Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Buang kerok


__ADS_3

Brak


Jamal membuka pintu rumahnya dengan paksa. Dia pulang dalam keadaan mabuk. "Pak, apa kamu melihat April? Dia belum pulang sampai sekarang. Ibu sangat khawatir."


"Aku telah menjual anak sialan itu," racaunya. Bu Dini melotot tak percaya.


"Apa kamu gila, Pak? Di mana April sekarang? Ayo pergi selamatkan dia, Pak!" paksa Bu Dini sambil menarik tangan suaminya.


Jamal yang saat itu di bawah pengaruh minuman beralkohol mendorong istrinya. "Untuk apa? Biarkan dia bersama rentenir itu. Dia sudah terlalu lama menumpang di rumah kita."


"Jaga omongan kamu, Pak! April itu telah banyak membantu kita. Dia yang mencari nafkah selama ini. Kamu kerjanya cuma main sama judi saja. Dasar laki-laki tidak berguna!" Bu Dini meluapkan amarahnya.


Jamal yang tak terima malah melempar botol alkohol yang dia pegang ke arah kompor. Alhasil dapur pun jadi terbakar akibat tabung gas yang meletup.


Bu Dini segera membangunkan Azriel sayang saat mereka akan keluar asap terlalu tebal dan mereka pingsan karena kehabisan oksigen. Jamal yang awalnya mabuk tiba-tiba sadar dan berlari agar dia tidak dicurigai oleh warga.


Waktu itu ada warga yang sedang ronda keliling. Mereka menemukan api keluar dari atap rumah Bu Dini. Warga pun berbondong-bondong untuk memadamkan api. Sayangnya rumah Bu Dini yang sebagian terbuat dari kayu memudahkan api merambat cepat.


Salah seorang warga memanggil petugas pemadam tapi mereka baru datang satu jam kemudian. Rumah Bu Dini sudah habis terbakar. Warga pun tak sempat menyelamatkan pemilik rumah.


Saat itu April yang baru turun dia melihat warga berlalu lalang sambil membawa ember. "Pak ada apa ini?" tanya April pada salah seorang warga yang dia kenal.


"April? Kamu dari mana saja? Rumahmu kebakaran," ucapnya memberi tahu April.


April langsung berlari menuju ke rumahnya. Aksa juga mengikuti April. Betapa terkejutnya dia ketika melihat api berkobar dan membakar habis rumahnya. "Ibu, Azriel," teriak April.

__ADS_1


April ingin melangkah tapi Aksa langsung memeluknya. "Lepaskan aku ingin mencari ibuku."


Setelah beberapa jam menunggu api akhirnya padam. Jasad Bu Dini dan Azri ditemukan sudah tak berbentuk. April menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa menahan sakit karena kehilangan orang yang dia cintai. "Ibu, Azriel jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersama kalian." April menangis hingga air matanya kering.


Aksa selalu berada di samping kekasihnya. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan April. Dia hanya bisa setia menemani April saat ini. David, Sofia dan Erik datang ke pemakaman keluarga April. April yang merasa kehilangan tidak mau meninggalkan pemakaman itu.


"Sayang, aku mohon jangan seperti ini." Aksa menangkup kedua pipi April agar gadis itu melihatnya saat berbicara.


"Aku ingin ikut dengan ibu," ucap April di sela-sela tangisannya. Aksa pun ikut sedih dia memeluk April dengan erat. Para orang tua hanya bisa menunggu hingga April tenang.


Tak lama kemudian April merosot. Dia pingsan karena kelelahan. David memerintahkan Aksa membawa April ke mobil. Mereka tidak membawa gadis itu ke rumah sakit melainkan ke rumah David.


Tiba-tiba David memiliki ide. "Bagaimana kalau kamu lakukan tes DNA di rumah sakit yang berbeda. Mungkin saja hasilnya lain," usul David. Erik mengerutkan kening.


"Ya, apa yang kamu katakan benar Dave. Jika kali ini juga negatif aku akan mengadopsi April sebagai anakku. Aku tidak tega melihatnya hidup sebatang kara," jawab Erik.


"Tunggu apa lagi, ambillah bagian tubuhnya yang kamu perlukan lalu lakukan tes DNA di tempat lain," desak Sofia. Dia juga tidak bisa membiarkan April menderita.


Selama seharian Lovely menemani April. Dia yang merawat April dengan mengganti kompres di kepalanya.Tak lama kemudian April membuka mata. "Aw, kepalaku," ucapnya seraya menahan sakit.


"Ma, kakak sudah sadar," teriak Lovely. David, Sofia, dan Aksa berlari ke kamar adiknya.


Aksa langsung memeluk April dan menciumi keningnya. "Ehem." Sofia berdehem supaya Aksa mengontrol dirinya.


Aksa menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Dia pun bangun dan memberikan ruang pada sang ibu. "Nak, kamu sudah baikan?" tanya Sofia dengan lembut. April kembali menangis. Dia masih mengingat keluarganya.

__ADS_1


Sofia cepat-cepat memeluk gadis itu. "Tinggallah dengan kami sementara waktu," pinta Sofia.


April mengangguk. Dia tidak punya pilihan karena rumahnya terbakar habis dia pun tak punya uang untuk mencari tempat kos atau pun rumah kontrakan. Aksa diam-diam tersenyum karena dia bisa satu rumah dengan April. Begitu juga dengan Lovely, gadis itu amat gembira.


"Bu, kita jalan-jalan yuk ajak Kak April beli baju," seru Lovely pada Sofia. Sofia mengangguk setuju.


"Pril, mau ya? Sekalian kita beli seragam kamu," bujuk Sofia. Dia ingin membuat gadis itu melupakan kesedihannya. April menggeleng dia enggan membeli sesuatu. Hatinya masih sedih akibat kehilangan ibu dan adiknya. Sedang ayahnya tidak tahu di mana dia berada.


"Ya sudah kamu istirahat saja!" perintah Sofia. Sofia mengajak Lovely keluar dari kamar. Sebelum keluar Lovely mencium pipi April. "Aku sayang sama kakak. Jangan bersedih lagi. Kami juga keluargamu," ucap gadis kecil itu. April tersenyum meski dipaksakan.


"Bagaimana, Bu?" tanya Aksa.


"Kita tunggu saja besok. Mas Aksa antar ibu ke toko baju kita beli baju dan seragam buat April. Besok ajak dia ke sekolah agar dia tidak murung terus," usul Sofia.


"Siap, Bu. Nanti aku yang pilih bajunya ya," ucap Aksa bersemangat. Dia ingin membeli baju-baju bagus untuk kekasihnya. Aksa tahu selama ini April hidup serba kekurangan dia ingin memanjakan April sekali-kali.


"Ibu jadi curiga kamu suka ya sama April?" tanya Sofia mengintrogasi. Aksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia ingin jujur tapi dia rasa belum saatnya. Aksa takut kena ceramah Sofia.


"Maaf, Pril. Sementara kita backstreet dulu," gumam Aksa di dalam hatinya.


Di tempat lain Jamal sedang luntang-lantung akibat rumahnya kebakaran. "Sial, perutku lapar."


Ketika dia melihat seorang ibu-ibu membawa tas dia pun menjambret tas ibu-ibu tersebut. Langkahnya yang kurang panjang membuat Jamal cepat ditemukan warga. Apalagi ibu-ibu yang dicopet itu berteriak dengan kerasnya.


Ini pertama kalinya Jamal mencopet tapi dia langsung ketahuan. Perbuatan buruk yang dia lakukan akhirnya mendapatkan balasan. Warga memukuli Jamal hingga babak belur. Setelah itu dia digiring ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2