
Sofia baru saja sampai di rumahnya. "Sofia." Suara bariton itu membuat Sofia terlonjak kaget. Tapi dia kenal siapa yang memanggilnya. Sofia menoleh perlahan. Dia agak curiga kenapa sang ayah pulang cepat hari ini.
"Assalamualaikum, Pa." Sofia memberikan salam dan meraih tangan Julian.
"Masuk! Adam sudah menunggumu di dalam," ucap Julian.
Sofia terkejut mendengar penuturan ayahnya. Namun, dia berusaha bersikap tenang. Wanita itu berjalan di belakang ayahnya.
Adam berdiri menyambut kepulangan Sofia. Tak lupa untuk menyunggingkan senyum. Sejak setengah jam yang lalu dia sengaja mendatangi rumah Julian. Tentu saja sebelumnya dia sudah membuat janji pada ayah Sofia tersebut.
Adam menghubungi Julian agar dia diperbolehkan bertamu ke rumahnya. Laki-laki itu beralasan ingin menyelesaikan masalah dengan Sofia. Tentu saja Julian menyetujui. Selama ini tidak ada kecacatan yang dilihat dari Adam. Tak seharusnya putrinya menolak. Julian malah merasa terima enak pada Adam dan orang tuanya.
"Sofia," sapa Adam. Sofia mengangguk hormat.
Jujur saat ini jantung Sofia berdebar kencang. Apa saja yang dikatakan oleh Adam pada ayahnya? Sejauh mana ayahnya itu tahu tentang penolakannya pada Adam? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Sofia saat ini.
"Temani Adam ngobrol, papa akan masuk agar kalian tidak terganggu," ucap Julian dengan ekspresi wajah datar. Setelah itu Julian naik ke lantai atas.
Sofia menghembuskan nafasnya berat. Dia duduk di sofa berhadapan dengan Adam. "Apakah ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas?" tanya Sofia pada laki-laki yang bernama lengkap Adam Surendra itu.
Adam mencondongkan badannya. "Sofia, aku ingin kamu berpikir ulang tentang keputusan kamu menolakku. Bukankah masih ada waktu untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain? Aku akan menunggumu dengan sabar sampai kamu membuka hati untukku." Adam terkesan memaksa.
"Mas, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Aku sudah mencoba menerima mas Adam sebelumnya. Tapi hatiku tidak tergerak sedikitpun untuk menyukaimu sebagai seorang lelaki. Aku hanya menganggapnya sebagai teman," ungkap Sofia.
Teman, tentu tidaklah cukup untuk Adam. Dia begitu mencintai Sofia. Maka dia akan terus memperjuangkan wanita itu.
Adam berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, untuk saat ini kuberi waktu untuk berpikir kembali. Aku harap setelah ini kamu bisa menerimaku," ucap Adam sebelum pergi dari rumah Sofia.
Sejak tadi Sofia menahan emosinya, dia tidak boleh terlihat lemah di mata siapapun. Setelah kepulangan Adam, Sofia menuju ke kamarnya. Namun, Julian menghentikan langkah putrinya itu.
"Jadi benar kamu memutuskan Adam dan menolak lamaran laki-laki sebaik dia? Sofia apa yang kamu cari selama ini? Wajah tampan dan mapan sudah ada di dalam diri Adam." Julian seolah tidak terima dengan keputusan Sofia.
Sofia tidak mau mendebat ayahnya. Dia hanya tertunduk agar emosinya tak meluap-luap. Dia bukan gadis yang suka memberontak. Untungnya sang ibu segera datang. "Masuk, Sofia," perintahnya pada sang putri.
__ADS_1
"Pa, jangan terlalu keras pada anak sendiri. Bukankah mama sudah pernah mengingatkan papa agar tidak memaksakan keinginan papa?" Tegur Raina pada suaminya.
"Papa hanya ingin Sofia dapat pasangan yang terbaik, Ma."
Raina memegang dada suaminya. "Pa, baik untuk papa belum tentu baik untuk Sofia. Biarkan dia menemukan pilihannya sendiri. Bukankah dia sudah dewasa?" Bujuk Raina.
Julian begitu sayang pada istrinya. Apa saja yang istrinya katakan selalu didengar. "Baiklah, sayang. Maafkan aku karena telah keras pada Sofia."
"Mama harap papa menghormati keputusan Sofia. Bagaimana pun kelak dia yang akan menjalani kehidupannya. Kita sebagai orang tua boleh saja mengarahkan tapi jika dia sudah menentukan pilihan maka kita tidak bisa memaksanya mengubah keputusan yang dia ambil." Raina berkata dengan lembut agar bisa menyentuh hati suaminya yang keras itu.
"Papa hanya tidak menyangka gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Papa hanya ingin selalu melindungi Sofia, Ma. Papa tidak ingin dia mendapat jodoh yang salah." Julian sebenarnya mengkhawatirkan nasib anaknya. Hanya saja dia terlalu memaksa.
"Mama paham. Baiklah, mari kita makan sekarang. Sofia mungkin akan beristirahat setelah itu baru makan."
Sejak pulang kerja tadi perut Julian belum terisi sama sekali. Dia sengaja pulang cepat karena Adam berniat mampir ke rumahnya.
Sementara itu, Adam kembali ke rumah dengan perasaan kecewa. "Bagaimana Dam, apa kamu berhasil membujuk Sofia?" tanya Adrian. Dia tidak sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Jangan lama-lama, Dam. Perusahaan kita harus mendapatkan suntikan dana secepatnya. Jangan kecewakan papa."
Adam sebenarnya bosan dengan perkataan ayahnya yang diulang-ulang. Sungguh dia mengejar Sofia karena suka bukan karena harganya. Baginya harta bisa dicari tapi wanita sholekah seperti Sofia jarang ditemukan. Oleh karena itu Adam tidak mau melepaskan Sofia meski dia gabung di perusahaan yang dia mau.
Di rumahnya, Sofia mendapatkan telepon dari kekasihnya. "Hallo."
"Hallo, sayang. Kamu sedang apa?" Pertanyaan sejuta umat.
"Mau ambil wudhu tadinya, ada apa, Mas?" jawab Sofia.
"Tahu tidak? Setiap kamu memanggilku dengan kata Mas, hatiku berdebar," ucap David sambil tertawa.
"Jadi aku harus ubah panggilan itu?" tanya Sofia meminta pendapat.
"Tidak, itu sudah pas. Terima kasih sudah mengakui ku sebagai pacar meski harus sembunyi-sembunyi seperti ini."
__ADS_1
"Maaf. Aku harus menunaikan ibadah sholat bagaimana kalau ngobrolnya dilanjut besok?" Usul Sofia. Dia tak mau melewatkan sholat asar sore ini.
Usai menunaikan sholat, Sofia merebahkan tubuhnya yang lemas karena mengangguk.
"Sofia," panggil seseorang. Sofia menoleh pada laki-laki yang memanggilnya itu
Awalnya Sofia mengira David tapi ternyata Adam yang memanggil.
"Mas Adam."
Tak lama kemudian datang panggilan dari orang lain. "Sofia."
Kali ini Leo yang memanggilnya. Lalu ke mana Adam?
"Mas Leo ngapain?" Sofia terkejut ketika Leo memegang tangannya tanpa permisi. "Sofia kembalilah padaku. Aku tahu kamu masih menyimpan rasa untukku." Sofia menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau. Lepaskan, Mas."
"Sofia jangan mau sama dia. Lebih baik kamu menikah denganku, bukankah orang tua kita sudah merestui," bujuk Adam.
"Tidak, Mas. Cintaku bukan untukmu," jawab Sofia.
"Sofia, jangan menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah pasti akan ditolak ayahmu. Ingat dia adalah adik ipar dari adikmu. Apakah pantas?"
"Sofia."
"Sofia."
"Sofia."
Sofia menutup telinganya. Tapi sesaat kemudian dia terbangun. "Astaghfirullah, cuma mimpi."
Sofia pun mengambil air minum lalu meminumnya sampai tandas. "Apakah hubunganku dengan Mas David akan direstui oleh papa?" Sofia merasa ragu.
__ADS_1