
Sebelumnya aku minta maaf kalau ada typo. Mode crazy up ya 🙏
...♥️♥️♥️...
Seusai pulang sekolah, April sengaja mampir di toko roti milik Sofia. Di mana dulu dia pernah bekerja di sana. "Eh, April apa kabar?" tanya salah seorang pegawai yang mengenal April.
"Baik, Mbak. Ibu mana, Mbak? Kok sepi?" tanya April yang tidak melihat sang pemilik toko.
"Ibu lagi jemput anaknya yang kecil ke sekolah. Kamu udah pulang ya jam segini?" tanya pegawai toko tersebut.
"Iya, Mbak. Hari ini pulang pagi karena cuma pembagian jadwal. Minggu depan udah mulai ujian," jawab April.
"Owh, semoga kamu lulus ujian ya. Oh ya, mau beli roti yang mana?" April masih bingung memilih roti.
Sesaat kemudian Lovely menyerukan nama April. "Kak April," panggil Lovely seraya berlari ke arah gadis berseragam SMA itu.
April tersenyum lalu menangkap Lovely. "Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?" tanya April sambil mengusap lembut kepala anak itu.
"Aku kangen banget sama kakak," kata gadis kecil yang masih dalam masa pertumbuhan itu.
"April, kamu ke sini sama siapa?" tanya Sofia.
April berdiri. "Sendiri, Tante. Tadi aku sekalian mampir sepulang sekolah," jawab April.
"Duduk dulu, yuk!" ajak April.
"Maaf, Tante, aku harus segera pulang. Aku hanya ingin beli beberapa roti di sini. Sudah lama aku tidak makan roti yang dibuat di sini," kata April.
"Ya sudah ambil sesuka kamu, sayang," kata Sofia. Dia senang gadis yang dulu pernah bekerja dengannya itu datang kembali.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Tante." Sofia tersenyum menanggapi ucapan April.
Setelah itu April memesan taksi. Hari ini dia ingin ke makam Bu Dini dan Azriel. Sudah lama April tidak berkunjung. Padahal setiap sebulan sekali dia menyempatkan diri ke makam orang yang telah mengasuhnya sejak kecil.
"Assalamualaikum, Bu. April datang menemui ibu." April mulai menaburkan bunga dan air ke atas makam Bu Dini.
"Aku kangen sama ibu dan juga adek. Apa kabar kalian? April baik-baik saja di dunia ini. Apa ibu dan adek juga baik-baik saja di sana?" tanya April sambil berderai air mata.
"Sebentar lagi aku ujian, Bu. Doakan aku agar bisa lulus dengan nilai baik ya, Bu. Aku ingin membuat ibu bangga."
Sesaat kemudian petir menyambar, langit terlihat gelap dan angin bertiup kencang. April tidak membawa payung. Dia kehujanan. Badannya menggigil karena kedinginan.
Hujan yang begitu deras membuat jalanan juga tampak sepi. April bingung dia harus pulang dengan naik apa. Namun, di tengah kesulitan Tuhan mengirim seseorang yang datang menolongnya.
Seorang laki-laki tampan turun dari mobil dengan membawa payung. "Mas Aksa," panggil April dengan lirih. Bibirnya sudah membiru karena kedinginan.
"Pegang sebentar payungnya, sayang!" pinta Aksa pada gadis itu. Aksa melepas jaket yang dia kenakan lalu memakaikannya pada April.
"Mas Aksa tahu dari mana aku di sini?" tanya April.
Aksa tersenyum. "Kamu lupa ya? Bukankah dulu setiap bulan kamu selalu mengajak aku ke makam ibu?" Aksa mengingatkan kebiasaannya dulu.
"Makasih, Mas. Mas Aksa selalu ada jika aku butuhkan," ucap April.
"Sama-sama," jawab Aksa. Dia menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalan raya.
Sesampainya di kediaman Erik, Aksa ikut turun. "Ya ampun, Dek. Kamu basah kuyup begini. Dari mana?" tanya Fabian.
"Habis dari makam ibu, Kak," jawab April.
__ADS_1
"Kok bisa sama Dafi?" tanya Fabian curiga.
"Aku udah tahu jadwal April ke makam ibunya," jawab Aksa dengan jujur.
"Makasih, Daf. Udah nganter April sampai rumah. Lebih baik lo pulang dulu." Aksa pamit. Setelah itu, April masuk ke dalam kamarnya. Dia berlalu ke kamar mandi kemudian mengganti bajunya yang basah.
Ketika Erik pulang, dia memeriksa putrinya. "Dek, kata kakakmu tadi kamu kehujanan ya? Kenapa nggak bilang sama Kak Fabian buat jemput kamu?" Erik begitu cemas pada putrinya. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Aku tadi naik taksi Pa ke makam ibu. Tapi pas aku mau pulang nggak ada taksi yang lewat. Untung saja ada Mas Aksa."
Erik mengusap kepala anaknya. "Apa kamu sangat menyayangi Aksa?" tanya Erik. April mengangguk.
"Papa merestui hubungan kalian. Tapi ada syaratnya?" April tertawa senang.
"Apa, Pa?" tanya April bersemangat.
"Ujian ini kamu harus mendapatkan nilai terbaik," kata Erik.
April tersenyum. "Pasti, Pa. Aku akan berusaha." April memeluk ayahnya erat.
"Terima kasih, Pa. Papa sangat baik. Aku sayang papa."
Baru kali ini, April mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Erik. Erik sangat bahagia. Rasanya dia telah menjadi ayah yang sempurna ketika mendapatkan pengakuan kasih sayang dari anaknya.
Keesokan harinya usai pulang kerja, Erik pun menemui Aksa di kampusnya. Erik mencari keberadaan Aksa. Setelah menemukan pemuda itu, Erin memanggil Aksa agar mendekat.
"Ada apa, Om? Kenapa sampai datang ke sini? Apakah ada sesuatu hal yang penting untuk dibicarakan?" tanya Aksa.
"Maafkan, Om karena sengaja menjauhkan kamu dari April. Om sadar kalau selama ini Om salah telah memisahkan kalian."
__ADS_1
Aksa tersenyum. "Mungkin suatu hari jika aku sudah menjadi ayah, aku akan mengerti apa yang Om rasakan saat ini."
Perkataan Aksa membuat Erik seperti berkaca pada dirinya. Lelaki itu tersenyum. "Sepertinya kamu lebih mirip aku dibanding ayahmu," kata Erik seraya menepuk bahu Aksa.