Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Otw pulang


__ADS_3

Fania kembali mendatangi kantor Leo karena Leo tidak mau menerima panggilan telepon darinya. Dia memaksa pegawai hotel yang ada di sana untuk memanggil Leo. "Cepat panggilkan dia. Kalian tidak tahu siapa saya?" ucap Fania dengan percaya diri.


Seorang petugas Satpam melapor pada Leo. Mau tak mau Leo menemui Fania. "Ada apa kamu mencariku?" tanya Leo dengan nada dingin.


"Long time no see. Apa kabar, honey?" Fania sengaja berbasa-basi.


"Aku tidak punya waktu banyak. Apa mau kamu sebenarnya?" desak Leo. Fania pun memberikan surat hasil pemeriksaannya. Leo menerima surat itu. Laki-laki itu terkejut ketika dia melihat Fania dinyatakan hamil.


"Apa maksud kamu menunjukkan surat ini? Mintalah pertanggung jawaban pada orang yang menghamili kamu," usir Leo.


Fania tersenyum miring. "Kamu pikir siapa lagi yang berhubungan badan denganku selain kamu?"


Leo memicingkan matanya. "Mana mungkin itu anakku jika kamu tidur dengan banyak lelaki."


Fania mengepalkan tangan menahan emosi. "Apa kamu mau bukti? Tes DNA siapa takut?" tantang Fania. Leo jadi insecure.


"Omong kosong," ucap Leo sambil berlalu meninggalkan Fania.


"Honey, jika kamu tidak ingin mengakui anak ini maka aku akan terus mengejarmu," teriak Fania hingga semua orang memperhatikan dirinya. Leo sangat malu dengan kelakuan Fania tapi dia percaya bawahannya tidak akan berani membicarakan dirinya.


Di rumah sakit, Sofia masih menunggu suaminya selesai bekerja. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. "Masuk," perintahnya.


"Papa," ucap Sofia saat melihat papa mertuanya.


"Papa sudah dengar dari Safa kalau kamu sedang hamil? Selamat, nak." Sofia mengangguk senang.


"Terima kasih banyak, Pa."


"Apa kamu pulang hari ini?" tanya Yudha ketika melihat menantunya sudah tidak memakai jarum infus lagi di tangannya.

__ADS_1


"Iya, aku sudah baikan, Pa," jawab Sofia.


"Syukurlah, jaga kesehatan, makan yang banyak dan jangan terlalu lelah. Jika perlu kamu boleh ambil cuti."


"Iya, Pa."


Sesaat kemudian David memasuki ruangan Sofia dirawat. "Lho papa ada di sini?" tanya David.


"Iya papa mampir sebentar, tapi ini sudah saatnya papa pergi. Ada janji dengan kolega papa," pamitnya.


"Hati-hati, Pa," pesan Sofia.


"Apa kamu sudah siap, sayang?" Sofia mengangguk. David pun membawa barang bawaan istrinya. Sedangkan Sofia menggandeng lengan suaminya sepanjang jalan menuju ke tempat parkir. Mereka jadi pusat perhatian karena pengantin baru itu menunjukkan kemesraannya di depan umum. Banyak yang iri melihat pasangan itu.


"Aku kira bisa memenangkan hati Dokter David, rupanya perjuanganku hanya angin lalu baginya," ucap salah seorang perawat yang melebih-lebihkan.


David membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah memastikan istrinya masuk, dia berjalan ke kursi kendali. "Sayang, mau mampir sebentar tidak?" David meminta dukungan.


"Ke mana, Mas?" tanya Sofia.


"Ke makam ibuku kita kasih tahu dia kalau sebentar lagi kita akan jadi orang tua," kata David. Sofia mengangguk patuh.


David pun mampir sebentar ke makam ibunya bersama sang istri. "Assalamualaikum, kami datang, Ma," ucap David saat berjongkok di depan makam ibunya. "Kami ingin memberi tahu kalau sebentar lagi kami akan punya bayi, Ma," sambungnya. Sofia tak banyak bicara. Dia hanya ikut mendoakan ibu mertuanya yang sudah tiada.


Mereka hanya sebentar berada di sana mengingat Sofia baru keluar dari rumah sakit. "Ayo kita pulang sayang. Terima kasih sudah mau berkunjung ke makam mama," ucap David dengan tulus.


"Iya sama-sama. Tapi sebelum pulang bisakah kita mampir ke restoran ayam bakar? Sepertinya lezat." Membayangkannya saja air liur Sofia ingin menetes.


David memahami kalau istrinya itu dengan ngidam. Dia tidak protes sama sekali pada perintah istrinya. Apapun yang istrinya minta akan dipenuhi oleh David karena dia ingin menjadi ayah yang baik.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?" tanya David ketika berada di dalam restoran.


"Sangat enak? Mas David nggak mau nyobain?" Sofia menyodorkan potongan paha ayam.


"Tidak sayang makan kamu saja. Anak kita butuh makanan. Jadi makanlah yang banyak jangan diet." David mengusap kepala istrinya. Jantung Sofia tiba-tiba berdebar kencang. Perlakuan David sangat manis di depannya.


"Apa kita perlu beli ayam lagi untuk dibawa pulang?" Sofia mengangguk cepat.


"Beli yang banyak." Sofia tersenyum. Lalu David membelikan dua paket pesanan lengkap.


Sofia sangat girang saat kemauannya dituruti oleh suaminya. Sewaktu di perjalanan pulang menuju ke apartemen mereka, Sofia tak sengaja melihat seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya. Dia tampak luntang lantung di jalanan. Hati kecil Sofia tercubit. Dia merasa orang yang paling beruntung karena nasibnya jauh lebih baik dari wanita itu.


"Mas bisakah kita menepi di sana," tunjuk Sofia tepat di arah wanita yang menggendong anak. Setelah mobil berhenti Sofia mengambil bungkus yang berisi ayam bakar tadi lalu dia turun. David hanya memperhatikan dari dalam mobil.


"Bu, saya ada sedikit makanan, apa ibu mau menerimanya?" tawar Sofia. Ibu-ibu itu mengangguk cepat.


"Terima kasih banyak. Sudah seharian ini saya belum makan." Rasanya Sofia ingin meneteskan air mata mendengar penuturan wanita itu. Bagaimana dengan anaknya? Pikir Sofia.


Lalu dia berbalik. "Mas ada uang cash tidak?" tanya Sofia. David merogoh dompetnya lalu memberikan dua lembar uang berwarna merah pada Sofia. "Apa segini cukup?" Dia memang tak banyak membawa uang cash karena semua transaksi pembayaran lebih mudah dilakukan melalui handphone.


Sofia mengambil uang yang diberikan suaminya lalu diberikan pada wanita itu. "Terimalah, semoga ini cukup untuk makan beberapa hari ke depan."


Wanita itu menerima uang dari Sofia dengan tangan gemetar. Dia menangis haru karena tidak banyak orang sebaik Sofia. "Saya benar-benar beruntung hari ini bertemu dengan orang sebaik anda. Saya tidak bisa membalas apa-apa. Saya hanya bisa berdoa supaya ibu sekeluarga diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah," ucap wanita itu mendoakan Sofia.


"Aamiin, terima kasih atas doanya. Saya pamit ya, Bu. Semoga ibu juga selalu diberi perlindungan oleh Allah," doa Sofia untuk gelandangan itu.


Sofia masuk kembali ke dalam mobil. "Aku bangga pada istriku ini. Selain cantik parasnya juga cantik hatinya," puji sang suami. Wajah Sofia jadi memerah. "Mas ini bisa aja."


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal mereka. Siapa sangka Sofia tertidur di dalam mobil. David pun mengangkat tubuh istrinya sampai ke dalam apartemen. Setelah sampai di kamar dia merebahkan dengan hati-hati. "Selamat beristirahat, sayang," ucapnya dengan lirih agar tidak membangunkan Sofia.

__ADS_1


__ADS_2