
David kembali ke rumah sakit setelah mengobati wajahnya yang babak belur setelah berkelahi dengan Leo. "Sialan gara-gara laki-laki brengssek itu wajahku jadi hancur begini," umpat David ketika dia sedang bercermin.
Tok tok tok
"Dok, apa anda di dalam? Pasien sudah menunggu saatnya visit ke ruangan." Asisten David mengingatkan.
Setelah itu David k luar dari toilet. Ria pun berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh asistennya. Ketika dia akan masuk ke rumah pasiennya, David berpapasan dengan Dokter Sofia.
Dokter Sofia menyunggingkan senyum manis di wajahnya. "Mood booster hari ini," gumam David setelah melihat senyum kekasihnya.
Asisten David tersenyum ketika mendengar ucapan David. "Dokter Sofia itu cantik ya, Dok."
"Tentu saja. Dia salah satu wanita dengan kategori sempurna," jawabnya memuji.
"Jadi benarkah gosip itu?"
"Gosip apa?" tanya David menoleh pada asistennya.
"Gosip kalau Dokter pacaran sama Dokter Sofia." David hanya tersenyum mendengar ucapan perawat wanita itu.
"Sebaiknya kamu catat apa saja keluhan pasien," perintah David tak terbantahkan.
"Baik, Dok."
Sementara itu, Julian menghadang mobil Leo. Leo menyadari kalau mobil tersebut milik Julian. Leo pun turun. "Ada yang bisa saya bantu, Pak," tanya Leo pada Julian yang saat itu ikut turun.
"Kenapa wajahmu babak belur seperti itu?" Julian malah menanyakan kondisi Leo.
"Saya sudah biasa seperti ini," jawab Leo dengan ekspresi wajah datar.
Julian tidak ingin tahu lagi. "Lalu kenapa kamu bisa satu mobil dengan Sofia? Ke mana kamu mengajaknya pergi?" tanya Julian.
Leo bingung harus menjawab apa. Jujur saat ini dia gugup tapi dia mencoba menutupi kegugupannya agar Julian tidak curiga. Dia sudah berjanji pada Sofia tidak akan menyebut nama David di depan Julian.
"Nona Sofia meminta saya mengantarnya untuk membeli makanan kesukaannya pagi ini."
Julian berpikir mungkin Leo tidak berbohong karena Sofia tidak membawa mobil pagi ini. "Baiklah, kamu boleh pergi." Leo mengangguk paham. Ada perasaan lega karena Julian percaya dengan omongannya.
Ketika jam pulang kerja, David menemui Sofia. "Sayang, apa aku boleh mengantarmu pulang?"
__ADS_1
"Untuk saat ini jangan dulu, Mas. Kita sebaiknya jaga jarak. Jangan sampai papaku tahu kalau kita masih berhubungan."
"Tapi sampai kapan? Bagaimana kalau kamu tiba-tiba dinikahi Adam?" Sesungguhnya David sangat khawatir jika wanita yang dicintai akan menikah dengan orang lain.
Sofia tersenyum. "Aku akan menolak kamu tenang saja."
David meraih tangan Sofia dengan lembut. "Kabari setelah kamu sampai." Sofia mengangguk paham.
Setelah itu wanita yang merupakan putri sulung Julian itu naik ke dalam taksi. Sesampainya di rumah, Raina memeluk anaknya. "Ke mana saja kamu dari semalam. Pagi ini papa menanyakan kamu mama bilang kalau kamu berangkat lebih pagi agar papa tidak curiga."
"Terima kasih banyak Ma. Aku semalam memang pergi dari rumah. Maaf telah membuat mama cemas."
"Lalu kenapa kamu pulang ke rumah kalau kamu mau kabur?"
"Seseorang menyadarkan aku kalau ada orang lain yang butuh aku Ma yaitu pasienku."
Raina bangga memiliki putri seperti Sofia. "Kamu memang anak mama yang paling baik. Lalu bagaimana dengan papamu? Dia ingin menikahkan kamu dengan Adam. Bukankah kamu tidak mencintainya?"
"Aku akan menolak permintaan papa."
"Kenapa kamu menolak?" Suara bariton itu membuat Raina dan Sofia menoleh.
"Pa apa papa tega melihat aku tidak bahagia dengan pernikahanku? Sudah berapa kali Sofia bilang kalau aku tidak mencintai Mas Adam, Pa."
"Kamu tahu apa soal hidup berumah tangga? Jalani dulu baru bisa berkomentar." Julian memegang kedua bahu anaknya.
Mata Sofia berkaca-kaca. "Aku ingin menjalani rumah tangga dengan orang yang aku cintai, Pa."
"Maaf papa tidak bisa mengabulkan keinginan kamu. Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar!" Tegas Julian. Dia bahkan tidak menoleh ke arah putrinya.
"Lebih baik aku pergi, Pa."
"Ingat Sofia kamu tidak bisa menikah jika tidak ada wali yang menikahkan kamu." Ucapan Julian sukses membuat langkah Sofia terhenti.
Apa yang dikatakan oleh Julian memang benar. Seorang wanita tidak bisa menikah jika tidak ada wali yang menikahkan dia. Terlebih jika ayahnya masih hidup maka orang yang utama menjadi wali adalah ayah kandung.
Sofia meneteskan air mata. "Baik, aku pasrah jika dengan ini papa bahagia aku rela." Sofia tidak bisa lagi melawan ayahnya. Gadis itu berlari ke dalam kamarnya.
Lalu dia mendapatkan telepon dari David. "Hallo," jawab Sofia dengan suara parau.
__ADS_1
"Hallo, sayang apa kamu menangis?" tanya David dari seberang sana.
"Papa akan menikahkan aku besok, Mas."
Ucapan Sofia tentu saja mengejutkan David. "Kamu tenang saja, aku akan menggagalkan pernikahanmu dengan Adam."
"Bagaimana caranya?" tanya Sofia.
"Kita lihat saja besok," jawab David. Sofia menjadi penasaran.
Keesokan harinya Sofia dibangunkan pagi-pagi oleh ibunya. Semalam rumah mereka dihias oleh tukang dekor untuk acara akad nikah pagi ini.
"Sofia maafkan mama karena mama tidak bisa menghentikan papamu." Raina menangis pilu. Dia takut anaknya akan menderita setelah menikah dengan Adam.
"Aku percaya jika Allah tidak tidur, Ma."
"Kak mempelai laki-laki sudah datang." Zidan memberi tahu pada kakaknya. Dia terkejut ketika ayahnya memberi tahu pernikahan kakaknya yang berlangsung lagi ini.
Safa selaku istri Zidan ikut hadir tapi dia juga meras kasian pada David. Dia tahu kalau David dan Sofia saling mencintai.
Adam dan rombongan keluarganya telah sampai di rumah Julian. "Selamat datang Pak Adrian," sapa Julian pada calon besannya.
"Saya sangat senang hari ini akhirnya kita bisa berbesan. Bagaimana dengan Sofia apa sudah siap?" tanya Adrian yang tidak melihat batang hidung calon menantunya itu.
"Dia sedang dirias. Jangan khawatir Sofia anak yang penurut." Adrian tersenyum penuh kemenangan. Tujuannya untuk mendapatkan donor dana untuk perusahaannya akan segera terwujud.
"Mari kita mulai saja acara pernikahan pagi ini," seru penghulu yang akan memimpin acara pernikahan.
Sofia turun setelah dirias. Kemudian dia disandingkan dengan Adam. "Saudara Adam apa anda siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak."
Sofia meneteskan air mata. Raina pun demikian. Leo, Zidan dan Safa juga turut bersedih. Namun, tidak dengan Julian. Hanya dia yang merasa pernikahan putrinya ini adalah pernikahan impian.
"Saudara Adam saya nikahkan dan kawinkan anda dengan anak saya yang bernama Sofia Putri Juliar binti Julian Danz Smith dengan mas kawin...."
"Tunggu!"
Acara pernikahan itu terhenti setelah seseorang tiba-tiba datang tanpa diundang.
__ADS_1
Siapakah dia apa dia jalangkung? 😂😂