
David mendekat ke samping kakek Firman. "Maaf, saya baru bisa mengunjungi kakek sekarang," ucapnya sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa," jawabnya. Lalu mata lelaki tua itu mengarah ke wanita berhijab dan seorang anak laki-laki yang sedang berdiri berdampingan. "Siapa mereka?" tanya Kakek Firman.
David menyuruh istri dan anaknya mendekat. "Perkenalkan mereka anak dan istriku, Kek," jawab David.
Kakek Firman tersenyum pada mereka dengan ramah meski sedang tak berdaya saat ini. Ada rasa yang mengganjal di hatinya mendapati David mengajak anak istrinya ke rumahnya saat ini. Terlebih istri David sedang hamil besar. "Dara pasti kecewa," gumamnya dalam hati.
"Ajak mereka istirahat dulu," kata Pak Somat pada Dara yang sejak tadi berdiri di belakang.
"Mas silakan duduk dulu," kata Dara pada David. Dia sama sekali tidak berbicara pada Sofia.
"Yah, kakek itu siapa?" tanya Aksa. Akhirnya dia bertanya setelah merasa asing di tempat yang baru pertama kali dia kunjungi.
"Itu kakeknya Bu Dara," jawab David.
Dara membawa sebuah nampan yang berisi tiga cangkir teh di atasnya. "Silakan diminum."
"Pak, apa kakek sudah mendapatkan perawatan dokter?" tanya David pada Pak Somat. Sejak tadi dia terus menemani tamunya. Pak Somat tetangga terdekat Kakek Firman yang selama ini merawatnya selama Dara tinggal di kota. Dia sudah menganggap Kakek Firman sebagai orang tuanya sendiri.
"Hanya obat dari mantri desa. Di sini tidak ada dokter seperti di kota. Rumah sakit juga jaraknya amat jauh. Kami tidak bisa membawanya kalau tidak menggunakan mobil. Tapi warga di sini tidak ada yang punya mobil kecuali mobil bak pengangkut sayur," terang Pak Somat panjang lebar.
David menoleh pada istrinya. "Yang, bagaimana kalau kita bantu Kakek Firman agar mendapatkan perawatan di rumah sakit kita," usul David.
Sofia agak keberatan sebenarnya. Dia takut keluarga Dara akan selalu bergantung pada suaminya. Tapi mengingat jasa orang tua itu Sofia tidak enak jika menentang keinginan suaminya. "Bagaimana baiknya menurut Mas David saja," jawab Sofia pasrah.
"Dara, bagaimana kalau kita bawa kakek kamu ke kota. Dia bisa mendapatkan perawatan medis yang lengkap di sana. Kalau soal biaya biar aku yang menanggungnya. Ini sebagai balas budi karena pernah menyelamatkan nyawaku," kata David.
Dara seakan mendapatkan angin segar. David bersedia menolong kakeknya yang sedang sekarat. "Aku mana bisa menolak kebaikan Mas David," jawab Dara.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menelepon ambulans rumah sakit tempat aku bekerja. Lalu kakekmu akan dibawa menggunakan ambulan. Karena kondisinya yang lemah tidak memungkinkan untuk dibawa menggunakan mobil," jelas David.
Setelah itu David menelepon ambulans. Dia mengirim alamat tempat mereka berada sekarang. "Kita tunggu ambulans datang. Setelah itu kita sama-sama kembali ke kota," ucap David memberi tahu.
Pak Somat tidak menyangka kalau David orang yang berpengaruh. Dengan sekali telepon saja orang akan memenuhi panggilannya. "Aku penasaran sebenarnya apa kerja laki-laki ini?" batin Pak Somat.
Pagi sudah menjelang. Aksa tertidur di pangkuan ibunya. "Sayang biar aku yang gantikan kamu," kata David saat akan memindahkan kepala Aksa di pahanya.
Sofia bangun perlahan. "Mas di mana kita bisa membeli makanan, aku sangat lapar, ucap Sofia dengan jujur. Sebagai ibu hamil, dia memang tidak bisa menahan lapar seperti David.
"Neng, saya bawakan makanan," sahut Pak Somat sambil menunjukkan nasi bungkus untuk tamunya.
Sesaat kemudian seorang pemuda yang memakai seragam ASN memasuki rumah kakek Firman. "Eh, Jino sini nak bapak kenalin sama orang yang akan menolong Pak Firman," kata Pak Somat.
"Pak David dan istri perkenalkan ini anak sulung saya, namanya Jino. Dia bekerja di pemerintahan desa," terang Pak Somat yang sedang membanggakan anaknya. Jino pun menyalami David.
Jino duduk di depan David. Laki-laki itu terus memandangi David. "Jadi ini orang yang membuatku tertolak," batinnya.
Ya, Dara menolak Jino yang pernah menyatakan cintanya. Dara mengatakan bahwa dia memiliki seseorang yang dia sukai. Gadis itu juga mengungkapkan keinginannya belajar di kota karena ingin menemukan laki-laki yang dia sukai.
Sofia mengamati Jino yang sedang memandang suaminya tidak suka. "Kenapa dia melihat Mas David seperti itu?" gumamnya dalam hati.
"Mas Jino apa anda sudah sarapan?" tanya Sofia memecah ketegangan.
"Sudah, silakan dimakan saja," jawabnya dengan ramah.
"Mas apa mau aku suapi?" tanya Sofia.
"Ah tidak usah sayang, nanti aku makan setelah ini. Kamu makan duluan saja tidak apa-apa," kata David yang merasa tidak enak pada Pak Somat dan anaknya.
__ADS_1
"Sepertinya dia sangat menyayangi istrinya," gumam Jino merasa lega. Dia jadi berpikir laki-laki yang dianggap saingannya itu tidak akan berpaling dari istrinya kepada Dara.
Sesaat kemudian Dara keluar. "Dara kamu ke mana saja? Aku mencarimu," kata Jino to the point.
"Aku sedang mengelap badan kakek tadi. Ada apa Jino?" tanya Dara.
"Tidak, aku hanya merindukanmu. Bukankah sudah lama sekali kamu tidak kembali ke sini," jawab Jino sambil mengulas senyum lebar di wajahnya yang tampan.
Ya untuk ukuran laki-laki di desa Jino sangat tampan. Tapi Dara tak mau menoleh ke arahnya. Hatinya sudah terpaku pada David, laki-laki yang pernah dia tolong.
Sofia menguping pembicaraan mereka. "Ow ternyata laki-laki itu menyukai Dara. Mungkin aku bisa meminta bantuan darinya," pikir Sofia. Dia ingin Jino memperjuangkan cintanya agar Dara tak lagi menganggu rumah tangganya yang selalu harmonis.
"Mungkin nanti aku perlu bicara berdua dengannya."
Dara tak menghiraukan Jino. Dara memilih duduk di dekat David. Lelaki itu tampak kecewa. Sofia bisa melihat jelas perubahan raut mukanya. Jino pun keluar dari rumah itu.
"Mas aku ingin keluar sebentar aku ingin lihat-lihat halaman depan," kata Sofia meminta izin.
"Iya hati-hati sayang," balas David.
Sofia menyusul Jino ke depan. "Mas Jino tunggu!" panggil Sofia.
Jino mengentikan langkahnya, lalu menoleh. "Ada apa Bu?" tanya Jino pada wanita yang belum diketahui namanya.
"Panggil saja saya Sofia. Bisa kita duduk dan bicara di sana sebentar?" Sofia menunjuk bangku kosong yang ada di depan rumah Kakek Firman.
Kira-kira ngomong apa ya Sofia?
...♥️♥️♥️...
__ADS_1