Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Musibah bertubi-tubi


__ADS_3

Keesokan harinya anak buah Wanda memberikan kabar jika mereka gagal menangkap April. "Bodoh, menangkap gadis kecil seperti dia saja kalian tidak mampu. Cari lagi! Aku mau kalian singkirkan dia!" perintah Wanda pada orang-orang suruhannya.


Tak lama kemudian Erik menelepon ke handphonenya. "Ada apa, Mas?"


"Fabian ada di rumah sakit," jawab Erik memberi tahu Wanda. Pagi ini Wanda sampai melupakan anaknya. Dia pikir Fabian sudah berangkat lebih dulu tanpa berpamitan.


"Ya ampun ketemu di mana Mas? Semalaman aku mencarinya," jawab Wanda yang cemas.


"Cepatlah ke sini. Aku tidak bisa menemani dia karena aku harus buka praktek."


"Baiklah, Mas. Aku akan ke sana."


Setelah menutup telepon Erik menyempatkan diri untuk mengunjungi April. Namun, di tengah perjalanan dia bertemu dengan petugas laboratorium. "Dok, hasilnya sudah keluar," ungkapnya memberi tahu.


Erik pun tersenyum lebar. Dia sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya. Petugas laboratorium itu memberikan hasil tes DNA yang Erik lakukan dua hari yang lalu. Erik terkejut saat membaca hasil tes DNA nya. "Tidak, hasil tes ini pasti salah. Kenapa hasilnya bisa negatif?" cecar Erik pada petugas laboratorium itu.


"Saya tidak mungkin salah, Pak." Erik terduduk lemas di kursi yang disediakan oleh rumah sakit. Setelah itu petugas laboratorium itu pergi. Erik menangis padahal dia berharap April adalah anaknya yang hilang.


"Om," panggil April. Dia berdiri bersama Aksa.


"April."


"Apa om menangis?" tanya April. Erik mengusap air matanya dengan kasar.


Erik berdiri. "Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusnya kamu masih dirawat?" tanya Erik.


"Saya ingin pulang. Ibu saya pasti cemas karena semalam saya tidak pulang. Terima kasih sudah menolong saya."


Sesaat kemudian Erik memeluk April. Dia masih berharap April adalah anaknya yang hilang. "Walaupun kamu bukan darah dagingku tapi aku akan melindungi kamu Pril," gumam Erik dalam hatinya.


Aksa menangkap sikap tak biasa dari laki-laki yang merupakan teman kerja ayahnya itu. "Pril, apa kamu jadi menjenguk Fabian?" tanya Aksa.

__ADS_1


Melihat April berlama-lama pelukan dengan laki-laki itu Aksa jadi cemburu. "Ah, iya. Apa saya boleh menjenguknya?" tanya April pada Erik.


"Tentu saja," jawab Erik sambil tersenyum.


Ketiganya berjalan menuju ke ruang rawat Fabian. Saat itu Wanda sudah berada di sana menemani Fabian. Fabian telah menceritakan kejadian yang menimpanya pada Wanda. Tidak ada pikiran negatif pada ibunya jadi Fabian berterus terang mengenai apa yang menimpanya semalam.


"Ow, jadi gadis ini yang membuat kamu menderita seperti ini?" tanya Wanda dengan nada tinggi. Dia berpura-pura tidak mengenali April.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi April dengan mulus. "Wanda!" bentak Erik. Aksa juga tak menyangka ibunya Fabian akan menampar kekasihnya.


"Kenapa, Mas? Dia pantas mendapatkan itu," sahut Wanda yak mau kalah.


Aksa membawa April keluar tanpa pamit. Fabian yang melihat kejadian itu merasa bersalah pada April akan sikap ibunya. Dia ingin bangun tapi badannya masih sakit semua. Erik membiarkan Aksa membawa gadis itu pergi. Dia pikir itu lebih baik dari pada melihat April dimarahi oleh istrinya.


"Kamu tidak pantas bersikap seperti itu pada April," bentak Erik. Tangannya memegang kedua lengan sang istri.


"Kenapa, Mas? Apa karena dia anakmu? Hah, kamu tidak akan pernah bersatu dengannya karena aku telah menyuruh orang menukar hasil tes DNA mu," batin Wanda yang murka.


"Iya, aku tahu tapi April tidak bersalah. Dia juga korban," ujar Erik membela April.


"Kamu memang tidak pernah peduli pada Fabian," ucap Wanda tak terima.


"Ma, jangan menyalahkan April. Aku yang ingin menolongnya."


"Fab, aku akan minta penjelasan padamu nanti. Sekarang papa akan buka praktek lebih dulu. Kamu istirahat saja." Fabian mengangguk patuh.


Sementara itu Aksa mengantarkan April pulang. "Pril, kamu tidak apa-apa?" tanya Aksa cemas. April menggeleng.


"Aku memang pantas mendapatkan pelajaran dari ibunya Kak Fabian," ucapnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak bersalah. Jangan terus menyalahkan diri kamu karena kamu tidak merencanakan musibah ini," tutur Aksa.


April tersenyum. "Terima kasih banyak sudah mempercayaiku." Aksa membalas senyum April.


Sesaat kemudian mereka sampai di gang rumahnya. Namun, banyak orang yang berlalu lalang sambil membawa ember. "Pak ada apa ini?" tanya April pada salah seorang warga yang dia kenal.


"April? Kamu dari mana saja? Rumahmu kebakaran," ucapnya memberi tahu April.


April langsung berlari menuju ke rumahnya. Aksa juga mengikuti April. Betapa terkejutnya dia ketika melihat api berkobar dan membakar habis rumahnya. "Ibu, Azriel," teriak April.


April ingin melangkah tapi Aksa langsung memeluknya. "Lepaskan aku ingin mencari ibuku." April memberontak tapi Aksa memegang dia kuat-kuat.


"Pril, aku mohon jangan seperti ini," ucap Aksa tidak tega. April merosot ke tanah. Dia masih menyebut ibunya.


"Ibu, Azriel," panggil April dengan suara seraknya. Dada April terasa sesak. Bayangan tertawa bersama dengan ibu dan adiknya kini harus dia hapus karena mereka sudah tidak bernyawa. Bagaimana bisa dia tidak bersedih saat kehilangan dua orang yang dia sayangi. April rasanya ingin mati saja dari pada hidup sebatang kara tanpa keluarga yang selama ini merawatnya.


"Bapak? Di mana bapak?" Tiba-tiba April teringat Jamal.


"Bapakmu tidak tahu entah ke mana, Pril. Kamu yang sabar ya Pril. Kejadiannya sangat mendadak kami juga terkejut tiba-tiba rumah kamu subuh tadi sudah terbakar. Apa semalam kamu tidak pulang?" tanya salah seorang warga yang melirik ke arah Aksa.


"Semalam April di rumah sakit, dia mengalami musibah," terang Aksa pada ibu-ibu itu. Dia berharap setelah ini dia tidak berpikiran negatif pada April.


"Ya ampun malang sekali nasibmu, Pril."


April sudah tidak punya tenaga untuk menangis. Dia yang masih lemah akibat kejadian semalam kini harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang menimpanya. "Tuhan, apakah aku punya dosa di masa lalu sehingga Engkau menghukummu dengan cobaan yang seberat ini?" gumam April yang menangis di dalam hatinya.


Sementara itu Aksa memberi tahu ayahnya kalau rumah April kebakaran. David sangat syok. "Malang sekali nasib gadis itu," gumam David membayangkan April yang sedang menangis di sana.


Tak pikir panjang David mengabari Erik. Erik pun syok mendengar keluarga April mengalami musibah kebakaran. "Sudah tidak ada harapan lagi, Dave."


"Apa maksud kamu?" tanya David tak mengerti. Erik memberikan surat hasil tes DNA miliknya yang dicocokkan dengan rambut April yang hasilnya negatif. Padahal niat Erik bertanya langsung pada wanita yang merawat April sejak bayi.

__ADS_1


...♥️♥️♥️...


Maaf slow up jangan lupa kasih semangat biar othor perbaiki nasib April 🙏


__ADS_2