
"Nikahi aku hanya sampai anak ini lahir. Setelah itu kau dapat menceraikan ku. Aku hanya ingin anak ini punya akta kelahiran. Itu saja." Dada Fania terasa sesak mengatakan itu. Padahal dia ingin Leo membalas cintanya.
Leo berpikir sejenak. "Baik, aku akan menikahi kamu tapi dengan syarat pernikahan kita adalah pernikahan rahasia. Tidak akan ada yang tahu baik itu keluargamu ataupun keluargaku."
Tanpa berpikir panjang Fania menjawab dengan yakin. "Aku turuti maumu asalkan anakku bisa mendapatkan status," ucap Fania sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Tok tok tok
Di tengah perbincangan mereka seorang perawat masuk dengan membawa sesuatu di tangannya. "Ini dari Dokter Sofia, silakan dinikmati. Saya tinggal dulu," ucapnya sambil meletakkan paper bag berisi kue yang dipesan Sofia secara delivery.
Leo menoleh pada Fania. "Apa Sofia ke sini? Apa dia tahu kamu sedang hamil anakku?" tanya Leo setengah khawatir.
"Dia ke sini karena aku pasien suaminya. Dia kasian padaku karena di saat hamil aku mencoba bunuh diri," terang Fania pada Leo. Ada perasaan lega di hati Leo. Setidaknya Fania masih tutup mulut.
Setelah itu Leo keluar untuk mengurus administrasi Fania. Tanpa dia sadari David melihatnya. Sesaat kemudian dia masuk ke dalam ruangan Fania. "Bagaimana kabar anda hari ini? Apa ada keluhan?" tanya David yang bertugas memeriksa pasiennya.
"Tidak ada, Dok," jawab Fania dengan wajah berseri-seri. David dapat menangkap ekspresi wajahnya dengan jelas.
"Sepertinya mood anda hari ini sedang bagus. Syukurlah saya harap anda segera keluar dari rumah sakit ini. Kalau begitu saya permisi. Jangan lupa minum obatnya secara teratur," pesan David dengan ramah.
"Baik, Dok.
Hari ini hujan sangat lebat disertai angin. David yang sudah selesai bekerja berniat mengajak istrinya pulang tapi dia urungkan. "Bagaimana kalau kita tunggu sampai hujan agak reda. Bahaya jika menyetir dalam keadaan seperti ini," usul David.
"Aku setuju, Mas. Oh ya bagaimana kondisi pasienmu yang masuk ke sini karena percobaan bunuh diri?" tanya Sofia penasaran.
"Dia sudah mendingan. Kemungkinan besok diperbolehkan pulang," jawab David. "Apa kamu kedinginan?" tanya David pada istrinya. Sofia mengangguk. David pun tak segan-segan memeluk erat tubuh istrinya.
"Apa sudah lebih hangat?" tanya David lagi. Sofia kembali mengangguk.
'"Ya ampun Dokter kami iri dengan kalian," seru salah seorang perawat yang juga menunggu hujan reda di lobi rumah sakit.
__ADS_1
Sofia dan David sama-sama tersenyum. "Ckckck nasib jomblo," ledek David. Sofia memukul lengan suaminya agar tidak menghina orang lain.
Hujan mulai reda. "Mari pada jomblowati kami jalan dulu," ledek David. Tapi tidak ada yang tersinggung karena mereka tahu David sangat humoris.
David menggunakan jaketnya untuk menutupi kepala sang istri hingga sampai ke mobil. "Jalannya hati-hati, Yang." Sofia tersenyum senang. Suaminya begitu perhatian padanya.
David membukakan pintu mobil kemudian menutup pintu setelah memastikan istrinya masuk. Setelah itu dia memutar ke kursi kendali. "Kita langsung pulang atau mampir cari makan dulu?" tanya David.
Sofia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebaiknya langsung pulang sebentar lagi maghrib," jawabnya.
"Siap, sayangku."
Laki-laki itu mulai menjalankan mesinnya. Mereka tidak mampir ke manapun karena hari mulai petang. Di pinggir jalan juga jarang yang jualan karena hujan dan angin lebat yang sempat melanda.
Sesampainya di apartemen Dena rupanya tengah menunggu kedatangan David. "Dave," panggilnya saat David membuka pintu unit apartemen miliknya.
"Ada apa Dena?" tanya David.
"Dena apa kamu mau masuk?" tanya Sofia. Walaupun sebenarnya dia enggan menawari tetangganya itu untuk bertamu tapi dia mencoba berbasa-basi karena Dena sudah baik pada suaminya. Lalu bagaimana sikap Dena pada Sofia. Jelas dingin karena sejak awal dia tidak menyukai hubungannya dengan laki-laki yang dia cintai.
"Tidak usah aku masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan," tolaknya. "Jangan lupa dimakan ya Dave," ucapnya ramah pada David.
"Terima kasih," ucap David kemudian dia mengajak istrinya masuk.
"Sayang, kamu tidak cemburu kan? Aku hanya tidak mau menolak kebaikan orang lain. Kamu jelas tahu jika menolak maka dia akan sakit hati."
"Iya, Mas. Aku percaya pada suamiku ini. Jaga hatimu untukku Mas. Demi anak kita," ucap Sofia yang mengingatkan suaminya.
David menunduk menyamakan wajahnya dengan perut sang istri. "Sehat-sehat di dalam sana ya sayang." ucapan David mendapatkan respon dari anaknya.
"Dia nendang, Mas," ucap Sofia yang merasakan perutnya bergerak. Wanita itu terlihat bahagia.
__ADS_1
"Iya, sayang. Dia tumbuh sehat di dalam sini." David mengusap perut istrinya lalu meninggalkan jejak di kening Sofia.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita makan?" usul David.
"Baiklah, akan aku ambilkan piring."
"Sayang, apa kita akan makan masakan Dena?" tanya David ragu.
"Tentu, sayang kalau tidak dicicipi sama sekali." David tersenyum senang kala istrinya tak cemburu.
Tak lama kemudian Sofia kembali dengan membawa dua buah piring. "Wah dia masak cumi, sepertinya enak," ucap Sofia. Dia pun mencicipi sedikit. Sofia menunjukkan ekspresi aneh.
"Kenapa sayang? Kamu mual ya?" tanya David cemas. Sofia menggelengkan kepalanya.
"Coba Mas David cicipi barangkali lidahku yang salah," pinta Sofia pada suaminya. David pun memenuhi permintaan sang istri. Dia meludah setelah mencicipi makanan itu. "Asin sekali sayang," ucapnya sambil terkekeh.
"Rupanya masakan istriku lebih enak dari pada yang lain," puji David.
"Baiklah, kalau begitu aku akan masak untukmu," balas Sofia.
"Tidak usah sayang, nanti kamu kecapekan. Kita delivery makanan saja seperti biasa." Sofia mengangguk setuju. Dia mengambil handphone kemudian memesan makanan melalui aplikasi.
"Mas sebaiknya kamu mandi dulu aku akan siapkan air hangat." David pun memiliki ide gila. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" tanya David sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang. Sofia mengangguk malu-malu. David pun tak mau menyia-nyiakan waktu dia menggendong Sofia apa bridal style.
Satu jam kemudian makanan yang dipesan datang. Kurir itu menekan bel beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Dena yang baru keluar dari apartemennya mendekat pada kurir itu.
"Biar saya yang sampaikan," ucapnya pada kurir tersebut. Dena menekan bel kembali. "Mas di luar ada kurir mungkin dari tadi bunyi terus belnya," kata Sofia.
"Kalau begitu akan aku ambil." David pun keluar dari bathup lalu memakai handuk kimononya.
David terkejut ketika melihat orang yang berdiri di depan pintu bukanlah kurir melainkan Dena. Dena menelisik penampilan David yang menggoda dengan rambut basah usai mandi. Tapi moodnya terjun bebas ketika melihat Sofia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
__ADS_1