
April menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Dia telah berpikir dan mengambil keputusan. "Aku tidak tahu harus bilang apa, jujur aku sangat kaget mendengar ungkapan perasaan dari kakak. Namun, bolehkah aku jujur dengan perasaanku?" Fabian mengangguk dia merasa tidak enak. Semua orang menunggu jawaban April.
"Aku tahu selama ini aku banyak merepotkan kakak. Aku tidak pantas menerima kakak sebagai pacarku karena kita berbeda kasta. Jujur saja aku takut ada orang-orang yang tidak suka dengan hubungan kita. Aku lebih memilih menghindari musuh dari pada setiap hari mendapat perlakuan buruk dari orang lain. Hidupku sudah sulit jika aku egois maka aku akan memanfaatkan kakak karena kakak kaya. Tapi aku bukan gadis yang gila harta. Bagiku kerja kerasku membuat aku sadar jika sesuatu tidak didapat dengan instan."
"Jadi intinya kamu menolak aku?" tanya Fabian memastikan. Jujur dia kecewa karena April telah menolaknya di depan umum.
April mengangguk membenarkan ucapan Fabian. "Maaf," ucap April sambil menunduk. Dia merasa tidak enak tapi dia tidak mau menyesal. Semua orang kecewa dengan keputusan yang diambil oleh April. Tapi mereka menghargainya.
Fabian berdiri. "Baik, aku tidak akan memaksa kamu. Aku yakin jika saatnya nanti kamu akan menyesal telah menolak aku," balas Fabian. Dia pergi dengan hati yang terluka.
Di depan kelas April dia berpapasan dengan Aksa. Fabian mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya. Dia yakin seratus persen jika April menolak dirinya karena menyukai Aksa.
Imam dan Axel menyusul Fabian. Sedangkan Aksa memilih untuk kembali ke kelasnya. Dia tidak mungkin memanfaatkan kesempatan mendekati April di saat sahabatnya patah hati.
"Kok lo nolak Fabian sih Pril?" tanya salah satu temannya di kelas.
"Aku tidak pantas untuk laki-laki setampan dia. Kalian lebih pantas," gurau April.
"Kalau ditanya mau sih nggak masalah. Lah dia melirik kita aja ogah," ucapnya meledek dirinya sendiri tapi diikuti oleh tawa yang lainnya.
Setelah pulang sekolah, April menunggu angkot di pinggir jalan seperti biasa. Namun, sebuah mobil berhenti di depannya. Pemilik mobil itu membuka kaca jendelanya. "Ayo naik!" perintah Aksa.
"Nggak usah, Kak. Aku naik angkot aja," tolak April yang merasa tidak enak.
Mau tak mau Aksa melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. "Mau kerja di toko roti ibu kan?" tanyanya memastikan. April mengangguk.
"Ya udah ayo bareng." Aksa menarik tangan April. Gadis itu terpaksa mengikuti langkah Aksa dengan terseok-seok.
Dia merasa tidak enak karena semua siswa memperhatikan mereka. "Jangan hiraukan yang lain. Kamu nggak salah jadi jangan takut."
Mereka pun mengendarai mobil menuju ke toko roti milik keluarga Aksa. "Aku dengar Nesya akan mengganti sepeda kamu?" tanya Aksa membuka pembicaraan.
__ADS_1
April terlalu canggung duduk di sebelah pemuda tampan seperti Aksa.
"Iya, Kak."
"Apa kamu memaafkan dia?" tanya Aksa.
"Mau nggak mau. Aku sudah setuju saat dia menawariku sepeda baru. Hehe aku ini materialistis."
"Kamu nggak materialis tapi kamu realistis. Dia memang sudah seharusnya mengganti sepeda yang telah dia rusak. Kamu itu terlalu polos Pril." Aksa mengacak rambut April sehingga membuat April mematung.
Saking tegangnya dia sampai menahan nafas ketika Aksa menyentuh kepalanya. Jantung April berdegup kencang mendapatkan perlakuan manis dari Aksa.
"Pril, April. Kenapa kamu memegangi dadanya seperti itu? Apa kamu sesak nafas?" tanya Aksa cemas. Dia melirik sekilas ke arah April tapi gadis itu masih butuh waktu untuk menenangkan diri.
"April," panggil Aksa sekali lagi.
"Aku tidak apa-apa, Kak." Ucapan April membaut Aksa merasa lega.
"Oh ya, kenapa kamu menolak ungkapan cinta Fabian padamu?" tanya Aksa penasaran.
April menoleh pada Aksa. "Karena aku ingin fokus belajar," jawab April sekenanya.
"Lagi pula kami berbeda kasta. Dia orang kaya sedangkan aku anak orang miskin. Nanti apa tanggapan keluarganya kalau mereka tahu anaknya berpacaran dengan orang miskin sepertiku," jawab April dengan sendu.
Kesempatan ditembak oleh cowok most wanted di sekolah adalah kesempatan langka tapi April menyia-nyiakan kesempatan itu hanya karena merasa minder.
"Dengar ya Pril. Apa misalnya kalau kamu jadian sama Fabian akan segera menikah?" April menggeleng.
"Lalu kenapa harus tahu orang tua segala? Urusan kalian ya kalian untuk saat ini orang tua belum berhak tahu." Aksa menasehati April.
"Jadi aku harus terima cintanya Kak Fabian?"
__ADS_1
"Jangan!" Aksa mengerem secara mendadak. kepala April jadi kepentok dashboard.
"Sakit, Kak."
"Maaf, maaf." Aksa menyentuh bagian kepala gadis itu lalu meniupnya. Jantung April serasa ingin lari dari tempatnya.
"Cukup, Kak!" April meminta Aksa berhenti meniup kepalanya. Jika tidak sudah bisa dipastikan April perlu perawatan jantung.
"Kenapa? Apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Aksa. April hanya mengangguk lemah.
Sesaat kemudian Aksa kembali melajukan mobil. Tak lama setelah itu keduanya sampai di depan toko roti. Ketika mereka baru sampai orang-orang ramai di dalam toko. "Ada apa ya Kak?"
Aksa menggedikkan bahu. "Ayo kita cari tahu!" April mengangguk setuju.
Saat mereka masuk, April dan Aksa melihat Tuti terduduk di lantai seraya memegangi tangannya yang terbakar. April berjongkok. "Mbak Tuti nggak apa-apa?" tanya April cemas.
Tuti menangis ketika melihat April. Dia merasa bersalah karena telah mengunci dia di gudang. Namun, April mengira Tuti menangis karena kesakitan. "Aksa antar ibu ke rumah sakit. Ibu sudah hubungi bagian UGD supaya menyiapkan obat untuk Mbak Tuti."
"Baik, Bu."
Setelah itu Sofia mengajak Tuti untuk bangun dan pindah ke mobil Aksa. Mereka akan menuju ke rumah sakit tempat suaminya bekerja. "Mbak Tuti tahan ya," kata Sofia menenangkan karyawannya.
"Sakit sekali, Bu," rintihnya tak tertahan. Hampir sebagian kedua lengan Tuti terbakar hingga siku.
Jadi waktu itu Tuti memasukkan roti yang akan dipanggang. Tiba-tiba saja oven meledak tepat di hadapannya. Waktu itu api terus berkobar. Hanya tangan Tuti yang terbakar karena saat itu tangannya yang paling dekat dengan ledakan.
"Apa ini hukuman karena telah menyakiti April? Tuhan aku sangat menyesal. Kini aku mendapatkan balasan atas perbuatan yang ku tanam."
...***...
...Apa pun yang kamu lakukan hari ini berbanding lurus dengan apa yang akan terjadi padamu besok. Jadi, taburlah apa yang kamu tuai....
__ADS_1