
Hari ini usai mengikuti tes masuk universitas, Aksa ingin mengajak April jalan-jalan. Dia pun menuju ke rumah April. Ketika sampai di sana Aksa disambut oleh Fabian. "April mana?" tanya Aksa.
"Tidur. Mau ngapain ke sini?" tanya Fabian ketus.
"Mau ajak dia jalan-jalan. Oh ya, apa benar semalam kamu ke klub bareng Axel?" tanya Aksa. Fabian tiba-tiba menjadi gugup.
"Kak," panggil April. Fabian kaget ketika menoleh ke belakang. 'Apa dia tadi mendengar ucapan Dafi?' gumam Fabian di dalam hatinya.
"April," panggil Aksa. April tersenyum. "Masuk, Mas!" ajaknya.
Ada perasaan lega pada diri Fabian. Fabian terpaksa membiarkan Aksa masuk. Dia takut rahasianya terbongkar. Fabian memilih keluar. Dia tidak tahu mau ke mana? Akhirnya dia ke bengkel Axel.
"Woi, Fab," panggil Axel ketika temannya itu datang. "Mobilnya belum jadi. Baru juga lo taruh hari ini."
"Bodo amat sama mobil itu. Gue ke sini cuma suntuk aja nggak ada yang bisa gue ajak ngobrol," ungkap Fabian.
"April?" tanya Axel.
"Si Dafi lagi ngapelin dia. Eh elo semalam bilang ya sama dia kalau gue pergi sama elo. Lo bilang kalau gue ikutan mabuk?" cecar Fabian. Axel mengangguk.
Fabian mengusap wajahnya kasar. "Sialan, lo. Dafi hampir saja bilang di depan April. Kalau bokap gue sampai tahu, gue bisa dibunuh."
Axel malah tertawa. "Masa sih bokap lo sekejam itu?" tanya Axel tak terpercaya.
Di tengah obrolan mereka seseorang menyapa Axel. "Bisa benerin mobil gue nggak?" Wajah itu tidak asing di mata Fabian. Dia mengingat-ingat lagi di mana dia bertemu dengan orang yang berdiri di hadapannya.
Bug
Tiba-tiba Fabian memukul pemuda itu. "Cowok sialan!" Axel menghadang Fabian agar tidak menonjok kliennya.
__ADS_1
"Fab, jangan buat rusuh di bengkel gue!" bentak Axel agar temannya itu bisa menahan diri.
"Xel, lo kenal sama nih orang?" tanya Fabian.
"Dia sepupu gue," jawab Axel. "Di mana lo kenal dia? Kenapa lo tiba-tiba memukul dia?"
"Tanya sama sepupu lo ini. Dia tahu di mana gue ketemu dia." Fabian pergi meninggalkan bengkel Axel.
"Bang, ada apa ini sebenarnya?" tanya Axel bingung. Pemuda bernama Edward itu mengusap bibirnya yang terluka lalu tersenyum miring.
"Awas saja! Aku akan balas perbuatan anak Tante Wanda," gumam Edward dalam hati. Dua kali mendapatkan pukulan dari Fabian membuat Edward ingin membalas dendam.
Fabian semakin uring-uringan. Niatnya untuk mencari angin segar malah harus bertemu dengan laki-laki yang melayani ibunya di ranjang. Tiba-tiba ban mobil Fabian kempes. Kemudian dia mencari bengkel terdekat dengan berjalan kaki.
Ketika Fabian menoleh, dia melihat sebuah truk berjalan dengan kecepatan tinggi. Dari arah lain seorang gadis akan menyeberang ke sisi jalan. Gadis itu sepertinya tak memperhatikan sekitarnya. Lalu Fabian berlari menyelamatkan gadis itu.
Bug
"Ya ampun, siku lo berdarah." Lidia panik ketika melihat siku pemuda yang menolongnya terluka. Luka robeknya cukup lebar.
"Sebaiknya kamu ajak dia ke rumah sakit," saran salah seorang warga yang menyaksikan kejadian itu.
Lidia memanggil taksi. "Gue nggak apa-apa," tolak Fabian.
"Nggak apa-apa gimana? Siku lo robek gini. Gue nggak mau ditangkap polisi kalau tiba-tiba elo mati gara-gara nolongin gue."
Fabian menahan senyum ketika mendengar ucapan Lidia. 'Walau dia jutek ternyata baik juga,' pikir Fabian.
Lidia mengajak Fabian masuk ke dalam taksi. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Tapi dia mencoba menahan. Alhasil keringat bercucuran keluar dari dahinya. Lidia mengambil tisu untuk mengusap peluh yang keluar dari tubuh pemuda itu. "Maaf."
__ADS_1
Ketika Lidia mengusapkan tisu pandangan mereka tak sengaja bertemu. Jantung Lidia berdebar kencang. Hampir saja bibirnya menyentuh bibir Fabian saking dekatnya. Sesaat kemudian Lidia menjauh. Dia sangat malu.
Setelah sampai di rumah sakit. Lidia memanggil perawat. "Tolong teman saya terluka," kata Lidia.
"Lho ini bukannya anak Dokter Erik ya?" tebak perawat tersebut yang mengenali Fabian. Pemuda itu mengangguk.
Setelah itu dia membawa Fabian ke ruang UGD agar mendapatkan perawatan. Sedang perawat lain menghubungi Erik. "Apa anak saya di rumah sakit ini?" tanya Erik pada perawat yang menghubungi dia lewat sambungan telepon intern di rumah sakit tersebut.
Kemudian Erik bergegas menghampiri anaknya. "Fabian," panggil Erik.
"Pa."
"Kenapa kamu bosa terluka seperti ini?" tanya Erik.
"Dia menolong saya, Om," sahut Lidia. "Maaf, saya telah membuat siku anak Anda terluka karena saya," ucap Lidia yang merasa bersalah.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Erik.
"Aku melihat dia akan ditabrak oleh truk, Pa. Jadi aku menolongnya," jawab Fabian dengan jujur.
"Papa bangga sama kamu," ucap Erik. Dia tak menyangka kalau anaknya itu sangat pemberani.
"Nak, siapa nama kamu?" tanya Erik.
"Lidia, Om."
"Lidia mulai sekarang kamu harus bertanggung kawab merawat Fabian. Karena dia terluka setelah mencoba menolong kamu. Bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini."
Lidia mencerna omongan orang tua Fabian. "Baik, Om. Saya akan bertanggung jawab."
__ADS_1
Kira-kira seperti apa tanggung jawab Lidia pada Fabian?