
Semua orang dibuat menganga ketika melihat David berlari sambil menggendong Sofia. Belum ada yang tahu jika David dan Sofia menikah karena mereka tidak mengadakan resepsi pernikahan. Waktu itu acara syukuran pernikahan David hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.
"Tolong dia!" perintah David pada perawat yang bertugas di ruang UGD.
Meskipun mereka banyak menyimpan pertanyaan di kepala mereka tapi yang terpenting sekarang adalah keselamatan Dokter Sofia.
David sendiri lupa kalau dirinya dokter saking paniknya. Dia ikut membantu perawat di sana. Namun, di saat itulah dia bisa memeriksa apakah istrinya hamil atau tidak. Rasa penasarannya begitu besar sehingga dia memanfaatkan istrinya yang sedang pingsan untuk sekalian diperiksa olehnya sendiri.
David menarik ujung bibirnya ketika melihat hasil pemeriksaan sang istri. Setelah mengantongi hasilnya, David menghampiri Sofia. Saat itu dia sudah sadar. "Mas aku kok ada di sini?" tanya Sofia bingung ketika membuka mata dia tengah berada di rumah sakit.
David tersenyum penuh arti. "Tekanan darah kamu rendah. Aku menemukanmu pingsan di dapur." Sementara David sedang menjawab pertanyaan Sofia, beberapa perawat diam-diam menguping. David yang mengetahuinya pun membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.
"Eh, kok nempel banget," bisik salah seorang perawat ketika melihat David sangat dekat dengan Sofia.
"Kamu hamil," bisik David di telinga istrinya. Sofia langsung menutup mulutnya tak percaya. Dia diberi kepercayaan mendapatkan keturunan secepat ini. Sofia menatap nanar suaminya. David memegang tangan istrinya.
"Untuk sementara waktu kamu dirawat dulu ya di sini sampai tekanan darahmu normal," saran David pada istrinya. Sofia hanya bisa menurut.
Tak lama kemudian David mengurus administrasi dan pemindahan Sofia ke ruang VVIP. "Aku akan mengabari orang tuamu, mereka pasti bahagia," kata David. Setelah itu dia mengecup kening sang istri.
Ketika David keluar, Zidan sedang menjemput istrinya. "Dave, belum pulang?" tanya Zidan. David menggeleng.
"Sofia ada di dalam," tunjuk David ke arah pintu.
Zidan terkejut. "Kakakku dirawat di sini? Dia sakit apa?" tanya Zidan khawatir.
"Tekanan darahnya menurun, jadi dia pingsan tadi. Oh ya, selamat kamu akan jadi paman," ucap David pada Zidan.
Zidan terkekeh lalu meninju bahu David. "Elo gercep juga. Selamat elo akan jadi ayah," balas Zidan. David tersenyum menanggapi iparnya itu.
"Lalu di mana Kakakku?" tanya David yang tak melihat Safa.
"Aku di sini Dave," jawab Safa dari kejauhan. Wanita yang perutnya sudah mulai membuncit itu berjalan mendekat.
"Hati-hati sayang," kata Zidan. Dia mengulurkan tangannya pada sang istri.
__ADS_1
"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Safa pada kedua lelaki yang sama-sama berarti untuknya.
"Kakakku di dalam," jawab Zidan mendahului David.
Safa terkejut mendengar penuturan suaminya. "Dokter Sofia sakit apa?" tanya Safa.
"Tekanan darahnya agak rendah," jawab David.
"Selain itu mereka akan punya bayi," kata Zidan menyambung ucapan David. Safa menatap adiknya seolah bertanya dalam diam. David mengangguk membenarkan ucapan Zidan.
Safa tersenyum senang. Dia ikut bahagia atas kebahagiaan David dan Sofia yang sebentar lagi akan punya momongan.
"Selamat ya, Dave," ucap Safa pada adiknya.
"Apa kalian mau masuk?" tanya David.
Safa menggeleng. "Besok saja, biarkan istrimu beristirahat."
"Baiklah, jangan lupa minum vitamin dan makan makanan sehat," pesan David pada kakaknya.
Sesaat kemudian David masuk ke dalam ruangan Sofia lagi. Dia melihat sang istri tertidur. David membungkuk menyetarakan wajahnya dengan perut istrinya. Dia mengusap perutnya dengan lembut. "Hai, sayang ini Daddy kamu lagi apa di sana."
Cup
David mencium perut istrinya. Sofia yang merasa terusik akhirnya terbangun. "Mas."
"Apa kamu tidak apa-apa sayang?" tanya David pada istrinya. Sofia menggeleng.
"Tidak, Mas. Apa kamu sudah menghubungi mama?" tanya Sofia menatap sang suami.
"Belum, tapi ketika di luar aku bertemu Zidan dan kakakku. Mereka pasti akan memberi tahu tentang kehamilan kamu pada mereka," ucap David seraya mengelus perut istrinya yang masih datar.
Sofia memeluk suaminya. "Alhamdulillah ya, aku akan jadi ibu sebentar lagi," kata Sofia sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang sang suami.
Tak lama kemudian seorang perawat memergoki keduanya yang sedang berpelukan. "Maaf, Dok. Saya hanya ingin mengganti infus." Dia merasa tidak enak.
__ADS_1
Setelah selesai perawat itu keluar sambil menganggukkan kepalanya hormat pada kedua dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.
"Ternyata rumor itu benar, mereka pacaran," gumam perawat wanita yang baru saja keluar dari ruangan Sofia.
Lalu dia berjalan ke meja resepsionis. Di sana ada beberapa perawat yang sedang berbincang-bincang. "Eh kalian tahu tidak, aku melihat Dokter Sofia memeluk Dokter David saat di ruang perawatan tadi."
"Kamu belum tahu ya, Dokter Sofia ternyata hamil," ucapnya seraya menunjukkan hasil laboratorium yang di pegang olehnya.
Semua orang di sana sejak tadi membicarakan kondisi kehamilan Sofia. Mereka bingung dan mengira Sofia hamil di luar nikah.
Di tempat lain, Zidan memberi tahu pada mamanya kalau kakaknya hamil melalui sambungan telepon. "Benarkah?" Mama Raina sontak bahagia dengan kabar gembira yang disampaikan putra bungsunya.
"Iya, Ma. Sekarang dia dirawat di rumah sakit karena tekanan darah kakak rendah," sambung Zidan.
"Mama akan ke sana bersama papamu," ucapnya setelah itu menutup telepon.
Raina pun mencari keberadaan suaminya. "Pa, ayo ikut ke rumah sakit sekarang," ajak Raina.
Julian menutup koran yang sedang dia baca. "Ngapain, Ma?" tanya Julian heran.
"Sofia ada di rumah sakit." Julian langsung berdiri ketika mendengar putrinya sakit.
"Pa, tungguin mama," seru Mama Raina. Dia belum sempat menjelaskan apa-apa suaminya itu sudah terlampau cemas. Raina hanya menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di rumah sakit, Julian dan istrinya menanyakan kamar di mana tempat putrinya dirawat. Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Julian berjalan cepat menuju ke ruangan Sofia.
Brak
Julian membuka ruangan itu dengan kasar. Sofia dan David menoleh karena sama-sama terkejut. Julian menarik kerah kemeja David. "Breng*sek. Kamu laki-laki yang tidak bisa diandalkan."
Julian memukul wajah David secara tiba-tiba. Raina bingung sendiri dengan sikap suaminya. "Pa, kenapa papa memukul suamiku?" tanya Sofia yang terkejut melihat kemarahan ayahnya. Dia begitu cemas lalu memaksa berdiri.
Sofia menangis tersedu-sedu ketika melihat wajah suaminya berdarah. "Mas, apa kamu tidak apa-apa?" David menggelengkan kepalanya.
"Dia pantas mendapatkannya," ucap Julian. Sofia memicingkan matanya.
__ADS_1
Apa Julian masih bisa sombong ketika mengetahui kenyataannya?