
Sepulang kerja, Erik mengabari Fabian kalau nanti malam akan ada acara makan bersama. "Dalam rangka apa, Pa?" tanya Fabian.
"Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Erik.
"Pa, bisikin ke aku dong. Ada acara apa nanti malam?" bujuk April. Erik tersenyum. "Kepo," jawabnya lalu berlalu meninggalkan putrinya.
Sementara itu di tempat lain, Lidia sedang memilih baju untuk dipakai nanti malam. Dia mengeluarkan koleksi pakaiannya yang ada di lemari. Satu per satu dia coba tapi tidak ada yang cocok menurut gadis itu.
Erina, sang mama memasuki kamar Lidia. "Lidia, kamu ngapain mengacak-acak lemari seperti ini? tanya Erina heran.
"Aku bingung mau pakai baju yang mana, Ma," jawab Lidia.
"Ya ampun, Lidia. Bukannya kamu keberatan datang ke acara makan malam nanti? Kenapa tiba-tiba antusias," ledek sang Mama.
Lidia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Aku hanya tidak ingin mengecewakan Om Erik, Ma," jawab Lidia berbohong.
"Ya sudah kamu pilih baju nanti kita ke salon lalu berangkat. Ajak Diva juga. Di mana dia?" tanya Erina.
"Ada di kamarnya, Ma," jawab Lidia.
"Ya sudah pilih satu baju lalu kita berangkat," perintah sang ibu. Kemudian ketiga wanita itu dalam perjalanan menuju ke salon.
Sementara itu April sedang menyiapkan makanan yang telah dipesan dari restoran mahal. "Wah sepertinya tamunya istimewa. Papa bilang dong sama aku, siapa tamunya? Apa papa ingin memperkenalkan mama baru pada kita?" goda April.
Erik mencubit pipi putrinya. "Jangan asal ngomong. Yang akan menikah nanti bukan papa, tapi dia." Erik menunjuk Fabian dengan dagunya.
"Maksud papa, papa mau jodohin kak Fabian?" Erik mengangguk. "Sama siapa?" tanya April.
"Atau jangan-jangan yang datang nanti adalah Kak Lidia?" tebak April. Erik mengangguk. April sangat bahagia karena Lidia akhirnya mau menerima Fabian.
"Tapi kamu jangan bilang ke Fabian. Kita beri surprise ke dia." Erik meminta dukungan pada putrinya. April mengangguk setuju.
__ADS_1
Tiba saatnya makan malam, Lidia dan keluarganya sampai di depan rumah Erik. Mereka dipersilakan masuk oleh asisten rumah tangga yang bekerja di sana. Erina, Lidia, dan Diva masuk ke ruangan itu. Tanpa diduga Fabian yang hendak keluar berpapasan dengan Lidia dan keluarganya.
"Cantik." Sebuah pujian lolos dari mulut Fabian ketika melihat Lidia berdandan. Fabian yang ingin kabur akhirnya mengurungkan niatnya.
"Selamat datang Bu Erina, Lidia, dan Diva," sapa Erik ketika keluar dari kamarnya.
"Terima kasih, Pak Erik. Kami senang bisa menghadiri undangan bapak," sahut Erina.
"Mari silakan masuk!" ajak Erik ke ruang makan.
Erina dan keluarganya takjub melihat makanan yang tersedia. "Mari kita duduk." Erik menjamu tamu-tamunya dengan baik.
Fabian tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lidia merasa malu hingga wajahnya memerah.
Usai menikmati hidangan, Erik mulai bicara serius. "Bu Erina sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah menghadiri makan malam hari ini. Saya bermaksud untuk menjodohkan anak-anak kita, Lidia dan Fabian," kata Erik panjang lebar.
"Saya terserah pada Lidia saja," jawab Erina. Sebagai seorang ibu, dia tak memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Terlebih kasih sayang yang anak-anaknya dapat itu tidaklah sempurna karena orang tuanya yang berpisah.
"Tapi saya tidak ingin menikah dalam waktu dekat, Om. Saya ingin Fabian menyelesaikan kuliahnya dulu. Jika sudah mapan maka dia bisa menikahi saya," kata Lidia menyalurkan uneg-unegnya.
"Lidia, apa kamu bersedia menungguku sampai lulus?" tanya Fabian dengan lembut. Lidia tersenyum pada pemuda itu. Fabian mengulum bibirnya.
April dan Diva berpegangan tangan. "Kita akan jadi saudara, Pril," seru Diva. April mengangguk setuju.
Setelah mendiskusikan kejelasan hubungan Fabian dan Lidia, keluarga Erina pamit karena hari sudah mulai larut. "Semoga kita jadi berbesanan Pak Erik," kata Erina.
"Saya akan siap melamar Lidia untuk Fabian kapan pun dia mau," jawab Erik dengan penuh keyakinan. Erina tersenyum mendengar tanggapan calon besannya itu.
"Kalau begitu, kami permisi," pamit Erina dan kedua anak perempuannya itu.
Usai kepergian Lidia, Fabian memeluk sang ayah. "Makasih buat kejutannya, Pa," ucap Fabian yang sedang berbahagia.
__ADS_1
"Papa senang akhirnya kamu menyetujui pilihan papa," kata Erik.
Di tengah kebahagian Erik dan Fabian, April menyembunyikan kesedihannya. Dia sudah dua hari tidak berhubungan dengan Aksa, sang kekasih. 'Apa kabarnya Mas Aksa sekarang?' batin April.
April ikut membantu membersihkan piring-piring sisa makan malam tadi. "Pril, biar si mbok yang beresin. Kamu tidur saja!" perintah sang ayah.
"Baik, Pa." April berjalan memasuki kamarnya.
April merebahkan diri di atas ranjang kemudian dia menatap langit-langit. "Mas Aksa lagi apa? Aku tidak berani menghubungi kamu saat ini karena aku takut papa malah menjauhkan kita," gumamnya dengan perasaan sedih.
Di kediaman David, Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu menghampiri Aksa yang sedang belajar di kamarnya. "Aksa, ayah mau bicara," kata David dengan serius.
"Ada apa, Yah?"
"Apa betul kamu diam-diam berhubungan dengan April?" tanya David.
"Yah, bukankah ayah tahu kalau kami berpacaran sudah lama kenapa tiba-tiba ayah menjauhkan aku dengan April?" Aksa menginginkan alasan sang ayah.
"Ayah tidak bermaksud menjauhkan kalian. Dulu papanya April yang meminta ayah menjauhkan kamu dari putrinya. Maka ayah meminta kamu sibuk belajar agar kamu melupakan April. Tapi ternyata kalian bertemu diam-diam."
"Apa alasan Om Erik memintaku menjauhi putrinya?" tanya Aksa tak mengerti.
"Kamu yakin kamu tidak melakukan sesuatu pada April?" David bertanya balik. Aksa memejamkan matanya.
'Apakah Om Erik mengira aku ini cowok breng*sek yang hanya ingin mempermainkan putrinya?' gumam Aksa di dalam hati sambil berpikir.
"Aku janji pada ayah kalau aku akan selalu menghormati wanita manapun seperti apa yang selalu disampaikan ibu padaku, Yah. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang bisa mencemarkan nama baik keluarga kita."
Aksa meyakinkan ayahnya. David menepuk bahu Aksa. "Ayah percaya. Yang perlu kamu lakukan adalah membuktikannya."
"Bagaimana caranya, Yah?" tanya Aksa tak mengerti. David tersenyum penuh arti.
__ADS_1
...♥️♥️♥️...