
Curcol dikit, tadi othor sempat down karena poin penilaian mendadak turun drastis. Alhamdulillah sudah balik lagi. Doain ya buka depan naik lencana 🙏
Othor mohon dukungan ya, jangan irit kasih poin soalnya poin yang kalian kumpulkan tidak bisa diuangkan. Jadi mending hibahkan ke othor saja. 😁
...♥️♥️♥️...
Mama Raina akhirnya buka suara. "Papa jangan malu-maluin mama," ucapnya dengan penuh penekanan. Julian menoleh saat dirinya disalahkan oleh istrinya.
"Maksud mama apa?" tanya Julian tidak mengerti.
"Papa kenapa pukul mantu kita kalau dia tidak salah?" Raina mencoba menahan diri.
"Dia yang menyebabkan Sofia sakit hingga masuk rumah sakit," jawab Julian dengan berapi-api.
Raina menggelengkan kepala. "Papa sih nggak mau denger penjelasan mama. Papa tahu Sofia sakit apa?" Raina meminta suaminya menebak.
Julian seperti cacing kepanasan. Dia bingung harus menjawab apa. Raina bisa membaca ekspresi wajah suaminya. "Istriku hamil, Pa," sahut David.
Meski rasa sakit diwajahnya belum sembuh, tapi dia berusaha memahami perasaan ayah Sofia yang terlalu khawatir pada anaknya. David memang sebaik itu.
Julian tersenyum lebar lalu mendekati anaknya. "Benarkah itu?" Sofia mengusap air matanya lalu dia mengangguk menjawab pertanyaan sang ayah.
"Lain kali kalau mama belum selesai ngomong papa jangan langsung ambil tindakan. Malu sendiri kan?" ledek Raina.
Sofia dan David tidak mau memaksa Julian meminta maaf. Dia bukan anak kecil yang perlu diajari. Julian seharusnya juga sadar diri tapi rasa gengsinya terlalu tinggi.
"Selamat sayang, kamu akan jadi ibu," kata Mama Raina.
Sofia tersenyum. "Makasih, Ma."
Setelah itu mama Raina memberikan kode pada suaminya agar tidak diam saja. "Jaga istrimu dengan baik, jangan biarkan dia sakit seperti ini. Bukankah kamu dokter kandungan aku tidak perlu menjelaskan cara merawat wanita yang sedang hamil bukan?" ucap Julian pada menantunya lalu keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Mama Raina mewakili suaminya meminta maaf pada David. "Dave, maafkan sikap papamu yang keras kepala itu ya. Segera obati wajahmu yang memar. Mama titip Sofia," ucap Mama Raina sebelum keluar menyusul suaminya.
"Iya, Ma," jawab David singkat.
"Mas, aku bantu obati lukamu ya," ucap Sofia khawatir. Dia menyentuh bagian pipi suaminya yang memar. "Aw." David meringis kesakitan.
"Sakit banget ya?" Mata Sofia berkaca-kaca melihat kasian pada suaminya.
David menggeleng. "Nanti aku obati sendiri sayang. Sekarang kamu berbaringlah dan istirahat. Kamu pasti syok dengan apa yang terjadi barusan. Tenangkan pikiran kamu agar tidak mempengaruhi janin yang kamu kandung." David memberikan saran panjang lebar.
Dia menata posisi bantal istrinya lalu menyelimuti tubuh Sofia. Tak lupa David mencium kening istrinya. "Selamat beristirahat." Sofia tersenyum.
Kemudian David keluar dari ruangan itu untuk meminta obat pada perawat. "Wajahnya kenapa, Dok?" tanya perawat yang memberikan obat pada David.
David enggan menjawab dia fokus mengobati lukanya. "Terima kasih," ucapnya setelah selesai mengobati wajahnya yang memar.
Malam ini David menemani istrinya yang sedang sakit. Dia tidur di bagian sofa. Sesaat kemudian dokter dan perawat yang bertugas memasuki ruangan. "Maaf mengganggu tidur anda, Dok. Saya hanya ingin memeriksa kondisi Dokter Sofia." David mengangguk.
Dia melihat hasil pemeriksaan Sofia. Keningnya berkerut ketika mengetahui Sofia sedang hamil. "Jadi apa ada yang anda rahasiakan dari kami?" David mengerti apa yang dimaksud dokter wanita itu. Dia pun tersenyum.
"Dokter pasti mengira saya hamil di luar nikah ya?" tebak Sofia. Dokter itu mengangguk.
"Itu semua tidak benar, Dok," kata Sofia.
"Kami suami istri," sambung David. Dokter dan perawat yang berdiri di sana pun menganga tak percaya.
"Sialan kamu, Dave. Nikah nggak bilang-bilang. Kalian suka ya dijadikan bahan gosip seisi rumah sakit?" ledeknya. David dan Sofia terkekeh melihat ekspresi temannya itu.
"Aku ucapkan selamat untuk kalian. Selamat Dokter Sofia sebentar lagi anda akan menjadi ibu. Tapi anda tidak usah cari dokter kandungan lagi karena suami anda sendiri yang akan merawat," sindirnya.
"Kami keluar dulu." David mengangguk. Setelah itu dia menghampiri istrinya. "Syukurlah kalau tidak ada yang kita rahasiakan lagi," ucap David.
__ADS_1
"Iya, aku juga tidak mau menambah dosa mereka. Semakin kita menyembunyikan pernikahan kita semakin sering mereka bergosip. Dosa mereka tak lain karena kita juga," balas Sofia.
"Sekarang tidur lagi sayang, besok aku akan urus kepulanganmu."
Keesokan harinya, David kembali ke rumah untuk berganti pakaian karena dia ada jadwal praktek pagi ini. Setiap pegawai rumah sakit memberinya ucapan selamat, David membalas satu per satu ucapan selamat dari mereka.
Sebelum dia praktek, dia menemui istrinya sebentar. Tak lupa sebuah buket bunga dia bawa. David membelinya di toko bunga depan rumah sakit yang buka sejak pagi.
"Untukmu." David memberikan buket bunga pada istrinya. Sofia menerimanya dengan senyum lebar. "Terima kasih."
"Oh iya ini ada beberapa hadiah dari pegawai rumah sakit sebagai ucapan selamat atas pernikahan kita." David meletakkan hadiah yang dia terima di meja.
"Banyak sekali, Mas."
"Iya aku tidak enak kalau menolak pemberian mereka. Mereka juga turut bahagia atas pernikahan kita. Kamu istirahat dulu, sebentar lagi aku ada jadwal praktek. Jadi tunggu aku sampai jam kerja selesai. Nanti sore kita pulang."
"Iya, papa," ucap Sofia sambil mengelus perutnya yang rata. David jadi ingin mencium perut istrinya. "Jadi anak yang baik ya, Nak."
David keluar tapi dia merasa ada yang belum dia sampaikan. "Sayang, jangan lupa sarapannya dimakan," ucapnya sambil menyembulkan kepala dari balik pintu itu. Sofia terkekeh melihat tingkah konyol suaminya.
Di tempat lain, Leo yang sedang berada di luar kota mendadak kepalanya pusing. "Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba sakit?" gumamnya.
Sejak bangun tidur dia merasakan perutnya bergejolak. Dia sempat muntah tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Sangat menyiksa karena ini baru pertama kalinya dia merasakan mual sehebat ini.
"Apa aku perlu periksa ke rumah sakit? Jangan-jangan aku sakit parah," pikirnya berlebihan.
Kemudian setelah jam kerjanya luang, dia pun menyempatkan diri untuk ke klinik terdekat. Dia menceritakan apa saja yang dia alami pagi ini.
"Jadi sebenarnya anda tidak sakit, Pak. Dugaan saya anda mengalami kehamilan simpatik," terang dokter itu.
"Aku kan tidak punya istri bagaimana aku mengalami penyakit aneh ini," gumam Leo dalam hati. Dia lupa kalau dia pernah berhubungan dengan satu wanita. Atau dia tidak pernah menyadari kalau saat itu dia berhubungan badan dengan Fania karena saat itu dia mabuk berat.
__ADS_1
Tiba-tiba Leo mendapatkan kabar dari Zidan kalau kakaknya hamil. "Apa aku mengalami penyakit aneh ini karena wanita yang aku cintai sedang hamil?" gumam Leo dengan pemikirannya sendiri.
Sayangnya ikatan batinmu salah Leo, ckckck. Mas Leo, Mas Leo.