Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Pacarku berondong


__ADS_3

April menahan senyum ketika Lidia menyebutnya adik ipar. April mengulurkan tangan pada teman-teman Lidia. "April, adik iparnya kak Lidia," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Agnes."


"Steven."


April menyalami kedua teman Lidia satu per satu. "Lo kok nggak cerita kalau punya adik ipar seimut ini?" tanya Steven.


"Eh, iya kok kamu di sini, Pril. Kamu nggak sekolah?" tanya Lidia.


"Libur, Kak," jawab April.


"Lho tadi Diva berangkat kok."


"Ceritanya panjang. Oh iya, aku disuruh nunggu Kak Fabian. Kebetulan ada Kak Lidia. Temani aku ya!"


"Owh, pacar lo berondong Lid? Fabian anak teknik semester dua kan?" ledek Steven.


"Nggak gue asal ngomong tadi."


"Kalau iya kenapa?" Fabian tiba-tiba muncul di belakang Lidia.


"Kak Fab, udah selesai?" tanya April.


"Udah, Dek. Dosen cuma kasih tugas aja buat dikumpulkan minggu depan," jawab Fabian.


"Gue balik dulu, Lid," pamit Steven. Dia bergidik ngeri melihat wajah garang Fabian.


"Ck, rese banget sih lo, Fab. Teman-teman gue kabur tuh gara-gara elo." Lidia kesal setengah mati.


"Kenapa?" Fabian menarik pinggang Lidia hingga dia menempel di tubuhnya. Wajah Lidia bersemu merah.


"Lo keberatan kalau punya pacar berondong kaya gue?" tanya Fabian. Lidia mencoba mencerna ucapan laki-laki itu dengan cepat.


"Terima! Terima! Terima!" April bersorak memberikan dukungan pada hubungan Fabian dan Lidia.


Lidia mendorong tubuh Fabian. "Dasar gila!" umpat Lidia. Dia berlalu meninggalkan Fabian. April menahan tawa ketika Lidia menolak kakaknya.


April menepuk bahu Fabian. "Maju terus pantang mundur."

__ADS_1


"Maju terus pantang mundur." Fabian mengulang kalimat yang diucapkan oleh April.


Lidia memasuki mobil. Jantungnya berdebar kencang setelah Fabian menembaknya. "Gila tuh cowok berani-beraninya dia nembak gue." Lidia kesal tapi dia senang karena akhirnya ada laki-laki yang mau sama dia.


Lidia yang jago berantem dan suka kebut-kebutan di jalan membuat para lelaki minder jika bersanding dengannya. Namun, baru kali ini ada pemuda yang menyukai dia apa adanya. "Ah, be*go lo Lid, harusnya lo terima aja Fabian. Udah ganteng, atletis dia ah....idaman banget," gumam Lidia menyesal.


Setelah itu Lidia mendapatkan telepon dari ibunya. "Hallo, Ma."


"Lid, antar mama ke rumah sakit buat check up ya!" perintah sang mama.


Ayah kandung Lidia sudah bercerai dengan ibunya. Hanya Lidia satu-satunya orang yang bisa diandalkan oleh sang ibu. "Baik, Ma. Aku segera jemput mama."


Ketika sampai di rumah sakit, rupanya sang mama berobat di bagian poly saraf di mana Dokter Erik bekerja sebagai dokter yang bertugas. "Selamat siang, Bu," sapa Erik dengan ramah.


"Om Erik," panggil Lidia.


"Lidia." Erik senang bertemu dengan gadis yang dia gadang-gadang sebagai calon mantu.


"Saya mengantar ibu saya." Lidia memperkenalkan orang tuanya.


"Wah, kebetulan sekali. Mari saya periksa dulu."


Ibunda Lidia tentu terkejut mendengar tawaran Erik. "Dalam rangka apa, Dok?" tanya Ibunda Lidia.


"Silaturahmi, anak-anak sudah mengenal satu sama lain, April dan Diva saling berteman begitu juga dengan Fabian dan Lidia."


Erina, Ibunda Lidia sempat salah paham. Dia mengira Dokter Erik tertarik padanya. "Maaf, saya tidak ada rencana untuk menikah lagi."


Ucapan Erina membuat Erik tertawa. "Bukan kita yang akan menikah. Tapi Fabian dan Lidia." Erina kemudian menoleh pada putrinya.


"Om," protes Lidia.


"Datanglah makan malam nanti malam. Jangan sampai membuat Om kecewa," kata Erik dengan tegas.


Erina langsung paham jika Erik berniat menjodohkan putranya dengan Lidia. "Baik, Dok. Tunggu kami nanti malam," ucap Erina menimpali.


Setelah itu Erina mengajak Lidia keluar. "Kamu kenapa tidak cerita kalau kamu punya pacar anak dokter?" cecar sang ibu.


"Aku belum jadian sama Fabian, Bu. Dia sempat menyatakan cintanya padaku tapi aku menolaknya."

__ADS_1


"Lidia, dengarkan ibu! Jika orang tuanya saja sudah suka sama kamu kenapa harus ragu menjalani hubungan dengan laki-laki yang sudah jelas asal-usulnya. Ingat Lid mencari pendamping hidup itu tidak butuh satu dua hari. Kalau kamu mau tahu dia baik atau nggak kamu harus tahu kepribadiannya. Jangan sampai kamu menyesal seperti mama dan papa."


Erina memberi wejangan pada putrinya. "Lidia mengerti, Bu," ucap Lidia dengan lembut. Kemudian, Lidia mengajak ibunya pulang.


Ketika jam makan siang, Erik keluar dari ruangannya. Tak sengaja dia bertemu dengan David. "Rik, udah lama nggak ngopi bareng," sapa David.


"Boleh, ke mana?" tanya Erik menyambut ajakan David, sahabatnya.


"Kafe biasa," jawab David. Mereka pun pergi menaiki mobil masing-masing menuju ke kafe yang biasa mereka kunjungi.


"Pesan apa, Rik?" tanya David ketika berada di depan bartender.


"Mocacinno saja."


"Oke, moccacino satu sama cappucino satu, Mas."


"Baik, ditunggu ya, Pak," jawab bartender itu dengan ramah.


Setelah jadi mereka mencari tempat duduk. "Wah lama juga ya nggak ke sini. Tempatnya masih sama," kata Erik mengingat terakhir kali mereka mengunjungi kafe tersebut.


"Rik, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," kata David dengan serius.


"Soal apa?" tanya Erik.


"Apa kita tidak terlalu kejam memisahkan Aksa dan April. Sudah lama bukan mereka tidak bertemu. Jujur aku pernah mengalami itu dan rasanya tidak enak.


Erik menahan tawa. "Kamu belum tahu kalau selama ini mereka bertemu diam-diam di belakang kita," ungkap Erik.


"Sial! Aku kira kita telah menyiksa mereka. Aku sampai kepikiran soal ini. Istriku juga tidak tega karena kami tahu Aksa selalu ceria jika bersama April. Terlebih Lovely, anakku yang masih SD dia terus menanyakan April karena dia sudah lama tidak main ke rumahku."


Erik tertawa terbahak-bahak. "Mereka selangkah di depan dari pada kita. Aku tidak tahu siapa yang punya ide bertemu diam-diam tapi selama ini Fabian mengawasi mereka. Jadi aku tenang. Awalnya aku juga terlalu parno. Tapi aku sadar kalau aku terlalu mengekang April."


David menepuk bahu sahabatnya. "Kamu siap berbesanan denganku?" goda David.


Erik menepis tangan David dengan kasar. "Putriku belum lulus sekolah. Jangan macam-macam. Aku tidak akan mengizinkan dia nikah muda," kata Erik dengan ketus.


David tertawa mengejek. "Kamu sudah lama tidak menggendong bayi bukan? Apa salahnya memiliki cucu."


Ucapan David membuat Erik geram. "Jangan asal bicara. Aku akan menyekolahkan April di luar negeri," gurau Erik.

__ADS_1


"Hei, Rik. Jangan menyembunyikan putrimu karena putraku akan bisa menemukannya."


__ADS_2