
Siang ini David mengajak Sofia untuk makan siang di sebuah restoran yang cukup terkenal. Kejadian kemaren membuat Sofia tidak nyaman. Dia sadar akhir-akhir ini banyak yang membicarakan soal hubungannya dengan David.
Ketika baru duduk seorang pelayan menghampiri mereka. "Selamat datang, ini menunya silakan dipilih." Pelayan itu siap menulis pesanan dari David dan Sofia.
"Mau makan apa, sayang?" Sofia kini sudah terbiasa ketika David memanggilnya sayang.
"Samain aja!" pinta Sofia sambil tersenyum.
"Sofia," panggil seseorang dari arah lain. Sofia membelalakkan mata ketika ayahnya berada di tempat yang sama. Sofia berdiri karena panik. David menoleh saat penasaran dengan orang yang membuat kekasihnya berdiri.
Julian memang sengaja datang, dia tahu dari Adam kalau Sofia jadian dengan David. Sejak saat itu Julian mengawasi pergerakan anaknya.
Ketika dia tahu kalau ayah kekasihnya itu ada di sana, dia tampak tenang. Julian melangkahkan kakinya lebih lebar agar segera mendekat pada putrinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan Julian jika tempatnya sudah jelas.
"Makan, Pa," jawab Sofia dengan gugup.
Mata Julian beralih ke arah David. "Sama dia?" Tunjuk Julian. David berdiri, sebagai seorang laki-laki dia harus tegas. "Apa kabar, Om?" David hendak meraih tangan Julian tapi laki-laki tua itu segera menarik tangannya.
Sofia tak menyangka dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Julian. "Bukankah kamu adik ipar Zidan?" David mengangguk. Sebisa mungkin dia memperlihatkan sikap tenang di hadapan Julian. Mereka memang jarang bertemu tapi Julian tahu anggota keluarga menantunya, Safa.
"Pa, jangan salah paham. Kami di sini hanya makan tidak lebih." Sofia berusaha menjelaskan.
Julian memberikan tatapan tajam pada putrinya. "Kamu kira papa tidak tahu? Mana mungkin kamu makan dengan sembarang laki-laki jika didekati Adam saja kamu sering menolak. Jadi apa hubungan kalian?" tanya Julian ingin tahu.
"Pacar," jawab David.
"Rekan kerja," jawab Sofia.
Namun, keduanya mengucapkan kata berbeda di waktu yang bersamaan. Julian makin curiga. "Lebih baik kamu pulang sekarang Sofia!" Perintah Julian pada putrinya.
__ADS_1
"Tapi, Pa. Jam kerja aku belum selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit dengan Dokter David," tolak Sofia.
"Tidak usah, nanti papa yang bilang sama pihak rumah sakit. Kamu tidak akan bekerja sampai waktu yang ditentukan." Sofia kaget dengan keputusan ayahnya.
"Kenapa dia tidak boleh bekerja, Om?" tanya David yang mengumpulkan keberaniannya untuk mendapatkan jawaban dari mulut Julian.
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Julian dengan nada dingin. Lalu Julian memberikan kode pada anak buahnya untuk membawa Sofia dengan paksa.
Ketika kedua bodyguard Julian akan menyentuhnya, Sofia menolak. "Aku bisa jalan sendiri." Sofia menatap ke arah David ketika dia hendak melangkahkan kakinya keluar.
David tidak tinggal diam. Dia ingin mengejar Sofia tapi kedua bodyguard Julian menghalangi langkahnya. "Lebih baik mulai sekarang kamu jauhi putriku. Dia akan kunikahkan dengan laki-laki lain."
David mengepalkan tangannya. "Apa salah jika Sofia menentukan pilihannya padaku?" tanya David dengan penuh penekanan. Dadanya bergemuruh tapi dia mencoba menahan diri.
Julian menarik ujung bibirnya. "Aku tahu yang terbaik untuk putriku," jawab Julian tanpa menoleh.
"Terbaik untuk anda belum tentu terbaik untuknya," balas David tak mau kalah. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Julian. "Anda memang orang tuanya tapi bukan berarti kehidupan Sofia ada di tangan anda. Bukankah dia sudah dewasa kenapa tidak boleh menentukan pilihannya sendiri? Apa anda yang kurang dewasa?" Sindir David pada Julian.
"Saya tidak mau. Walaupun anda menentang hubungan kami. Saya akan memperjuangkan cinta saya pada putri anda sampai anda sendiri yang meminta agar saya menjadi pasangan putri anda," bisik David di telinga Julian. Setelah itu dia melenggang pergi.
"Itu tidak akan terjadi," geram Julian hingga menggertakkan giginya karena kesal.
Sebelum memasuki mobil, David menghampiri kekasihnya di mobil Julian. "Sayang, tenanglah. Pasti ada jalan agar kita bisa bersatu." Sofia mengangguk.
"Ehem." Julian berdehem lalu David menyingkir dengan sendirinya.
"Jalan," perintah Julian ketika telah masuk ke dalam mobil.
"Pa, apa papa sekejam ini padaku? Apa salah jika aku menentukan pasanganku sendiri?" cecar Sofia pada ayahnya. Wanita itu meneteskan air mata.
"Sofia papa hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Julian dengan lembut.
__ADS_1
"Aku lebih tahu apa yang terbaik untukku, Pa," ucap Sofia penuh penekanan. Ada rasa sakit di dalam hatinya.
Julian jadi merasa bersalah. Tapi tetap saja dia tidak bisa membiarkan Sofia memilih laki-laki yang salah menurutnya. Adam adalah laki-laki yang tepat, pikir Julian.
Sesampainya di rumah, Sofia dipaksa masuk ke dalam kamar. "Pa, bukain Pa," rengek Sofia. Namun, sebelum Sofia masuk Julian merampas ponsel anaknya agar Sofia tidak bisa menghubungi David atau sebaliknya.
"Pa, ada apa? Kenapa papa mengunci Sofia dari luar?" tanya Raina yang panik.
"Sementara waktu dia akan apa kurung di kamar. Ini untuk kebaikannya juga Ma."
"Kebaikan bagaimana maksdnya? Lagipula bagaimana papa bisa bersama Sofia? Ini kan masih jam kerjanya seharusnya dia berada di rumah sakit sekarang." Raina benar-benar bingung dengan situasi saat ini.
"Papa akan segera menikahkan Sofia dengan Adam." Raina terkejut dengan keputusan Julian.
"Pa, tolong jangan paksa anak kita. Dia akan tersiksa nantinya," bujuk Raina. Air matanya bahkan sempat menetes karena terkejut pada keputusan suaminya.
"Ma, papa hanya ingin Sofia mendapatkan suami terbaik seperti Adam. Mama tahu anak kita akan melewati batas jika tidak segera dinikahkan."
"Melewati batas bagaimana?" Raina sungguh tidak mengerti dengan omongan suaminya.
"Papa memergoki dia jalan dengan David, adiknya Safa." Raina tidak terkejut sama sekali.
"Apa tidak boleh hanya jalan saja bukan?"
"Papa tahu mereka menjalin hubungan, Ma," terang Julian sedikit kesal. Ternyata istrinya tidak mendukung keputusannya.
"Memangnya kenapa? Kalaupun sampai menikah juga tidak apa-apa. Mereka tidak satu garis keturunan, mereka juga bukan satu ibu persusuan, lalu dalil mana yang melarang mereka berhubungan?" Raina tidak mau kalah dengan suaminya.
"Ma, papa tidak mau berdebat dengan mama, jadi tolong jangan marah lagi." Julian pergi meninggalkan istrinya. Sedangkan Raina menangis di luar kamar anaknya.
"Tenang sayang, mama akan membukakan pintu kamar kamu."
__ADS_1
Sesaat kemudian Julian kembali. "Ma, jangan coba membuka kamar Sofia. Papa tidak segan-segan untuk memarahi mama jika mama melanggar aturan papa," ancam Julian pada istrinya.