
Ketika di sekolah, April mencari keberadaan Nesya. "Nesya ada?" tanya April pada teman sekelas Nesya.
"Ada apa Lo nyari gue?" tanya April dengan ketus.
"Aku cuma mau bilang terima kasih soalnya udah beliin aku sepeda baru." Nesya mengerutkan keningnya.
"Basi tahu nggak."
"Iya aku tahu karena aku tidak bilang langsung kemaren. Yang jelas aku cuma mau ngucapin itu. Meskipun kamu sepertinya nggak ikhlas memberikan ganti rugi padaku."
"Sialan. Banyak ngomong lo. Pergi deh." Nesya mendorong bahu April. April pun kembali ke kelasnya.
"Ngapain juga berterima kasih sama dia. Udah seharusnya kan dia membelikan kamu sepeda baru?" ucap Diva.
"Iya aku tahu. Tapi dia sudah bersedia maka kita gantian ngucapin terima kasih untuk menghargai permintaan maafnya."
"Ah ribet. By the way nanti pulang sekolah mau ke mana?" tanya Diva. Dia telah hafal jadwal April yang libur kerja seminggu sekali.
"Mau jemput Lovely," jawabnya.
"Lovely siapa dia?" tanya Diva yang merasa asing ketika mendengar nama itu.
"Anak atasanku di toko," jawab April berhati-hati. Jangan sampai dia membawa-bawa nama Aksa. April hanya tidak mau Diva salah paham.
Sesuai janjinya pada Sofia dia akan main ke rumahnya karena Lovely bilang dia rindu pada April. April berencana menjemput Lovely di sekolahnya. Dengan berbekal sepeda, April menunggu Lovely di depan gerbang sekolah.
"Demi apa, Kak April," teriak Lovely sambil berlari memeluk kakak kesayangannya. Dia tidak percaya kalau April menjemputnya di sekolah.
"Kakak ke sini naik sepeda?" tanya Lovely.
April mengangguk. "Ayo naik. Kakak akan antar kamu keliling. Nanti kita jajan juga ya di pinggir jalan," ucap April sambil tersenyum. Lovely pun tidak menolak.
Sebelum pergi, April meminta izin pada sopir Lovely supaya meninggalkan mereka. "Jangan khawatir Pak. Saya sudah diizinkan oleh Bu Sofia," kata April meyakinkan sopir tersebut.
"Tapi kan cuaca sedang panas, Non."
"Saya bawa topi kamu bisa pakai topi kakak." Lovely mengangguk setuju.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu bapak tinggal ya. Jangan sampai Non Lovely kenapa-kenapa."
Setelah itu, Lovely menaiki bagian belakang sepeda April. "Sepedanya baru ya?" tanya gadis kecil itu.
"Iya, hadiah dari teman."
"Kak April ulang tahun?" tanya Lovely.
"Bukan teman kakak itu merusak sepeda lama kakak jadi dia menggantinya dengan yang baru."
"Wah baik juga ya teman kakak itu." April hanya manggut-manggut. Mereka menikmati pemandangan sekeliling meski hari ini cuaca lumayan terik.
"Aku baru pertama kali naik sepeda seperti ini rasanya menyenangkan ya," gumam Lovely.
"Tapi kalau nyampe rumah item kulitnya jangan salahin kakak ya," gurau April. Mereka pun tertawa bersama.
Ketika melihat tukang cilok, April berhenti di sana. "Dek, kamu sudah pernah makan ini belum?" tanya April pada Lovely.
"Aku sering lihat orang jualan di depan sekolah tapi aku nggak pernah beli takut nggak higienis," jawab Lovely.
"Higienis kok, kan masih anget dari tungku." Sesaat kemudian April memesan cilok pada penjualnya.
"Kak tambah satu buat Mas Aksa," kata Lovely.
"Aksa itu siapa?" tanya April yang tidak tahu nama panggilan Dafi di rumah.
"Kakakku, kakak kenal kan?"
"Oh, Kak Dafi?" Lovely mengangguk.
"Nama lengkapnya itu Dafi Aksa Bilal. Kalau di rumah dipanggil Aksa. Kalau aku Fida Lovely Azzahra. Kata Ayah Dafi dan Fida itu singkatan nama yang diambil dari nama orang tua kami, David dan Sofia," terang Lovely panjang lebar.
April manggut-manggut. "Kalau nama kakak siapa?" tanya Lovely.
"Dian April Maharani," jawab April.
"Bagus ya, biar aku hafalin, siapa tahu nama kakak yang disebut Mas Aksa ketika ijab qabulnya," gurau Lovely. Wajah April bersemu merah mendengar perkataan gadis kecil itu.
__ADS_1
April menggelengkan kepala. "Kamu bisa aja." Setelah membayar cilok mereka lanjut lagi bersepeda sampai rumah Lovely.
"Kamu capek nggak dek?" tanya April.
"Kebalik, Kak. Seharusnya aku yang tanya itu ke kakak. Aku kan cuma bonceng aja. Kak April nggak capek?" tanya Lovely.
"Capek sih, biasanya naik sepeda sendiri soalnya, tapi aku seneng kok soalnya aku bisa sekalian jalan-jalan sama kamu." Ucapan April membuat Lovely terharu. Ternyata April menahan rasa capeknya demi Lovely.
Tak lama kemudian sepeda April memasuki halaman rumah. April dan Lovely terkekeh bersama. "Kalian dari mana?" suara bariton itu membuat keduanya menoleh.
"Jalan-jalan," jawab Lovely.
"Tumben mau diajak naik sepeda. Biasanya kamu naik motor aja nggak mau," ledek Aksa.
"Mas Aksa, nih aku punya cilok buat mas." Lovely menyodorkan sebungkus cilik untuk abangnya. "Itu yang beliin Kak April lho pakai bumbu sayang," goda Lovely. April pun tersedak ludahnya sendiri.
Aksa mengulum senyum. Dia mengacak rambut adiknya. "Kebanyakan nonton hp nih jadi pinter ngegombal," ledek Aksa pada Lovely.
"Udah, ayo masuk!" Aksa mengajak Lovely dan April masuk. Lovely berlari ke kamarnya. Ini pertama kalinya April menginjakkan kaki di rumah yang sangat besar seperti yang dia lihat saat ini.
April mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah. "Ini rumah apa istana ya besar banget," gumamnya dalam hati. Dia begitu kagum dengan rumah yang didesain secara klasik modern.
"Duduk dulu, Pril. Nanti aku minta tolong mbak buat suguhin minuman ke kamu," kata Aksa.
"Nggak usah repot-repot, aku cuma mampir bentar aja," kata April.
"Lho kok mampir bentar, Kak. Aku masih pengen main sama kakak," rengek Lovely. "Bantuin kerjain tugas prakarya aku yuk Kak." Lovely menarik tangan April dan membawanya ke ruang tengah.
Tak lama kemudian David kembali bersama Erik. "Duduk dulu, Rik. Aku ambilkan minum," kata David seraya berlalu ke belakang.
Kemudian Erik mendengar suara gelak tawa anak-anak. Karena penasaran Erik menghampirinya. Dia melihat dua orang gadis sedang sibuk membuat sesuatu. Sesaat kemudian April menoleh. Dia tersenyum pada Erik. April mengira Erik adalah ayah Lovely.
David tahu April tapi April tidak pernah mengetahui seperti apa wajah ayahnya Lovely. Mereka belum pernah saling menyapa. Oleh karena itu dia mengira Erik adalah orang tua Aksa dan Lovely.
Erik membalas senyum April. Tapi dia merasa ada yang berbeda dengan gadis yang sedang tersenyum padanya saat ini. Erik pun mengira kalau April adalah anak David.
"Boleh Om bergabung?" Lovely hanya mengangguk. Dia tidak kenal tapi dia tidak curiga karena Lovely melihat ayahnya pulang tadi. Dia menduga kalau laki-laki yang duduk di sampingnya adalah teman sang ayah.
__ADS_1
"Kak rambutnya nanti kena lem. Aku pinjami ikat rambut ya," kata Lovely. April pun menerima ikat rambut dari gadis kecil itu. Ketika April sedang mengikat rambutnya dia melihat tanda lahir di siku kanannya.
"Tanda itu."