Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Lanjut Anak David dan Sofia


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat. Aksa kini telah menginjak usia tujuh belas tahun. Anak pasangan David dan Sofia itu duduk di bangku SMA.


"Mas Aksa nanti Lovely bareng sekalian ya," perintah Sofia pada anak sulungnya.


"Bareng sama ayah aja lah Bu," tolak Aksa.


"Lho ayah berangkat siang, nanti adikmu terlambat masuk ke sekolah. Ibu hari ini mau bantuin nenek di toko."


Semenjak dia berhenti dari profesinya sebagai psikiater Sofia menerima tawaran dari ibunya untuk mengelola toko roti yang nantinya akan diwariskan padanya.


"Mas Aksa pelit banget dah sama adiknya. Padahal aku mau pamerin lho kalau aku punya kakak ganteng banget kek gini," rayu Lovely.


Aksa mengacak rambut anak kecil berusia sembilan tahun itu. Ya, jarak antara Aksa dan adiknya sekitar delapan tahun. Lovely masih duduk di bangku SD.


David dan Sofia terkekeh ketika anak gadisnya itu sangat centil. "Nurun siapa ya anak gadis papa kok imut gini," gurau David sambil menciumi pipi Lovely.


"Ya sudah ambil tasnya buruan. Kalau dalam hitungan lima menit nggak nyampai parkiran mas tinggal ya," ancam Aksa.


Lovely pun segera berlari ke kamarnya setelah itu pamit pada orang tuanya. "Bawa mobilnya hati-hati ya Mas Aksa jangan ngebut."


"Iya ibuku sayang," jawab Aksa.


"Ayah, Lovely berangkat ke sekolah dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aksa pun mengajak adiknya masuk ke dalam mobil. Mobil sport warna merah itu sebagai hadiah ulang tahun dari David untuk putra sulungnya itu.


Aksa mendapatkannya tidak mudah. Dia harus mendapatkan nilai sempurna di rapornya barulah David memenuhi permintaan anaknya itu. Pada dasarnya mereka keturunan orang jenius jadi sangatlah mudah bagi Aksa untuk mendapatkan nilai sempurna.


"Nanti pulangnya Mas nggak bisa jemput dek. Bilangin sama Bu guru suruh pesen taksi ya," pesan Aksa pada adik semata wayangnya.


"Iya nanti aku bilang sama Bu guru," jawab Lovely.

__ADS_1


"Lho kok nggak turun-turun?" tanya Aksa pada adiknya.


"Bagi duit Mas! Aku lupa minta uang jajan sama ibu tadi," rengeknya.


"CK, ya udah nih." Aksa memberikan uang dia puluh ribu kepada adiknya.


"Tambahin!" rengeknya lagi.


"Mas udah telat nih. Mas Aksa nggak bawa uang cash banyak-banyak."


"Ya udah deh." Lovely pun turun dengan muka cemberut. Aksa hanya menggelengkan kepalanya lalu mengendarai mobil menuju ke sekolahannya.


"Eh, Dafi tu Dafi," seru para gadis-gadis di sekolahan Aksa ketika mereka melihat mobil Aksa memasuki gerbang sekolah. Ya. Dafi Aksa Bilal memang murid most wanted di sekolahnya. Selain dia tampan, kata, ramah dia juga pandai dalam semua mata pelajaran. Kalau di sekolah dia lebih terkenal dengan nama Dafi.


"Dafi," panggil salah satu temannya dari kejauhan. Axel, Fabian, Imam adalah sahabat Aksa di sekolah.


"Tumben telat," kata Fabian.


"Nganterin Lovely dulu tadi," jawab Aksa alias Dafi.


"Ah ntar dulu lah, aku mau sholat dhuha dulu," tolak Imam. Teman yang paling religius di antara empat sekawan itu.


"Ntar nyusul ya, Mam," perintah Axel.


"Kebiasaan kalau manggil. Aku bukan ibumu," kesal Imam. Aksa, Axel dan Fabian tertawa melihat reaksi Imam.


"Lagian dia punya nama jadul banget sih," ledek Fabian.


"Eh bapaknya kan ustadz tahu," seru Aksa.


Hari ini hari bebas karena ada perayaan tujuh belasan. Semua murid berkumpul di lapangan untuk mengikuti lomba-lomba. Aksa dan kawan-kawannya mengikuti lomba basket hari ini. Para gadis yang ada di sekolah itu pun berkumpul di lapangan untuk menyaksikan ketampanan Aksa dan teman-temannya.


Aksa meletakkan tasnya begitu saja di lantai. Kemudian dia melepas atasan seragam yang dia pakai. "Aaa....Dafi," teriak para gadis yang menantikan dada telanjang pemuda itu. Sayangnya Aksa sudah memakai kaos olahraga dari rumah.

__ADS_1


"Yahh..." semua siswi jadi kecewa. Aksa menarik ujung bibirnya. Sederet garis itu langsung meleleh dibuatnya. Tapi tidak berlaku pada seseorang.


"Ihk, lebay banget deh mereka," cibir April. Dian April Maharani adalah anak kelas sepuluh yang tampilannya cuek. Dia tidak pernah dandan seperti kebanyakan anak perempuan lainnya.


Sehari-hari dia lebih menyukai kaos dan celana jeans dari pada memakai rok. Dia juga tidak pernah memakai perhiasan termasuk anting.


Berbeda dengan April, Diva berdandan sebaliknya. Diva adalah sahabat yang selalu menempel pada April. Karena bersama April dia selalu aman dari pembulian. Awal mula masuk ke sekolah ini dia suka di-bully oleh kakak kelasnya karena tampil terlalu menor di sekolah. Namun, April berani melawan mereka. Sejak itu Diva selalu menjadi sahabat April. Di mana ada April di situ pasti ada Diva.


Aksa bersiap melempar bola ke gawang sayangnya lemparannya terlalu kuat sehingga bola melayang seketika ke arah Diva. Namun, April menghadang bola itu hingga bola yang seharusnya mengenai kepala Diva malah mengenai kepala April.


Kalau cewek lain pasti sudah pingsan. Namun, April hanya jatuh ke lantai tapi kemudian bangkit lagi. Dia membawa bola itu ke lapangan. Kemudian memasukkan bola itu dengan tiga kali langkah sebelum akhirnya masuk ke gawang.


Semua orang bersorak melihat aksinya memasukkannya bola. "Gila nih cewek keren banget," kagum Fabian pada April.


"Kalau kamu nggak bisa main basket mending baca buku aja di perpustakaan," ledek April pada Aksa yang berdiri di tengah lapangan.


Aksa tidak melawan perempuan. Dia hanya mengepalkan tangannya guna menahan marah. Setelah itu dia berbalik dan mengambil tasnya.


"Siapa sih cewek itu berani sekali merendahkan Dafiku sayang," ucap Nesya tidak suka.


"Itu tuh anak kelas sepuluh yang blagu. Dia kan yang melawan kita waktu ngerjain temannya yang lagi jalan di sampingnya itu," kata teman Nesya memberi tahu.


"Kalau gitu tunggu apa lagi. Kita kasih pelajaran orang yang sudah menghina Dafiku sayang di depan umum."


Nesya dan teman-temannya pun menghadang April dan Diva. "Mau ngapain?" tantang April.


"Berani-beraninya kamu menghina Dafiku sayang di depan umum seperti tadi," ucap Nesya.


"Pril sebaiknya kita pergi. Nesya dan kawan-kawannya terkenal sadis kalau lagi marah," ucap Diva memberi tahu.


Tak mau menunggu waktu lama Nesya pun menyeret April dan Diva ke toilet sekolahnya.


Apa yang akan terjadi pada April?

__ADS_1


...♥️♥️♥️...



__ADS_2