Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Cinta yang hilang


__ADS_3

Sofia menyambut kepulangan suaminya dari rumah sakit. Mereka kembali ke apartemen mereka sendiri. David diantar oleh Zidan. "Alhamdulillah kamu sudah pulang, Mas." David tersenyum pada istrinya. Setelah itu dia mencium pipi anaknya yang tertidur di gendongan sang ibu.


"Mbak, aku langsung pulang ya," pamit Zidan.


"Nggak masuk dulu?" tawar Sofia.


"Nggak usah, aku harus balik ke kantor," ucapnya langsung pergi.


"Makasih, Bro," seru David. Zidan melambaikan tangan sambil berlalu.


"Masuk, Mas. Mau aku buatkan apa?" tanya Sofia.


"Teh hangat saja. Sayang boleh aku gendong Baby Aksa? Aku sangat rindu padanya," pinta David.


"Tentu." Sofia memberikan Baby Aksa pada ayahnya.


"Eh dia bangun sayang." Baby Aksa tersenyum pada ayahnya. "Pinter banget kamu nggak nangis," puji David pada bayi kecilnya itu.


Sofia ke belakang meninggalkan suami dan anaknya. Sedangkan David dia mengajak bayi kecil itu berbicara walau dia belum mengerti.


Sofia tersenyum melihat anaknya seolah menjawab sang suami ketika mengajaknya ngobrol. "Wah adek ngomong apa sama ayah?" Dia mengambil alih gendongan bayinya.


"Minum dulu, Mas." David pun mengambil cangkir yang berisi teh itu.


"Mas, apa kamu dengar kalau Dena sudah...." Sofia tak meneruskan omongannya.


"Iya, Zidan sudah cerita semuanya. Katanya Tante Martha kini membenci papa," ungkap David.


"Mungkin saat ini Tante Martha butuh waktu, Mas. Sebagai seorang ibu pastinya dia sangat kehilangan anaknya," timpal Sofia.


"Ya, semoga saja papa bisa menerima," sahut David.


Di tempat lain, Yudha sedang bersedih sejak kematian Dena, Martha tak mau lagi bertemu dengannya. "Mau sampai kapan aku begini?" gumam Yudha yang mengeluh pada dirinya sendiri.


Hidupnya terasa sepi. Semenjak Martha masuk ke kehidupannya, hidupnya seolah berwarna kembali setelah sekian lama ditinggal mati oleh istrinya. Martha dapat mengisi kekosongan hati Yudha dan selalu menjadi pendukung ketika dia butuhkan.


"Tidak bisa begini, aku tidak boleh diam saja." Yudha beranjak dari kursinya lalu keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Papa mau ke mana?" tanya Safa yang berada di ambang pintu.


"Pergi sebentar," jawab Yudha sambil berlalu.


"Buru-buru banget. Padahal ada laporan penting yang harus ditandatangani," gumam Safa.


Yudha mengendarai mobilnya menuju ke rumah Martha. Tapi sebelumnya dia mampir ke toko bunga. "Martha pasti suka dengan bunga ini," gumamnya ketika berada di dalam mobil.


Ketika Yudha sampai di rumah Martha, pagarnya terkunci dan di depan pagar tertempel info nomor kontak yang bisa dihubungi. "Apa dia akan menjual rumahnya," gumam Yudha.


Dia pun menghubungi nomor telepon tersebut. Namun, panggilannya dialihkan. "Apa dia sengaja menghindariku?" gumam Yudha.


Bahunya meluruh seolah tak mendapatkan kesempatan untuk mengambil hati kekasihnya.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Keluarga David kini hidup tanpa gangguan dari siapa pun. Mereka sudah pindah ke sebuah rumah yang dibeli David dari hasil kerja keranya. Saat ini Sofia sibuk mengurus anaknya yang sudah memasuki sekolah. Dia mengantar jemput anaknya setiap hari.


"Nanti siang mau aku masakin apa, Mas?" tanya Sofia.


"Apa saja, Yang. Mas Aksa mau bareng ayah nggak?" David menawarkan tumpangan pada putranya.


"Boleh, Mas. Nanti siang ibu jemput Mas Aksa ya, sekalian nganter makan siang ayah," kata Sofia.


"Ya sudah kamu baik-baik di rumah ya, Yang. Kami berangkat dulu," pamit David. Sofia mengangguk.


"Aksa berangkat sekolah dulu ya, Bu. Assalamualaikum." Aksa meraih tangan ibunya sebelum pergi.


"Waalaikumsalam." Sofia melambaikan tangan pada kedua laki-laki kesayangannya.


Ketika baru masuk ke dalam ruang tamu, Sofia menemukan buku Aksa ketinggalan. "Duh kasian Aksa bukunya ketinggalan. Sebaiknya aku antarkan bukunya," gumam Sofia.


Dia pun bersiap menuju ke sekolah Aksa dengan mengendarai mobil pribadinya.


Ketika sampai di depan gerbang sekolah, Aksa berpamitan pada David lalu dia turun. "Hati-hati, Yah." Aksa melambaikan tangan pada ayahnya. David balas melambai.


Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. "Untung nggak telat," gumam Aksa. Sesaat kemudian dia ingin mengambil bukunya tapi tidak ada.


"Apa bukuku ketinggalan?" gumamnya. Padahal di buku itu ada PR yang harus dikumpulkan hari ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil Sofia berhenti di depan gerbang sekolah. "Pak, saya wali murid salah satu siswa di sekolah ini. Saya ingin mengatakan buku ini pada anak saya," ucap Sofia menjelaskan kedatangannya pada Satpam yang berjaga.


"Oh silakan masuk, Bu. Anda bisa antarkan sendiri ke kelasnya," kata Satpam tersebut. Dia pun membukakan pintu gerbang untuk Sofia.


Kemudian ketika Sofia berjalan menuju ke kelas Aksa, dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Wanita itu memungut buku yang jatuh dari tangan Sofia. "Maaf," ucapnya.


Sedangkan Sofia memaku di tempat ketika bertemu dengan mantan calon istri Yudha. "Tante Martha," seru Sofia. Dia sangat mengenali wanita itu.


Tapi Martha tak mengingat wajah Sofia karena mereka hanya bertemu beberapa kali. Itupun sudah berlalu delapan tahun yang lalu.


"Siapa ya?" tanya Martha.


"Saya Sofia, istrinya Mas David." Mendengar kata David Martha langsung ingat. Karena David adalah korban kecelakaan yang didalangi putrinya dulu.


Martha menghindar. Dia berbalik badan dan meninggalkan Sofia. Sofia jadi heran akan sikap Martha. Kemudian Sofia menuju ke kelas Aksa.


"Maaf, Bu. Saya wali murid bernama Aksa Bilal. Saya ke sini mau mengantarkan bukunya yang ketinggalan." Sofia menyodorkan buku tulis milik Aksa.


"Baik, Bu. Akan saya sampaikan."


"Terima kasih banyak, Bu. Saya permisi," pamit Sofia.


Setelah itu dia mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian sekolah barangkali bertemu lagi dengan Martha. "Apa aku perlu bilang sama papa? Bukankah selama ini dia masih mengharapkan Tante Martha kembali?" gumam Sofia.


Tapi dia yang masih penasaran pun bertanya pada Satpam tersebut barangkali dia mengenal wanita itu.


"Pak, apa di sini ada guru yang bernama Martha?" tanya Sofia.


"Martha?" Satpam itu mengingat-ingat kembali. "Oh, Bu Isabel Martha maksudnya?" tanya balik Satpam itu pada Sofia.


"Saya kurang tahu nama lengkapnya," kata Sofia.


"Dia itu kepala sekolah di sini, Bu. Apa anda mengenalnya?" Sofia mengangguk.


"Terima kasih informasinya, Pak." Setelah mengucapkan kalimat itu Sofia memasuki mobil.


"Lebih baik aku beri tahu Mas David dulu," pikir wanita berhijab itu.

__ADS_1


__ADS_2