
Sore hari ketika waktunya pulang kerja, Sofia menunggu suaminya di kantin seperti biasa. Sementara David baru persiapan keluar. Tiba-tiba dia ditegur oleh para perawat yang lewat. "Nungguin Dokter David ya, Dok?" tanya salah seorang perawat. Sofia mengangguk. Tapi dia menatap aneh pada kedua orang yang mendadak duduk di sampingnya.
"Kita temani ya, Dok?" Sebenernya mereka hanya kepo pada hubungan Dokter Sofia dan David.
"Boleh," jawab Sofia. Dia tidak terlalu akrab dengan keduanya jadi dia hanya diam menikmati minuman yang dia pesan.
Tak lama kemudian seorang laki-laki tampan berjalan ke arahnya. Sofia tersenyum ketika melihat suaminya. David juga membalas senyum istrinya itu. "Apa sudah lama menunggu?" tanya David.
"Tidak terlalu," jawab Sofia.
Sedangkan kedua perawat yang ingin memastikan hubungan David dan Sofia kini mendapatkan jawaban atas rasa penasaran mereka. Mulut mereka menganga tak percaya ketika melihat David bersikap manis pada Dokter Sofia.
Setelah itu David mengulurkan tangan, Sofia berdiri dan membalas uluran tangan suaminya. Tak lupa senyum merekah di wajahnya yang cantik. Pasangan pengantin baru itu pun berjalan sambil bergandengan tangan.
Mereka mampir ke sebuah restoran sebelum pulang ke rumah. David telah memesan restoran khusus untuk mereka berdua. Di sana dia memberikan sebuah buket bunga untuk istrinya. "Apa ini, Mas?" tanya Sofia yang terkejut dengan surprise yang diberikan oleh suaminya.
"Apa kamu menyukainya, sayang?" Maaf acara pernikahan kita tidak mewah kemaren."
Sofia tidak merasa keberatan. "Aku tidak perlu pernikahan mewah. Yang penting dengan siapa aku menikah," ucapnya sambil tersenyum.
David terbawa suasana. Dia pun menyentuh dagu istrinya. Lalu mengecup bibir yang membuatnya candu itu walau sekilas. Pipi Sofia terasa memanas. Dia terkejut mendapatkan serangan dadakan dari suaminya.
"Mas jangan gini, ini di tempat umum," bisik Sofia yang merasa malu.
David tersenyum melihat tingkah lucu Sofia. "Restoran ini sudah aku booking sayang. Jadi kamu tenang saja."
Sofia sedikit merasa lega. Setelah itu mereka makan bersama. Tak ada kegiatan lain. David hanya ingin menikmati suasana romantis setelah mereka menikah.
"Mas, sebaiknya kita pulang sekarang sebelum maghrib," ajak Sofia.
__ADS_1
"Sayang aku ingin mengajakmu tinggal di apartemen milikku. Apa kamu keberatan?" tanya David meminta pendapat istrinya.
"Tidak, Mas. Aku aka menurut pada suamiku." Ucapan Sofia membuat David lega. Kini tinggal meminta izin pada mertuanya.
Sesampainya di rumah, David dan Sofia langsung menuju ke kamar. "David, Sofia nanti kalian turun untuk makan ya setelah mandi," perintah mama Raina.
"Kami sudah makan di luar, Ma," jawab Sofia.
"Mas apa mau aku siapin air hangat?" tanya Sofia. Sebagai seorang istri dia ingin menjalankan tugasnya dengan baik.
David tersenyum menyeringai. "Bagaimana kalau kita mandi bersama," bisik David ke telinga Sofia. Wanita itu jadi meremang. Tapi dia tidak menolak keinginan suaminya. David tersenyum senang ketika mendapat jawaban yang dia mau.
Seketika David mengangkat badan Sofia. "Turunkan aku, Mas."
"Biarkan aku menggendongmu agar kamu tidak capek." Sebuah kecupan mendapat di bibir Sofia setelah dia berkata demikian.
Sofia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Mereka beradu tatap hingga David membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah itu mereka berdoa dengan harapan yang berbeda.
"Semoga Engkau segera memberikan kami keturunan Ya Allah." David
"Semoga aku berjodoh dengan suamiku hingga maut memisahkan." Sofia
Sofia mencium tangan suaminya dengan takzim usai berdoa. "Mas apa kamu akan menyampaikan keinginan kamu pada mama dan papa?" tanya Sofia mengenai niatan suaminya yang mengajak pindah ke apartemen.
"Iya, tentu saja. Aku tidak mau mereka salah paham. Aku hanya ingin mandiri." Sofia mengangguk paham.
Setelah itu David mengajak istrinya turun. Julian dan Raina telah selesai makan malam. "Pa, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian," kata David.
__ADS_1
"Duduklah!" perintah Julian pada anak dan menantunya. "Apa yang ingin kamu sampaikan? Katakan dengan jelas!" Julian memang selalu bersikap datar dan terkesan dingin.
"Aku akan mengajak Sofia pindah ke apartemen," tutur David. Dia menunggu persetujuan dari ayah mertuanya itu. Kalau ibu mertuanya pasti mendukung.
Julian berpikir sejenak. "Kenapa tidak tinggal saja di sini?" tanya Julian.
"Kami sudah menikah tentu kami ingin mandiri, Pa," jawab David.
"Omong kosong. Apa kalian tidak membutuhkan kami? Atau kalian hanya tidak ingin privasi kalian terganggu?" tuduh Julian.
David menghela nafas. "Itu juga termasuk," jawabnya dengan jujur. Raina menahan tawa. Tapi Julian terlihat geram.
"Cih, kalian kan masih bisa melakukannya di sini? Tidak akan ada yang mengganggu kalian," kata Julian dengan ketus.
"Pa, Mas David hanya ingin memulai kehidupan rumah tangga kami dengan cara kami sendiri. Bukankah tidak akan nyaman bagi kami jika kalian mencampuri urusan rumah tangga kami? Maaf, Pa. Aku hanya menyampaikan pendapatku." Tampaknya Sofia lebih berani mengungkapkan uneg-unegnya.
Julian ingin menentang tapi keinginan mereka begitu kuat. "Baiklah," jawab Julian singkat. Ada rasa tidak rela ketika putrinya akan keluar dari rumahnya.
Sofia mendekati ayahnya. "Aku akan sering-sering datang ke sini, Pa," bujuk Sofia. Julian mengelus pipi anaknya dengan sayang.
Setelah itu David membantu istrinya mengemasi barang-barangnya. "Tidak usah bawa banyak barang sayang. Nanti akan kuberikan yang baru."
"Tidak usah, Mas. Lagian mubadzir jika harus buang-buang uang untuk beli pakaian baru padahal pakaian lama masih bisa dipakai."
David menyukai sifat Sofia yang tidak boros seperti itu. Itu artinya dia tidak suka foya-foya dalam membelanjakan uangnya. "Beruntung sekali aku memiliki istri sepertimu," puji David. Tak lupa dia memberikan kecupan singkat di kening istrinya.
"Apa kamu capek? Biar aku pijat."
Sofia menggelengkan kepalanya. "Seharusnya aku yang memijat suamiku ini."
__ADS_1
"Baiklah, lakukan sesukamu." David merentangkan tangan lebar-lebar. Sofia malu-malu. Tapi dia berhambur ke pelukan suaminya.
Kemudian David mulai menyentuh istrinya dengan sentuhan lembut penuh damba hingga membuat Sofia menginginkan sesuatu yang lebih. Sentuhan David yang amat lembut menyiratkan kalau dirinya begitu mencintai sang istri.