Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Akhir bahagia


__ADS_3

Ternyata dugaan Dara benar adanya. Jino jauh-jauh datang ke kota untuk mengungkapkan perasaannya. Menengok kakek Firman hanya sebagai alasan agar dia bisa menemui Dara secara langsung. Karena dia tahu Dara tidak akan mau jika diajak ketemuan di suatu tempat.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Jino, Dara malah kabur begitu saja. Jino pun tak tinggal diam. Dai menyusul wanita itu. "Dara," panggil Jino. Dara pun menghentikan langkahnya.


"Jika kali ini aku menolak aku lagi maka aku akan benar-benar mundur. Jujur aku lelah menunggumu. Setelah sekian lama menanti tapi kamu tak juga membukakan hati untukku. Aku akan berhenti mengejarmu jika itu maumu," kata Jino.


Dara meneteskan air mata. "Bagaimana bisa aku menerima orang sebaik kamu? Bahkan kamu yang telah mengetahui niat jahatku masih tetap menerima aku apa adanya. Aku tidak pantas untukmu Jino."


Jino berjalan mendekat. "Semua orang pernah melakukan kesalahan. Aku akan anggap kesalahanmu sebagai kekhilafan sesaat. Mari kita mulai dari awal lagi," bujuk Jino.


Dara mengangguk pelan. Dia tak lagi mengharapkan David apa salahnya menerima Jino, orang yang tulus mencintai dia. Seiring berjalannya waktu cinta yang baru dipupuk akan bersemi pada saatnya nanti.


Jino memeluk Dara saking senangnya. Sofia yang menyempatkan diri datang ke rumah sakit saat itu tak sengaja melihat pasangan baru itu berpelukan. Dia tersenyum lega. "Akhirnya kami menemukan kebahagiaan kamu Dara. Semoga kalian selalu langgeng."


Sofia meninggalkan mereka berdua kemudian berjalan ke ruangan suaminya. Akan tetapi di tengah perjalanan menuju ke sana dia dikejutkan oleh beberapa perawat dan dua orang yang akan menuju ke ruang UGD. Kuat dugaan kalau pasien tersebut adalah korban kecelakaan.


Sofia tidak mau melihat korban tersebut. Karena badannya penuh dengan darah. Sofia pun segera menuju ke ruangan suaminya.


"Sayang kamu kenapa pucat begitu?" tanya David ketika istrinya baru masuk.


"Aku melihat korban kecelakaan yang ada di sana," jawab Sofia. Setelah itu David pun memberi minuman pada istrinya agar lebih tenang.


"Apa sudah baikan?" tanya sang suami. Sofia mengangguk.


"Ada apa kamu ke sini? Apakah Aksa sudah pulang?" tanya David.


"Iya, aku tinggal di rumah bersama asisten rumah tangga kita. Aku ke sini hanya ingin menengok Kakek Firman. Bagaimana keadaannya?" tanya Sofia.


"Aku bangga sama kamu sayang. Walau cucunya sudah menyakiti kamu tapi kamu masih peduli dengan keluarganya."

__ADS_1


"Jangan memujiku seperti itu. Aku hanya prihatin pada orang yang telah menolongku, Mas. Aku berharap dia segera sembuh."


"Akan aku tanyakan pada dokter yang merawatnya nanti. Apa kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan di kantin?" tanya David.


"Baiklah, tapi sebelumnya aku ingin bercerita."


David pun meraih pinggang istrinya lalu membuatnya terduduk di atas pahanya. "Mas aku berat lho," ucap Sofia tidak enak.


"Tidak apa-apa. Aku ingin mendengarkan cerita kamu sambil memeluk memeluk istriku yang cantik ini," goda David.


"Aku melihat Mas Jino dan Dara jadian," ucap Sofia sambil mengulas senyum.


"Semudah itu dia move on dari aku?" gurau David. Sofia pun memukul dada bidang suaminya.


"Jadi kamu kecewa dia jadian dengan orang lain?" tanya Sofia sambil mengerucutkan bibirnya.


David terkekeh mendengar pertanyaan istrinya. "Kamu sangat menggemaskan kalau sedang ngambek seperti itu," ucap David sambil mencubit pipi istrinya.


"Iya, sayang. Bahkan seribu pelakor pun akan aku hempaskan begitu saja. Aku hanya mencintai istriku ini."


Di saat yang bersamaan janin yang ada di perut Sofia bergerak. "Mas dia merespon," ucap Sofia memberi tahu.


"Hallo, sayang. Ayah sudah tidak sabar bertemu denganmu." David mencoba berbicara pada anaknya.


"Nanti kalau dia lahir akan kamu namai siapa Mas?" tanya Sofia.


"Aku belum ada rencana sayang. Tapi bagaimana kalau kita pakai nama Lovely. Sambungannya kita pikirkan nanti kalau anak kedua kita sudah lahir," usul David.


Sofia tersenyum pada suaminya. Lalu dia memberi kecupan kecil di bibir David. "Apa artinya ini?" tanya David.

__ADS_1


"Aku sangat menyukainya," jawab Sofia. "Oh ya kalau Mas sudah selesai sebaiknya kita pulang. Aksa pasti menunggu kita di rumah."


"Baiklah, ayo!" David melepas jas kedokterannya lalu dia mengajak istrinya keluar.


Di saat yang bersamaan mereka berpapasan dengan pasangan yang baru jadian, Jino dan Dara. David dan Sofia berhenti untuk menyapa keduanya. Akan tetapi Dara lebih dulu menangis karena menyesali perbuatannya. Dia malu sekali pada David dan istrinya.


Sofia memeluk Dara. "Aku minta maaf kemaren sudah berlaku kasar padamu," kata Sofia.


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf pada kalian. Aku telah berbuat salah hingga berencana menghancurkan rumah tangga kalian," ucap Dara sambil terisak.


Sofia mengurai pelukannya. "Sudahlah, anggap saja ini bagian dari masa lalu. Yang penting sekarang kita berdamai. Aku sudah memaafkan kamu, Dara. Hiduplah bahagia dengan orang yang benar-benar mencintai kamu." Sofia melirik ke arah Jino. Jino tersenyum padanya.


"Saya akan kembali hari ini juga. Saya titip Dara maaf kalau saya merepotkan kalian," kata Jino pada David dan Sofia.


"Tenang saja aku berencana kembali ke desa karena aku telah mengundurkan diri," ungkap Dara. Pengunduran dirinya sebagai bukti kalau dia ingin menjaga jarak dengan David dan keluarganya dalam artian tidak mengganggu hubungan mereka lagi.


"Kenapa harus mengundurkan diri segala?" tanya Sofia.


"Saya rasa itu lebih baik karena sebentar lagi saya akan melamar Dara," ungkap Jino.


Dara terkejut dengan pengakuan Jino. Tapi dia bahagia karena akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang tulus mencintai dia. "Selamat Dara," kata David.


Dara tak bermain menatap David. Dia sangat malu pada laki-laki itu dan keluarganya. Sofia menyadari hal tersebut. "Dara sebaiknya kalian nikmati hari ini berdua. Bukankah kakek Firman sudah ada suster yang menjaga?" Usul Sofia.


Jino dan Dara saling memandang malu-malu. Setelah itu Sofia dan David pamit pulang. "Aku sangat lega karena akhirnya semua orang hidup bahagia," gumam Sofia.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya David ketika melihat istrinya melamun.


"Sangat baik, Mas. Aku senang karena tidak ada yang bisa memisahkan kita," kata Sofia.

__ADS_1


"Iya, sayang. Dalam hidup berumah tangga memang selalu ada cobaannya tapi yakinlah Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan makhluk-Nya." Sofia mengangguk setuju.


__ADS_2