Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Ketahuan


__ADS_3

Sebentar lagi, April akan menghadapi ujian. Dia fokus pada kelulusan. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Aksa ada di balik nilai-nilainya yang bagus.


April memang mengikuti les bimbel di suatu tempat yang lumayan terkenal. Tapi April mengulang pelajarannya bersama Aksa. Tiap malam mereka video call. April selalu tidur sampai larut malam karena dia tidak hanya sekedar belajar, akan tetapi dia juga sambil sayang-sayangan dengan kekasihnya itu.


Tok tok tok


"Mas Aksa udah dulu ya, ada yang ngetuk pintu. Bahaya kalau sampai papa yang datang," ucap April sambil berbisik.


"Siapa?" tanya April dari dalam.


"Ini papa," jawab Erik.


"Tunggu, Pa." April beranjak dari atas ranjang kemudian dia membuka kunci kamarnya.


"Ada apa, Pa?" tanya April. Dia berdiri di ambang pintu.


"Papa dengar kamu ketawa sendiri. Kmu lagi teleponan sama siapa?" tanya Erik curiga.


"Owh, aku lagi nonton film, Pa," jawab April berbohong. Dia tidak mau sampai dia ketahuan oleh papanya. Bisa-bisanya penyemangatnya akan dijauhkan.


"Oh ya sudah. Jangan tidur malam-malam," pesan sang ayah pada putrinya. April tersenyum menanggapi ucapan Erik.


April merasa lega setelah ayahnya turun ke lantai dasar. Dia mengusap dadanya karena merasa tenang. Setelah itu April pun tidur.


Keesokan harinya, April kesiangan karena sudah beberapa hari ini dia tidur terlalu larut. "Dek, bangun!" Fabian berteriak dari kuar kamar.


April meraih jam weker yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Mati aku jam enam."


April buru-buru bangun, kemudian dia menyambar handuk. Dia mandi mode bebek. April pun mengemasi buku-bukunya yang berserakan di meja bekas dia belajar semalam. Setelah itu, dia turun setengah berlari.


"Dek, jalan aja! Nanti jatuh," tegur Erik pada putrinya.


"Kak, ayo berangkat kita udah telat," perintah April pada Fabian.


"Lagian kamu ngapain aja semalam bisa sampai kesiangan?" Fabian pura-pura tidak tahu padahal dia yakin kalau tiap malam April video call dengan Aksa.


April tak sempat menjawab pertanyaan kakaknya. Dia meraih tangan Erik lalu menarik tangan Fabian. "Kak buruan. Nanti aku telat," rengek April pada kakaknya. Tapi Fabian mode malas berjalan. Akhirnya April mengancam.


"Ya sudah sini biar aku saja yang abwa mobil," ancamnya. Fabian pun tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Jangan nekad! Kemaren aja belajar masih nabrak," ledek Fabian.


"Ya udah ayo. Huaa ..."


Akhirnya mobil yang dikendarai Fabian pun keluar dari garasi mobilnya. "Kak ngebut dikit!" perintah April.


"Eh mana boleh nanti celaka," protes Fabian.


"Kak, aku udah telat banget ini." April tak henti-hentinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu tenang aja, nanti juga sampai," jawan Fabian enteng. Namun, sayangnya ketika April sampai di depan sekolah gerbang sekolahnya sudah tertutup.


"Yagh, gimana nih? Jam pertama aku ada ulangan lagi," gerutu April yang sedih.


Tiba-tiba Fabian mengangkat tubuh April. "Sekali-kali jadi murid bandel napa? Lompat, Dek!" Fabian menyuruh April melompati pagar.


"Kak, tinggi banget." April merasa ngeri.


"Ck, jangan manja. Katanya ada ulangan?" Fabian mengingatkan.


April pun menoleh ke kanan dan kiri. Setelah aman dia lompat. "Aman kak," teriak April setelah berhasil melompat. Gadis itu pun berlari ke kelasnya. Beruntung guru yang mengisi jam pertama belum sampai.


"April, gue kira elo nggak masuk," kata Diva.


"Terus caranya elo masuk gimana?" Diva bertanya-tanya soal itu. Tidak mungkin gerbang sekolah terbuka setelah lewat jam tujuh.


Belum sempat April menjawab, Bu Indri masuk ke kelas mereka. "Selamat pagi," sapa Bu Indri pada seluruh siswa yang ada di ruangan itu.


"Selamat pagi, Bu," jawab anak-anak kelas XII di kelas April dengan kompak.


"Sudah siap ulangan?" tanya Bu Indri.


"Huu...." Suara riuh di kelas itu membuat kelas seperti pasar.


Bu Indri meminta salah satu anak membagikan soal ulangan harian hari ini. Setelah menerima soal tersebut, April mengerjakannya dengan serius.


Dia bisa mengerjakan ulangan dengan mudah karena setiap malam dia mendapatkan les private dari kekasihnya. "Nggak sia-sia punya pacar pinter kaya Mas Aksa," gumam April usai mengerjakan semua soal ulangan tersebut.


"Udah selesai ya, Pril?" tanya Diva memastikan. April mengangguk.

__ADS_1


"Aku duluan ya," pamit April. Dia berjalan maju ke depan kelas untuk mengumpulkan lembar jawabannya.


"Wah, kamu sudah selesai, Pril?" tanya Bu Indri.


"Sudah, Bu."


"Sudah yakin semua jawaban kamu benar?" tanya Bu Indri memastikan. April mengangguk.


"Baiklah, kamu boleh keluar," perintah Bu Indri pada gadis itu. April pun memilih untuk ke kantin. Dia ingin makan nasi karena tadi pagi tidak sempat sarapan.


Setelah pesanannya datang, dia membuka handphonenya. April mengirim pesan pada Aksa. Namun, tanpa disadari guru piket melihat April yang di kantin sendirian menghampirinya.


"Kamu lagi ngapain di sini? Ini jam belajar. Kenapa malah makan sambil main handphone. Kamu ikut saya ke kantor."


April tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Padahal dia diperbolehkan Bu Indri keluar usai mengerjakan ulangan. "April, saya akan panggil orang tua kamu," ancam guru yang menggiringnya dari kantin tadi.


"Jangan, Pak! Masa gara-gara masalah sepele bawa orang tua saya segala," protes April.


"Kamu ini sudah keterlaluan. Di jam belajar kamu malah enak-enakan makan dan main ponsel."


"Pak saya keluar karena saya habis ulangan."


"Tapi kenapa temanmu yang lain tidak ada yang keluar?" tanya guru itu.


"Ya, karena mereka belum selesai, Pak. Saya sudah dapat izin dari Bu Indri lho, Pak."


"Ya tetap saja kamu tidak boleh makan di jam belajar. Pokoknya saya akan tetap panggil orang tua kamu."


April menghela nafasnya kasar. "Membela didi pun percuma," gumamnya.


Tak lama kemudian Erik datang ke sekolah April. "Ada apa dengan anak saya, Pak?" tanya Erik.


"April sudah melanggar tata tertib sekolah, Pak Erik. Dia makan dan bermain ponsel saat jam belajar." Guru bernama pak Rian itu mengadu pada Erik.


"Benar begitu April?" tanya Erik. Dia ingin memastikan kebenarannya pada sang anak.


"Benar, Pa. Tapi aku keluar setelah dikasih izin sama guru yang mengajar." April tidak mau sepenuhnya disalahkan.


"Saya membaca handphone April. Ternyata dia berkirim pesan pada seorang laki-laki," ungkap guru itu. Erik pun meraih ponsel April. Di sana dia melihat nama Aksa di riwayat panggilan yang ada di handphonenya.

__ADS_1


"April jelaskan pada papa!"


"Tamatlah riwayatku," gumam April di dalam hati.


__ADS_2