
"Selamat pagi sayang," sapa David ketika melihat istrinya membuka mata. Pria itu mengikis jarak lalu memeluk istrinya. Dia juga memberikan kecupan di kening Sofia.
"Jam berapa ini, Mas? Apa aku kesiangan?" tanya Sofia. Rasanya sedikit aneh karena sekarang ada laki-laki yang menemaninya.
"Baru subuh sayang," jawab David. Ada perasaan lega pada diri Sofia.
Sofia benar-benar merasa berbeda setelah melewati malam panas dengan suaminya. Malam paling berkesan selama hidupnya. Dia merasa menjadi wanita yang sempurna setelah menikah.
Meski badannya terasa lelah karena pergulatan semalam, tapi Sofia harus bangun untuk melaksanakan sholat subuh.
"Aku ke kamar mandi dulu ya Mas," izin Sofia pada suaminya.
David tersenyum menyeringai. "Bareng aja." David ikut bangun.
"Nggak," tolak Sofia. Bayangan percintaannya semalam membuat pipinya memanas.
"Kalau gitu bagaimana kau kita ulangi sekali lagi sebelum mandi?" Pinta David dengan tatapan mendamba. David pun memeluk istrinya erat.
"Jangan gini Mas. Aku masih merasa tidak nyaman." Sofia mendorong tubuh suaminya. "Maaf bukannya aku tidak mau tapi sebentar lagi kita berangkat ke rumah sakit jadian sebaiknya siap-siap."
David memaklumi karena ini pertama kalinya. "Baiklah, tapi nanti malam bisa dilanjut lagi kan?" tanya David membuat istrinya memerah. Sofia mengangguk pelan.
David mengecup kening Sofia. "Terima kasih untuk semalam." Sofia membalas dengan senyuman.
Setelah itu dia bangun lalu menggulung rambutnya ke atas lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sembari menunggu Sofia mandi, David keluar dari kamar untuk mengambil minum.
"Eh kamu sudah bangun, nak," tegur mama Raina.
"Iya, Ma. Mau ambil minum," jawab David.
"Apa Sofia juga sudah bangun?" David mengangguk.
"Aku naik dulu, Ma. Gantian mandi sama Sofia. Kami juga belum sholat subuh," pamit David. Mama Raina mengangguk.
David naik kembali ke kamar. Sofia sudah selesai mandi. "Mas ini handuk untuk kamu." Sofia memberikan handuk pada suaminya.
"Terima kasih sayang," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sofia menunggu David sampai selesai. Setelah itu mereka menunaikan ibadah padi ini secara bersama. Usai menyelesaikan sholatnya, Sofia meraih tangan suaminya untuk dicium. David merasa haru ketika ada seorang wanita sholekah seperti Sofia yang menjadi makmum dalam sholatnya.
Tak lama kemudian keduanya turun. Mereka sudah berpakaian rapi karena hari ini mereka masih bekerja. Pernikahannya yang mendadak membuat keduanya belum sempat mengajukan cuti.
"Pagi, Ma," sapa Sofia. "Maaf pagi ini nggak bantu mama."
"Nggak apa-apa sayang. Mama ngerti kok. Mama paham," ucap mamanya sambil terkekeh.
"Mas mau dibuatin apa? Teh apa kopi?" tanya Sofia. Pagi ini adalah kali pertamanya membuatkan minuman untuk suaminya.
"Seadanya saja sayang," jawab David yang tidak mau merepotkan istrinya. Sofia pun ke dapur lalu membuatkan kopi untuk suaminya. Dia berharap David menyukai kopi buatannya.
"Kopinya Mas." Sofia meletakkan secangkir kopi panas di depan David. David menyesal kopi yang baunya sangat harum itu.
"Enak sekali sayang terima kasih," puji David pada istrinya. Mama Raina merasa senang karena David laki-laki yang begitu hangat.
Tak lama kemudian Julian ikut bergabung ke meja makan. "Kalian tidak cuti kerja?" tanya Julian.
"Belum sempat mengajukan, Pa. Mungkin kalau Sofia mau nanti kita cuti jika akan bulan madu," jawab David.
"Aku terserah Mas David saja," jawab Sofia.
"Sepertinya aku tidak bisa mengambil cuti dalam waktu dekat mengingat banyak pasienku tangan kan melahirkan sayang." Tangannya mengelus kepala istrinya.
Sofia tersenyum sebagai dokter dia paham tugas suaminya. "Iya, Mas. Aku ngerti kok. Pasien kamu juga butuh prioritas. Mereka adalah calon ibu yang akan berjuang melahirkan anaknya."
David tersenyum. "Aku harap kamu tidak cemburu dengan pekerjaanku. Maaf karena aku berurusan dengan wanita yang berbeda setiap harinya."
Sofia memukul lengan suaminya. "Kamu ini ada-ada saja Mas. Kamu bukan main gila tapi kamu menolong mereka. Aku tidak akan cemburu." David mengusap kepala istrinya lagi.
"Syukurlah."
Sesaat kemudian David memarkir mobilnya. Semua orang heran melihat Sofia turun dari mobil David. David menggandeng tangan istrinya. Mereka belum mendengar kabar kalau David telah menikahi Sofia.
Tapi pasangan pengantin baru itu tampak cuek. Mereka tidak takut jika digosipkan. Toh mereka punya bukti kalau mereka sudah menikah.
"Apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya David pada istrinya sebab sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Tidak, jika ada yang bergosip kita tinggal bilang kalau kita pasangan suami istri," jawab Sofia dengan enteng.
"Good girl. Aku masuk ke ruanganku dulu ya sayang." Sofia mengangguk.
Lalu beberapa perawat mendekati Sofia. "Pagi, Dok." Sofia tersenyum. Dia mengira para perawat itu kepo soal hubungannya dengan David.
"Dokter ada something ya sama Dokter David?" Sofia hanya mengangguk. Para perawat itu tidak menyangka. Tapi mereka hanya mengira kalau David dan Sofia berpacaran.
Setelah itu Sofia meninggalkan mereka dengan segudang pemikirannya sendiri. Dia hanya menahan tawa karena berhasil membuat mereka semakin penasaran.
Dokter David sedang visit ke ruangan pasiennya. "Hari ini ada yang berbeda dari Dokter," tutur pasiennya.
"Masa sih Bu?" tanya David. Dia tersenyum tipis.
"Iya, auranya berbeda. Apa yang dokter hari ini begitu bahagia?" tanya pasien itu. Dia memang cukup dekat dengan David karena sudah dua kali melahirkan dan ditangani oleh dokter yang sama.
"Saya dapat rejeki nomplok," guraunya.
"Alhamdulillah," seru pasien yang baru melahirkan itu.
"Saya doakan supaya hidup dokter selalu bahagia bersama pasangannya."
Deg
"Apa dia tahu?" Batin David.
Setelah memeriksa David pun keluar dari ruangan satu ke ruangan lain. "Dok, apa dokter sudah dengar tentang gosip yang tersebar di rumah sakit lagi ini?" tanya asistennya.
"Gosip apa?"
"Apa betul Dokter jadian sama Dokter Sofia?"
"Bukankah dulu kamu sudah pernah bertanya?" David balik nanya.
"Tapi waktu itu dokter belum jawab." David seketika menunjukkan cincin nikah yang masih dia pakai.
Perawat yang menjadi asistennya itu membuat mulutnya lebar. "Jadi dokter habis tunangan sama Dokter Sofia?" David tidak merespon. Dia membiarkan asistennya itu dengan pemikirannya sendiri. David hanya malas berbicara banyak.
__ADS_1
David akan mengungkap status pernikahannya dengan Sofia jika sudah waktunya nanti.