Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Keyakinan Erik


__ADS_3

"Rik, sorry lama," kata David merasa tidak enak. David menyerahkan sebuah map yang berisi file-file penting.


"Dave, aku mau ngobrol bentar sama kamu," tutur Erik pada David. Mereka pun menuju ke rumah tamu.


"Ada apa?" tanya David penasaran.


"Apa kamu ingat anak yang dibuang istri pertamaku yang pernah aku ceritakan padamu?"


David mengerutkan kening. "Lantas?"


"Kamu tahu anak perempuanku memiliki tanda lahir di siku kanannya persis seperti yang anak itu miliki," tunjuk Erik pada April.


Mata David mengikuti arah telunjuk Erik. "April?" tanya David memastikan.


"Apa dia anakmu?" tanya Erik.


David menggeleng. "Bukan, dia teman Aksa anak pertamaku. Dia juga bekerja di toko roti milik mertuaku," ungkap David.


Erik merasa kaget. Dadanya sesak ketika mendengar bahwa anak perempuan yang diduga anak kandungnya itu mencari nafkah. "Apa? Orang tua mana yang tega mempekerjakan anak seusia dia?"


"Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Apa kamu yakin dia anakmu?" tanya David memastikan.


"Aku akan mencari tahu kebenarannya. Dave, doaku selama ini didengar oleh-Nya," ucap Erik dengan mata berkaca-kaca. Perasaan haru dan bahagia bercampur aduk di dalam dadanya.


David menepuk bahu sahabatnya. "Aku akan bantu, kamu tenang saja."


"Aku ingin mengantarnya pulang," kata Erik pada David.


"Ya, kamu bisa cari tahu di mana rumahnya. Dekati dulu orang tuanya dengan perlahan. Mungkin mereka butuh waktu untuk menjelaskan siapa April sebenarnya," kata David menasehati. Erik mengangguk paham dengan ucapan David.


Erik menghampiri April. "Apa kalian sudah selesai?" tanyanya dengan lembut.


"Sudah, Om," jawab Lovely.


"April, ini Om Erik, teman Om yang bekerja di rumah sakit juga. Apa kamu mau pulang bareng dengannya?" tanya David basa-basi.


"Tidak om, saya bawa sepeda," tolak April dengan sopan.

__ADS_1


"Sepedanya bisa kamu masukkan ke mobil," bujuk Erik. Dia berdoa dalam hatinya agar April mau diantar pulang.


April yang tak enak menolak untuk kedua kali akhirnya mengangguk setuju. David dan Erik merasa senang. Jalan untuk mencari tahu siapa April sebenarnya telah terbuka lebar. "Kalau begitu bagaimana jika kita pulang sekarang sebelum petang?" usul Erik. April mengangguk.


"Dek, kakak pulang dulu ya," pamit April pada Lovely.


"Yah, kok pulang sih. Nginep sini aja, Kak," rengek Lovely. Semua orang tertawa melihat tingkah Lovely yang manja.


"Ternyata semua orang menyukai dia," batin Erik yang bernama lengkap Frederik Sanders.


Erik dan April juga berpamitan pada seisi rumah. Ketika mereka akan naik ke mobil Sofia baru saja menghentikan mobilnya did depan rumah. "Lho, Erik, April," tunjuk Sofia yang bingung mengapa Erik mengajak April pulang bersama.


David yang mengetahui kebingungan istrinya pun merangkul bahu sang istri. "Erik akan mengantar April pulang," kata David.


"Kalian hati-hati," pesan Sofia pada keduanya.


Setelah mereka pergi Sofia bertanya pada suaminya. "Mas apa kamu tidak merasa aneh? Kenapa Erik tiba-tiba mengantar April pulang?" tanya Sofia yang penasaran.


"Erik menduga April adalah anaknya yang hilang," terang David.


"Itu baru dugaan. Dia akan mencari tahu kebenarannya. Erik akan mendekati orang tua April terlebih dulu. Dia tidak boleh membuat mereka takut kalau tidak ingin April menjauh."


"Semoga itu benar. Aku sangat kasian dengan nasib April. Di usianya yang masih belia dia harus kerja keras. Semoga Erik memang ayah kandungnya sehingga April tidak lagi harus bekerja menghidupi keluarganya yang kurang mampu," balas Sofia menanggapi ucapan suaminya.


Di tempat lain April merasa canggung satu mobil dengan orang yang baru dia kenal. Meski Erik adalah teman David tapi dia tidak berani banyak bicara di depan Erik. Erik melirik gadis itu sekilas. "Apa kamu selalu diam?" tanya Erik pada April.


"Maaf, saya tidak tahu harus bicara apa," jawab April.


"Di mana rumahmu? Apa masih jauh?" tanya Erik. April menggeleng.


"Tidak tinggal beberapa meter saja lalu berhenti di depan gang sempit," jawab April.


Erik pun mengehentikan mobil di tempat yang April maksud. "Terima kasih sudah mengantarkan saya. Maaf kalau merepotkan."


"Tidak, aku sangat senang bisa mengantarmu." Erik mengusap kepala gadis dengan lembut. April merasakan sesuatu yang hangat di hatinya. Baru pertama kali dia mendapatkan usapan lembut di kepalanya. Ayahnya yang lucknut tidak pernah melakukan hal semacam ini. Bahkan berkata manis pun sekali saja tidak pernah.


"Ah, saya harus pulang. Ibu pasti mencemaskan saya," ucap April dengan gugup.

__ADS_1


"Tunggu!" April menghentikan langkahnya.


"Apa kamu mau meninggalkan sepedamu?" Erik mengingatkan April. April menepuk jidatnya.


"Maaf om saya pelupa." Ucapan April membuat Erik tertawa. Lalu laki-laki itu menurunkan sepeda April.


"Sini om sepedanya." April ingin mengambil sepeda miliknya tapi Erik menahannya.


"Biar aku yang tuntun sepedanya. Bolehkah aku mampir ke rumahmu dan berkenalan dengan orang tuamu?" tanya Erik. April merasa heran.


"Tapi rumah saya jelek," kata April. Erik tersenyum. "Memangnya kenapa?" tanya Erik.


"Saya takut om jijik menginjakkan kaki di rumah saya," jawabnya sambil menunduk Jujur dia merasa minder orang kaya seperti Erik mau mampir ke rumahnya.


"Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin tahu di mana kamu tinggal," jawab laki-laki berparas tampan itu. Akhirnya April mengangguk setuju.


"Kenapa laki-laki ini terus mengikutiku? Apa dia...Ah tidak mungkin mana mungkin dia menyukaiku sebagai wanita," April menggeleng cepat untuk mengusir pikiran negatifnya.


Erik memperhatikan sikap April yang aneh. "Kamu kenapa, Pril?" tanya Erik seraya berjalan memasuki gang.


"Ah, tidak kenapa-kenapa," jawabnya gugup.


Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah rumah yang temboknya hampir roboh. Erik mengernyit heran. "Apa anakku tinggal di rumah sejelek ini?" Sesaat kemudian Erik mengalihkan pandangannya pada April. "Malang sekali nasibmu, nak," ucapnya dalam hati sambil menatap nanar gadis itu.


"Apa anda mau masuk?" April hanya basa-basi.


Erik tersenyum tapi belum sempat dia menjawab pertanyaan April. Ayahnya keluar. "Siapa laki-laki ini, Pril?" tanya laki-laki yang penampilannya acak adul itu.


Erik mengerutkan kening ketika melihat laki-laki yang setengah berantakan itu. "Apa ini orang yang mengasuh April?" batin Erik.


"Eh, ada tamu? Kok nggak disuruh masuk, Pril?" Ucap Bu Dini yang melihat seorang laki-laki berpenampilan rapi pulang bersama April.


"Tidak usah, saya hanya mengantar April pulang," pamit Erik pada kedua orang tua April.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Om." Erik mengangguk sebelum pergi. Dia benar-benar tak rela berpisah dengan anak perempuan itu.


"Aku pasti akan membawamu keluar dari rumah itu, Pril," gumam Erik dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2