Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Ujian cinta


__ADS_3

Mulai hari ini Erik mendaftarkan April ke bimbel supaya dia disibukkan dengan aktivitas belajar. Aksa pun demikian, hari pertama masuk kuliah hingga saat ini, Aksa sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Jika dia sedang senggang, Aksa diminta oleh sang ayah untuk ke rumah sakit untuk membantu David mengerjakan pekerjaannya di kantor rumah sakit.


Selain sebagai dokter kandungan, David juga merangkap sebagai direktur rumah sakit tersebut menggantikan ayahnya. Jadwal praktek David mulai hari ini dia kurangi sehingga dia lebih fokus pada masalah rumah sakit.


"Daf," panggil Imam. Dia antara ketiga sahabatnya Imam satu-satunya teman yang sekampus dengan Aksa. Tapi mereka beda jurusan. Jika Aksa ambil jurusan kedokteran, Imam ambil jurusan teknik.


"Nih es teh buat kamu." Imam menyodorkan segelas cup es teh rasa-rasa yang lagi viral pada Aksa.


"Ngapain sih? Bengong aja."


"Aku kangen sama April," ungkap Aksa seraya menyeruput es teh yang dia pegang.


Imam menghela nafas. Aksa sudah bercerita padanya soal sang ayah yang sengaja membuat dirinya sibuk supaya waktu bertemu April tidak ada.


"Telepon aja!" Imam memberikan usul.


"Aku udah coba tapi nomornya nggak aktif, Tadz." Aksa masih memanggil sahabatnya itu dengan sebutan ustadz.


"Jangan-jangan dia ganti nomor," tebak Imam. Aksa menggeleng.


Aksa menghela nafas. "Aku juga nggak tahu. Ayah sengaja membuat aku sibuk. Dia juga lagi persiapan buat ujian tahun ini." Aksa terlihat tidak bersemangat.


Imam menepuk bahu Aksa. "Yang sabar. Ini namanya ujian cinta."


Di tempat lain, April sedang merebahkan kepalanya di atas meja. Sudah hampir sebulan dia tidak berhubungan dengan Aksa.


"Pril, dari tadi aku lihat kayaknya kamu banyak pikiran," tebak Diva.


"Hidupku hampa," ucap April dengan wajah sendu.


"Kenapa?" tanya Diva.


"Gara-gara handphone aku mati kecebur kolam, aku jadi nggak bisa hubungi Mas Aksa," jawab April.


"Katanya dulu sering main ke rumah kamu?"

__ADS_1


April menggeleng. "Udah nggak lagi."


"Sabar, Pril. Gimana kalau kita coba hubungi dia pakai nomor aku? Kamu hafal nomornya?" tanya Diva. April menggeleng lagi. Sesaat kemudian dia mewek.


"Kenapa ya aku merasa kaya Mas Aksa lagi jauhi aku? Kalau mau putus harusnya bilang. Kenapa jadinya gantung kaya gini?" April terlihat sedih hingga dia memeluk Diva.


"Gimana kalau kamu samperin dia ke rumahnya?" usul Diva.


"Dalam rangka apa?" tanya April. Dia ingin tapi dia malu kalau harus main tanpa tujuan yang jelas. Diva menghela nafas.


"Ribet tahu nggak kisah cinta kamu ini. Kamu kangen tapi nggak mau nyamperin. Eh ada satu solusi lagi," ucap Diva memberitahu.


April penasaran. "Apa?"


"Samperin dia ke kampusnya," jawab Diva.


"Aku nggak tahu alamat kampusnya. Kalau aku tanya Kak Fabian dia nggak mau jawab."


"Ya udah tunggu takdir mempertemukan kalian," jawab Diva pasrah karena dia pusing memikirkan nasib sahabatnya yang rindu pada sang kekasih.


"Nggak tahu," jawabnya lirih. Fabian tahu adiknya itu tidak akan kembali bersemangat jika belum bertemu dengan Aksa.


"Mau kakak ajak jalan-jalan nggak?" tanya Fabian.


"Kakak nggak ada tugas kampus?" tanya April. Dia sebenarnya tertarik pada ajakan Fabian.


"Udah kelar hari ini," jawab Fabian sambil tersenyum.


April ikut tersenyum. "Ya udah aku mau ganti baju dulu. Kakak keluar bentar ya." Fabian pun menunggu April di ruang tengah.


"Udah belum, Dek? Lama amat," protes Fabian.


Sesaat kemudian Erik tiba di rumah. "Lho Fab, kalian mau ke mana?" tanya Erik.


"Ngajak April jalan-jalan bentar, Pa," jawab Fabian.

__ADS_1


"Ya sudah pulangnya jangan malam-malam," pesan Erik pada putranya itu. Fabian mengangguk paham.


Tak lama kemudian April turun. "Kak berangkat sekarang yuk!" ajak April. Fabian mengangguk setuju.


Setelah berpamitan pada orang tuanya, mereka berdua keluar menuju ke mobil. "Kak, nanti ajari aku nyetir mobil ya." April memohon pada kakaknya.


"Oke, boleh-boleh aja." Fabian mengacak rambut April dengan sayang.


Setelah itu Fabian menyalakan mesin mobil dia mengajak April ke suatu tempat. "Kak ini jalan menuju ke mana?" tanya April. Dia tidak pernah melewati rute itu sebelumnya.


Fabian mengulas senyum tipis. Sesaat kemudian dia memasuki sebuah gerbang kampus. "Ini kampus kakak?" tanya April polos.


Fabian mematikan mesin mobilnya. "Ayo turun!" April masih bengong. Tapi ketika dia melihat seseorang yang dia kenal sedang berjalan dari kejauhan, dia akhirnya tahu kakaknya membawa dia pada siapa.


April turun dengan cepat. "Mas Aksa," panggil April. Aksa pun menoleh. Dia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Sesaat kemudian matanya mengarah pada gadis yang sudah sebulan ini tidak dia temui. Aksa pun berjalan cepat ke arah gadis itu. April melompat lalu memeluk Aksa. "Aku kangen," ucapnya sambil menangis.


Aksa menciumi puncak kepala April. "Aku lebih tersiksa karena tidak bertemu dengan kamu."


Fabian yang melihat dari kejauhan merasa terharu dengan pertemuan sepasang kekasih itu. "Kalian memang tak terpisahkan," gumamnya lirih.


"Fabian," panggil Lidia. Fabian menoleh.


Fabian mengerutkan keningnya. "Lidia, kamu kuliah di sini?" tanya Fabian.


Lidia menggelengkan kepalanya. "Aku ke sini karena aku pinjam buku sama temanku yang kuliah di jurusan yang sama," jawab Lidia.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Lidia. Mata Fabian mengarah ke April dan Aksa.


"Nganterin April ketemu pacarnya," jawab Fabian. Lidia pun ikut menatap April dan Aksa.


"Aku jadi iri pada mereka," gumam Lidia lirih tapi Fabian bisa mendengar. Dia mendekat ke arah Lidia.


"Bagaimana kalau kita jadian?" bisik Fabian di telinga Lidia. Lidia terkejut mendengar ucapan Fabian.

__ADS_1


"Dasar gila!"


__ADS_2