Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Status baru


__ADS_3

Adam mengikuti ke mana Sofia pergi.


"Jadi kita resmi pacaran?" tanya David. Sofia mengangguk. "Boleh aku peluk?" David meminta izin pada kekasih barunya. Sofia mengangguk malu-malu.


Sedangkan di tempat lain, Adam mengepalkan tangannya karena menahan amarah. Ternyata Sofia menolaknya karena dia menyukai laki-laki lain. Tanpa dia sangka, laki-laki itu adalah dokter yang pernah menolong Sofia ketika dia pingsan. Adam merasakan dadanya sakit. Tak mau menambah pilu di hatinya, dia pun segera pulang.


Tak sengaja dia menabrak seorang wanita. "Maaf," ucapnya singkat lalu pergi.


Setelah itu David mengajak Sofia pulang. "Siapa wanita yang datang bersamamu tadi?" David tersenyum sesekali menoleh ke arah Sofia.


"Hanya teman SMA yang tidak sengaja bertemu," jawabnya dengan santai.


"Tapi apa perlu sampai merangkul bahu?" gumam Sofia yang sedikit kesal mengingat kejadian saat David merangkul bahu Dena.


"Jangan cemburu karena aku tidak tertarik padanya."


Setelah sampai di depan pintu gerbang rumahnya, Sofia turun. "Terima kasih sudah mengantarku pulang." David mengangguk pelan.


"Aku pulang dulu, sayang."


Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut David, hati Sofia terasa berdesir.


Julian menunggu kepulangan putrinya itu. Jantung Sofia berdebar kencang. Dia bingung bagaimana menghadapi pertanyaan ayahnya. Apakah Adam sudah mengadu pada ayahnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Sofia.


"Bagaimana acara kalian?" Sofia terkejut mendengar pertanyaan ayahnya.


"Lancar, Pa." Sofia hanya menjawab sekenanya. Toh ayahnya tidak bertanya dengan siapa dia pulang karena sewaktu berangkat setahu Julian putrinya itu diantar oleh Adam.


Julian tersenyum bahagia dan bangga. "Ya sudah, naiklah ke atas. Sudah hampir pagi sekarang beristirahatlah!" Sofia mengangguk kemudian berjalan menaiki tangga.


Raina menyusul suaminya keluar kamar ketika dia tidak melihat suaminya di dalam. "Mas, kenapa kamu segini kamu bangun?" tanya Raina pada suaminya.


"Tidak, ayo kembali ke kamar!" Ajak Julian dengan lembut.


Sofia bernafas lega ketika sampai di dalam kamar. Jantungnya seakan ingin copot dari tempatnya. "Belum bilang apa-apa sama papa aja aku udah takut begini? Bagaimana kalau sudah ketahuan kalau aku menolak lamaran Mas Adam?" Sofia hampir tidak bisa tidur karena memikirkannya.


Keesokan harinya, Raina mengetuk pintu kamar sang anak. "Tumben sekali jam segini dia belum bangun? Apa gara-gara semalam dia pulang pagi?" Gumam Raina seorang diri di depan kamar anaknya.


"Sofia, kamu sudah bangun apa belum, Nak? Ini sudah siang. Apa kamu tidak ada jadwal praktek hari ini?" Teriak Raina dari luar kamar.

__ADS_1


Sofia terbangun ketika mendengar suara berisik ibunya. Lalu dia melihat jam beker yang ada di atas nakas. "Masyaallah sudah jam tujuh," gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur.


Setelah sholat subuh tadi, Sofia naik kembali ke atas kasur karena dia baru tidur sekitar pukul dua pagi setelah mengikuti perayaan festival kembang api semalam.


"Sofia," teriak Raina sekali lagi.


"Aku udah bangun, Ma. Ini mau mandi." Sofia segera menyambar handuk kemudian berlari ke kamar mandi. Dia mandi secepat kilat karena sudah terlambat datang ke rumah sakit.


Setelah selesai berpakaian, dia turun dengan menggunakan sandal. "Lho sepatunya kok ditenteng?" tanya Mama Raina heran.


"Nggak sempet pakai, Ma. Nanti saja di rumah sakit. Berangkat dulu, Ma, Pa." Julian diam saja saat disalami oleh Sofia. Sofia heran tapi dia tidak sempat bertanya.


Pagi ini Julian mendapat kabar dari Adrian kalau Sofia menolak lamaran Adam semalam. Julian merasa kecewa karena merasa dibohongi oleh putrinya sendiri.


"Papa kenapa sih kok dingin begitu sama anaknya sendiri?" tanya Raina heran. Julian tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia berdiri kemudian berpamitan untuk berangkat kerja. Raina jadi tambah bingung dengan sikap suaminya.


Sementara itu Sofia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar terlambat. Sesampainya di rumah sakit, dia lupa mengganti sandal yang dia pakai dengan menggunakan sepatu.


"Sayang," panggil seseorang. Sofia langsung mengenali suara itu. Wanita itu pun menoleh.


"Kamu mau ke mana dengan memakai sandal begitu?" Ledek David.


Sofia menepuk jidatnya karena lupa. Dia pun mengambil sepatu di dalam mobilnya. Secepat mungkin dia memakai sepatu berhak tinggi itu. Sofia buru-buru hingga salah mengambil sepatu. Melihat kekasihnya yang kesulitan memakai sepatu, David pun berjongkok untuk membantunya memakaikan sepatu di kaki Sofia.


"Ayo masuk!" Ajak David


Pemandangan itu tak luput dari pengamatan Adam yang saat itu berniat untuk menemui Sofia. dia berharap hubungan mereka dapat diperbaiki jika dia bisa membujuknya. Namun sayangnya, ketika dia sampai di sana, dia melihat David dengan gayanya yang sok peduli di mata Adam, memakaikan sepatu untuk wanita yang dia sukai. Tentu saja itu membuat hati Adam meradang.


Adam melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Kali ini dia tidak jadi menemui Sofia tapi dia ingin bicara dengan David. Adam menuju ke ruangan David.


"Anda siapa?" tanya asisten Dokter David.


"Saya ingin bicara sebentar sama Dokter David."


"Tapi ini sebentar lagi jam praktek dimulai."


"Sus, tolong tinggalkan kami sebentar," perintah David pada asistennya.


"Baik, Dok."

__ADS_1


"Silakan duduk!" David meminta Adam yang agar bicara sambil duduk. Adam juga ingin bicara dengan kepala dingin.


"Saya tidak menyangka anda merebut Sofia dari saya. Bukankah anda tahu kalau saya dan Sofia sedang menjalin hubungan?"


David menarik ujung bibirnya. "Anda yakin saya yang merebut Dokter Sofia? Anda sudah tanyakan padanya?"


Apa yang dikatakan oleh David tak sepenuhnya salah karena malam itu, Sofia yang mencarinya lalu menyatakan cinta. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh David. Penantian panjangnya akhirnya membuahkan hasil.


Adam mengepalkan tangannya tapi dia berusaha menahan amarah. "Apa kamu menyukainya?" tanya Adam.


"Apa hanya itu yang ingin anda ketahui? Sebentar lagi jam praktek saya dibuka. Saya tidak bisa membicarakan hal yang bertele-tele."


Adam berdiri. "Jangan kecewakan Sofia. Jika kamu melukainya kamu akan berurusan denganku. Aku bisa membuat Sofia kembali ke pelukanku jika aku mau," ancam Adam lalu berlalu meninggalkan ruangan David dengan muka masam.


Dokter Safa yang notabene adalah kakak David tak sengaja berpapasan dengan Adam di depan pintu. "Siapa laki-laki yang baru saja keluar?"


"Tamu," jawab David dengan singkat. "Ada apa ke sini?" tanya Dokter David pada kakaknya.


"Periksa aku sebelum jam praktekmu!" Perintah Dokter Safa pada adiknya.


Kening David berkerut. "Aku bukan dokter umum, keluarlah!" Usirnya.


"Dasar adik sialan. Kakakmu ini sedang hamil, apa tidak boleh aku memintamu untuk memeriksaku?" Sentak Dokter Safa.


David menahan senyum. "Kapan?" David berdiri lalu memeriksa perut kakaknya dengan alat USG.


"Apa?" tanya tidak mengerti pertanyaan adiknya yang ambigu.


"CK, Menstruasi terakhir?"


"Aku lupa, kamu tahu kan..."


"Aku tidak tahu," jawab David dengan ketus. "Kakak hamil baru lima mingguan," terangnya.


"Tahu dari mana?" Ledek Safa. Entah dia lupa atau bagaimana, padahal David baru saja memeriksanya dengan alat USG.


"Bisa dibaca di sini." David menunjuk hasil print USG milik kakaknya.


"Dia sehat, kan?" David mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang keluarlah! Banyak pasien yang mengantri dasar tukang serobot," cibir David pada kakaknya.


"Biarin." Dokter Safa menjulurkan lidah lalu menutup pintu. Tak lama kemudian asisten David membuka praktek pagi ini.


__ADS_2