Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Back to school


__ADS_3

April tidak menyangka akan kedatangan dua orang temannya. "Maaf rumahku berantakan," kata April yang merasa tidak enak.


"Pril kenapa kamu tidak masuk hari ini?" tanya Diva yang merasa khawatir.


"Duduk dulu yuk ceritanya panjang."


"Jadi kenapa kamu tidak masuk apa kamu sakit?" Kini Fabian ikut bersuara.


"Kemarin aku terkunci di dalam gudang di toko tempat aku bekerja." Ucapan April membuat Diva dan Fabian terkejut bukan main.


"Kok bisa apa tidak ada orang yang melihat kamu masuk ke dalam gudang? Kamu bukannya kerja di restoran Diva?" cecar Fabian.


"Waktu itu Mbak Tuti, teman kerjaku menyuruhku memasukkan barang ke gudang. Tapi aku tidak tahu kenapa pintunya tiba-tiba terkunci."


"Apa dia sengaja mengunci kamu dari luar Kalau tidak Kenapa dia meninggalkan kamu padahal sebelumnya dia tahu kalau kamu masuk ke dalam gudang?" tebak Diva.


"Aku tidak tahu aku ketakutan karena tempatnya sangat gelap. Waktu itu aku sudah berteriak tapi tidak seorangpun mendengar suaraku. Baru pagi ini aku ditemukan dalam keadaan pingsan."


April berusaha bicara sepelan mungkin agar ibunya tidak mendengar. "Apa? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu sudah sehat?" Fabian terlihat peduli pada gadis itu.


"Pemilik toko membawaku ke rumah sakit tapi aku menolak untuk dirawat di sana karena aku khawatir ibuku cemas menungguku pulang," terang April.


"Waktu itu aku butuh uang mendadak Jadi aku minta bantuan Diva untuk memberiku pekerjaan," jawab April. Fabyan merasa iba pada kehidupan yang dijalani oleh gadis yang disukai.


"Seandainya saja aku tidak bergantung pada orang tuaku saat ini aku pasti akan menolongmu, Pril," gumam Fabian dalam hati.


"Aku mohon jangan ada yang tahu kalau aku tidak masuk hari ini karena terkunci di gudang," mohon April pada Fabian dan Diva.


"Tenang saja kita bisa jaga rahasia kok," kata Diva meyakinkan sahabatnya.


"Eh iya kita ke sini nggak bawa apa-apa, maaf ya," ucap Fabian tidak enak.


April tersenyum. "Tidak apa-apa. Kalian mau mampir ke gubugku saja aku sudah senang."

__ADS_1


Fabian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Pril kita mau balik soalnya udah sore. Aku juga ninggalin mobilku di jalan soalnya."


"Oh iya, silakan. Maaf aku tidak sampai lupa memberi kalian minum." Yang sebenarnya April memang tidak punya gula atau teh yang bisa disuguhkan pada teman-temannya.


"Kami pulang ya Pril," kata Diva. April mengangguk.


"Hati-hati di jalan," pesan April pada kedua temannya.


Setelah kepulangan Diva dan Fabian, sang ibu bertanya pada anaknya. "Apa betul kamu ditemukan pingsan dan sempat dirawat di rumah sakit?" tanya Bu Dini memastikan.


"Iya, Bu. Apakah ibu mendengar apa yang aku katakan pada mereka?" tanya April. Bu Dini mengangguk lalu dia memeluk anaknya.


"Maaf telah membuat hidupmu menderita," ucapnya sambil terisak.


Tak lama kemudian Azriel pulang dari sekolah. Hari ini dia pulang telat karena mengikuti ekstrakulikuler. "Kakak." Azriel memeluk April ketika dia melihat kakaknya kembali.


"Aku kira kakak menghilang," ucapnya seraya mengurai pelukan. April mengusap air mata Azriel. "Mana mungkin kakak meninggalkan kalian."


"Hari ini masak apa Bu?" tanya Azriel. Perutnya lapar karena dia hanya membeli minuman di sekolah. Uang jajan dari April memang terbatas. Maklum mereka tidak punya banyak uang.


"Alhamdulillah," ucap April dan Azriel secara bersamaan. Meskipun hanya makan tempe dan tahu setiap hari mereka tidak bosan. April dan ibunya selalu mengingatkan Azriel untuk selalu bersyukur. Bu Dini juga selalu berkreasi mengolah tempenya tidak melulu digoreng. Kadang disambal kadang ditumis agar keduanya anaknya tidak bosan makan makanan yang berasal dari bahan yang sama.


Sementara itu di tempat lain Lovely bercerita pada Aksa kalau April pingsan dan dirawat di rumah sakit. "Tapi aku dan ibu sudah mengantarkan Kak April tadi siang."


"Kok bisa pingsan, Dek?"


"Katanya dia terkunci di gudang toko, Mas. Tapi aku rasa Kak April sengaja dikunci sama mbak Tuti deh," tuduh Lovely.


"Eh Lovely nggak boleh nuduh orang sembarangan sayang. Nanti kalau orangnya dengar terus tersinggung bagaimana?" Sofia menasehati anaknya.


"Orangnya nggak ada di sini, Bu," ucap Lovely sambil terkekeh kecil.


"Mas gimana kalau kita selidiki. Di toko ada CCTV kan Bu?" tanya Lovely yang seolah ingin menjadi seorang detektif.

__ADS_1


Sofia dan Aksa tertawa melihat tingkah Lovely yang menggemaskan. "Kamu ini kebanyakan nonton si gundul," ledek Aksa sambil mengacak rambut anak kecil itu.


"Bu aku mau masuk ke kamar mau ngerjain tugas," pamit Aksa.


Di dalam kamar Aksa memikirkan April. "Kasian juga dia. Selalu menderita bagaimana caraku untuk bisa membantunya?" gumam Aksa seraya menatap langit-langit kamarnya.


Keesokan harinya, April tidak berjualan koran karena dia meninggalkan sepedanya di sekolah. "Pak bapak lihat sepeda saya nggak?" tanya April. Seingatnya dia memarkir sepedanya di tempat parkir.


"Kemaren belum kamu ambil?" April menggeleng. "Kirain sudah, dari kemaren saya sudah tidak melihat sepeda kamu," ungkapnya. April meluruhkan bahu. Cobaan apalagi ini kenapa dia selalu tertimpa sial.


Aksa yang datang lebih awal melihat April sedang mengobrol dengan Satpam sekolahnya. Setelah April pergi Aksa mendekati Satpam tersebut. "Pak, April kenapa?" tanya Aksa.


"Sepedanya hilang, Den," jawab Satpam tersebut. Aksa mengerutkan keningnya. Aksa pun memiliki ide untuk membelikan dia sepeda. Dia akan menggunakan uang tabungannya untuk membantu April.


Setelah itu Aksa bergabung dengan teman-temannya. "Dafi," panggil Axel dari kejauhan.


"Daf, aku nyontek PR dong. Semalam aku lupa ngerjain. Ya ya?" Axel menaik turunkan alisnya.


"Bayarannya apa?" tanya Aksa.


"Ya ampun sama sahabat sendiri pelit banget Daf, elah," protes Axel.


Aksa mengeluarkan bukunya dari dalam tas. "Mau nggak?" Axel hampir saja mengambil buku itu tapi Aksa menjauhkan bukunya.


"Tapi kamu harus menuruti perintahku."


"Apapun Daf. Demi PR, gila aja ini pelajaran Pak Hanafi guru killer seantero sekolah."


"Lebay," cibir Aksa setelah itu memberikan bukunya pada Axel. "Dasar."


April sedang sibuk menyalin catatan dari buku Diva. "Pril kamu mau ke kantin nggak?" Tanya Diva.


"Kamu duluan aja. Aku belum selesai menyalin. Oh ya kemaren jadi ulangan matematika nggak?" Diva mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah habis ini aku mau menemui Pak Restu ke ruang guru," kata April pada Diva. Diva pun meninggalkan April seorang diri di kelasnya.


Tiba-tiba seseorang meletakkan sekotak makanan di meja April. Siapakah dia?


__ADS_2