuatan kriminal. Wina bilang pada suaminya jika dia akan bekerja di tempat lain jadi mereka harus pindah.


Awalnya sang suami curiga tapi pekerjaannya yang tidak tetap membuat laki-laki itu menurut pada istrinya yang gajinya lebih bisa diandalkan.


"Kamu bisa membohongi orang lain? Tapi kamu tidak bisa membohongiku. Suamiku bilang kamu yang mengusulkan untuk menyuntik obat penenang pada pasien itu. Tapi kenapa kamu bertindak gegabah padahal suamiku sudah melarangmu?" tanya Sofia.


"Aku ini psikiater jadi aku hafal obat apa yang kamu suntikkan ke pasien itu hingga membuatnya gagal jantung," imbuh Sofia.


Wina tersenyum miring. "Apa anda punya bukti?" tanya Wina.


Sofia menegakkan kembali badannya. "Ya aku memang tidak punya bukti secara real. Tapi temanmu melihat kalau kamu yang menyuntikkan obat penenang itu. Dia bisa jadi saksi untuk membuatmu membusuk di dalam penjara. Ingat aku punya kekuasaan yang tidak kamu miliki. Aku bisa membuat temanmu bersaksi tapi dengan melebih-lebihkan ceritanya agar kamu mendapat hukuman seberat mungkin," kata Sofia dengan nada dingin.


Baru diancam begitu saja Wina langsung gelagapan. Padahal Sofia berbohong agar Wina terpancing. Sofia bukan orang yang suka menggunakan kekerasan dia hanya ingin menunjukkan kalau dia tidak mudah diremehkan.


"Jangan, jangan laporkan saya ke polisi. Saya tidak punya motif untuk menjebloskan Dokter David ke penjara. Hanya saja saya butuh uang," akunya. Wina benar-benar takut jika Sofia melaporkan dirinya ke polisi.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Sofia. Wina ragu untuk menjawab.


"Aku tidak tahu namanya, dia tidak menyebutkan namanya."


"Bohong!"


"Aku bersungguh-sungguh," ucap Wina sambil memelas.

__ADS_1


Sofia di hadapkan pada posisi yang sulit. Dia menghela nafas beratnya. "Lalu bagaimana aku akan mengungkap siapa dalang di balik kejadian yang menimpa suamiku?" ucap Sofia seraya terduduk pasrah.


Setelah itu dia memberikan kode pada anak buahnya. Sofia telah merekam kesaksian Wina. Dia melepas wanita itu tapi dia akan menyuruh orang mengawasi gerak-geriknya.


"Wina akan membawaku kepada orang yang membuat suamiku masuk jeruji besi," gumam Sofia berbicara pada dirinya sendiri.


Di tempat lain, Beni menemui mantan istrinya. Saat itu dia sengaja menghampiri Martha yang sedang berbelanja sendiri di mall. "Selamat atas pernikahanmu, apa kamu bahagia?" tanya Beni dengan senyum mengejek.


"Tentu,"jawab Martha dengan cepat.


"Ibu macam apa kamu yang telah mengkhianati anaknya dengan menikahi musuh. Apa kamu lupa jika Yudha adalah orang yang menyebabkan Dena meninggal?"


"Aku sudah merenung selama bertahun-tahun. Aku pikir-pikir lagi ini bukan sepenuhnya salah Yudha. Dia hanya ingin membuat Dena mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sayangnya Dena sendiri yang berniat kabur hingga dia celaka."


"Aku tidak butuh penjelasan kamu. Yang aku tahu Yudha penyebab semua ini. Andai saja dia tidak membuat Dena kembali maka dia tidak akan meninggal," sangkal Beni. Dia tidak terima Martha menyalahkan putrinya yang sudah meninggal.


"Dena terpaku terobsesi pada David hingga dia berbuat curang. Apa perbuatannya patut dibenarkan?"


Plak


"Aku menamparmu supaya kamu menyadari kesalahanmu yang telah membela pembunuh seperti Yudha."


Beni mencengkeram dagu Martha. "Aku akan buat keluarga barumu kacau," ancam Beni setelah itu membuang dagu mantan istrinya.


Beni merapikan jasnya lalu pergi meninggalkan Martha. Martha jadi menaruh curiga pada Beni atas kasus yang menimpa David. "Apa aku perlu lapor Mas Yudha?" tanya Martha pada dirinya sendiri.


Martha pun pulang ke rumah kemudian dia melapor pada suaminya. "Mas, tidakkah kamu curiga atas kasus yang menimpa David?" tanya Martha pada suaminya.


"Sofia sedang berusaha menyelidiki itu," jawab Yudha seraya mengendurkan dasinya.


"Aku curiga ini kerjaan Beni," kata Martha.


Yudha menoleh pada istrinya. "Beni?" Martha mengangguk.

__ADS_1


"Dia sempat mengancam akan mengacaukan keluarga baruku karena dia tidak terima aku menikah denganmu," lapor Martha. Yudha mengepalkan tangannya.


"Sialan laki-laki itu. Dia rupanya masih menyimpan dendam padaku. Tapi David yang selalu kena imbasnya," gerutu Yudha.


"Aku harus membantu Sofia." Yudha menyambar jasnya kembali.


"Mas mau ke mana?" teriak Martha pada suaminya yang pergi begitu saja.


Yudha melajukan mobil ke rumah menantunya. Di saat yang sama dia melihat Sofia tergeletak di lantai. "Aksa apa yang terjadi pada ibumu?" tanya Yudha pada cucunya.


"Aku tidak tahu, Kek. Ibu tiba-tiba pingsan. Mungkin dia kelelahan," jawab Aksa yang sambil menangis karena panik.


Tak pikir panjang, Yudha mengangkat tubuh menantunya. Dia memberikan pertolongan pertama untuk Sofia. Aksa ambilkan minyak kayu putih," perintah Yudha pada cucunya.


Anak laki-laki itu langsung bergerak cepat. Dia memberikan minyak kayu putih pada kakeknya. Yudha mendekatkan minyak putih ke hidung Sofia agar dia sadar. Benar saja sesaat kemudian Sofia membuka mata.


"Papa," panggil Sofia. Dia hendak bangun tapi kepalanya masih terasa pusing.


"Kamu sakit? Kenapa bisa sampai pingsan?" tanya Yudha khawatir.


Sofia menangis di depan Yudha. "Aku tidak sakit, Pa. Aku sedang mengandung," ungkapnya.


Yudha tersenyum senang. Aksa yang mendengar pun demikian. Dia sudah lama ingin memiliki seorang adik. "Bagaimana bisa kamu menyembunyikan kehamilanmu selama ini?"


"Aku tidak mau orang lain memandangku lemah, jadi aku menyembunyikan kehamilanku," ungkapnya.


"Apa David sudah tahu?" Sofia menggelengkan kepalanya ketika menjawab pertanyaan sang mertua.


"Sebaiknya kita rahasiakan dulu. Ada orang yang sedang mengincar keluarga kita," ungkap Yudha. Sofia mengerutkan keningnya.


"Siapa?" tanya Sofia.


Apakah Yudha akan menyebut namanya? Atau Yudha menyembunyikan nama orang itu?

__ADS_1


__ADS_2