
Hari ini hujan turun dengan lebat. April masih menunggu jemputan di depan sekolahnya. Tak lama kemudian Fabian turun dari mobil. Dia memakai payung dan berjalan ke arah adiknya.
"Omo, pangeran tampan dari mana itu?" seru salah seorang siswi SMA tersebut.
"Gue pen nyolek boleh nggak?"
"Mimpi lo!" sahut teman yang lain.
"Pril ayo masuk ke mobil!" ajak Fabian.
"April pulang bareng aku," seru Aksa yang datang secara tiba-tiba.
"OMG, dua cowok memperebutkan satu cewek kek April? Nggak banget deh. Mending gue ke mana-mana," ucap satu siswi yang berdiri tak jauh dari sana. Dia mengucapkan ejekan itu dengan penuh percaya diri padahal temannya yang kain memandang muak pada gadis itu.
Aksa menarik lengan April. "April udah janjian sama aku. Aku ingin mengajak dia ke suatu tempat."
Fabian juga menarik lengan April bagian sebelah. "Papa bilang dia harus langsung pulang," balas Fabian.
"Aku akan izin sama Om Erik." Aksa tak mau kalah.
"Aku yang nggak ngizinin adikku jalan sama kamu." Kedua pemuda itu saling menatap seolah ada kilatan petir yang keluar dari mata mereka.
"Cukup! Kalian jangan bertengkar. Kak Fabian pulang dulu aja. Aku sudah janjian sama Mas Aksa. Tadi aku juga sudah izin sama papa," ujar April pada kakaknya. Fabian melepas pegangan tangannya.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan pulang malam-malam," kata Fabian ketus. Aksa tersenyum mengejek dan melambaikan tangan pada calon kakak iparnya itu.
"Yuk masuk mobil!" ajak Aksa. Dia memayungi April hingga masuk ke dalam mobil. Kemudian pemuda itu masuk ke kursi kendali.
"Badan kamu basah." April memberikan handuk kering yang tersedia di mobil pada kekasihnya.
"Terima kasih." Aksa menerima handuk itu. "Berangkat sekarang?"
"Mas Aksa mau ajak aku ke mana?" tanya April penasaran.
"Main seperti biasa terus kita cari makan. Ada yang aku omongin sama kamu di sana nanti," kata Aksa memberi tahu. Dia menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan area sekolah.
Seperti biasa Aksa selalu mengajak April ke arena games yang ada di salah satu mall. Mereka bermain sampai puas. Aksa paling bisa menyenangkan April. Sebelum mereka jadian, April tidak pernah mengunjungi arena bermain itu.
"Sebagai gantinya aku traktir deh," sahut Aksa. April pun menarik tangan kekasihnya.
"Udah lama aku pengen makan di sini." April mengajak Aksa makan di restoran Jepang.
Aksa tersenyum tipis. "Ayo kita masuk! Pesan sesukamu," perintah Aksa pada kekasihnya itu. Aksa sangat menyayangi April. Dia selalu menuruti semua keinginan gadis itu. April memang pantas mendapatkan kebahagiaan setelah semua yang dia alami selama ini.
"Ihk, kok mentah sih. Aku nggak jadi makan," protes April ketika melihat makanan yang tersaji di depannya. Dia meletakkan sumpit yang sedang dia pegang.
Aksa terkekeh. "Kebanyakan makanan Jepang memang kek gini." Aksa mengacak gemas rambut April. Wajah April bersemu merah.
__ADS_1
"Oh ya, Mas Aksa mau ngomong apa?" tanya April.
"Aku mau kuliah di luar negeri." Ucapan Aksa membuat April sedih. Matanya berkaca-kaca. Selama ini hanya Aksa yang benar-benar menjadi penyemangat hidupnya setelah kepergian keluarga gadis itu.
Aksa menggenggam tangan April. "Apa kamu keberatan?" tanya Aksa. April tidak berhak melarang karena dia hanya pacar bukanlah bagian keluarga Aksa. Dia juga sadar tidak mungkin Aksa memenuhi permintaannya.
"Apa harus kuliah di luar negeri?" tanya April dengan wajah sendu. Aksa tersenyum dia sudah mendapatkan jawaban.
"Aku akan tetap di sini bersamamu. Bagaimana bisa aku meninggalkan kamu yang selalu aku rindukan."
April memeluk Aksa secara tiba-tiba. "Jangan pergi! Aku tidak akan semangat menjalani hidupku jika tidak ada Mas Aksa." Sesaat kemudian dia melepas pelukannya. "Nanti di sana kamu lirik-lirik cewek lain lagi?" tuduh April pada kekasihnya.
Aksa terkekeh mendengarnya. "Bagaimana kalau kita menikah dulu? Apa mungkin dengan begitu kamu akan lebih tenang. Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan menjadi milikmu seutuhnya," bisik Aksa di telinga April.
April menepuk bahu pemuda itu. April sudah sering mendengar gombalan Aksa. "Jangan aneh-aneh. Fokus saja kuliah. Lamar aku setelah Mas Aksa menyelesaikan study."
Aksa tersenyum tipis. Berbeda dari biasanya kali ini April seolah memberi kode agar kelak menikahinya. Aksa dan April saling berpandangan. Ingin sekali Aksa mengecup bibir ranum itu tapi apalah daya sang ibu sudah mewanti-wanti agar Aksa bisa menjaga kehormatan April. Dia menempelkan dua jarinya ke bibir lalu memindahkannya ke bibir April.
"I love you my sweat heart," ucap Aksa dengan tulus.
...♥️♥️♥️...
Siapa nih yang punya pasangan semanis Aksa?
__ADS_1