Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Rencana Dena


__ADS_3

"Mama apaan sih?" protes Dena pada ibunya.


"Belajar bersikap sopan pada calon suami mama!"


"Ma, kenapa mama harus menikah dengan dia? Apa tidak ada laki-laki lain selain dia. Menikahlah dengan orang yang lebih kaya."


"Ini bukan soal materi. Kamu masih kesal karena acara perjodohan kamu yang gagal?" tuduh Martha.


Dena menoleh. "Jadi dia cerita apa saja? Seharusnya aku yang menikah dengan David. Aku ingin merebut David dari istrinya tapi mama malah merusak rencanaku."


Plak


"Anak kurang ajar. Siapa yang mengajari kamu seperti ini?" bentak Martha.


Dena memegangi pipinya yang kena tampar. "Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Mama tanya siapa yang mengajariku? Aku bercermin dari pengalaman hidup kalian. Bukankah kalian berpisah karena orang ketiga? Aku akan jadi orang ketiga agar bisa membuat David dan istrinya berpisah." Dena menyamar tasnya lalu pergi dari kediaman ibunya.


"Dena," teriak Martha yang memanggil anaknya. Martha tak menyangka anak gadisnya tumbuh menjadi orang yang serakah seperti itu. Mungkin karena dulu mereka terbiasa memanjakan Dena.


Hari-hari David dan Sofia dilalui dengan bahagia menyambut kelahiran anak mereka. Hari ini Sofia mulai cuti di rumah. Bisanya jam segini dia sudah mandi dan bersiap untuk berangkat kerja bersama suaminya. Namun, kali ini dia hanya menyiapkan baju dan sarapan untuk David.


"Kamu nggak ikut sarapan, sayang?" tanya David pada istrinya.


"Nanti saja, Mas. Mas David lanjutin aja makannya," ucap Sofia sambil tersenyum.


Usai menyelesaikan sarapan David berpamitan pada sang istri. "Jaga diri ya, jika butuh sesuatu telepon saja aku. Jangan pergi sendirian. Mintalah mama menemani," pesan David panjang lebar pada istrinya. Sofia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Sesaat kemudian David menurunkan kepalanya. "Sayang, papa kerja dulu ya, jaga mama baik-baik," ucapnya pada bayi yang ada di kandungan istrinya. Kemudian dia mencium perut besar Sofia. Lanjut mencium pipi istrinya. David melambaikan tangan, Sofia balas melambai.

__ADS_1


Dena tak sengaja melihat interaksi mereka pagi ini. Hatinya terasa terbakar. "Cih, pamer," gumam Dena ketika melewati unit kamar Sofia.


Dena melangkahkan kakinya cepat agar bisa mengikuti David. "Dave, tunggu!"


David menoleh. "Apa kamu mau pergi? Aku boleh numpang tidak? Kebetulan mobilku sedang bocor bannya," bohong Dena.


David mengentikan langkahnya. "Maaf, Dena. Sebaiknya kamu naik taksi saja. Aku tidak bisa mampir ke kantormu karena tiga puluh menit lagi jam praktekku dibuka," tolak David secara halus.


Dena merasa tersinggung. "Baiklah, maaf aku salah minta tolong," ucapnya sebelum pergi. Dia melewati David begitu saja setelah ditolak. David hanya menggelengkan kepalanya.


Dena pura-pura menunggu taksi. Dia berharap David akan meminta maaf padanya lalu menawari dirinya tumpangan. Tapi siapa sangka mobil David lewat begitu saja di depan Dena. David hanya membunyikan klakson mobilnya saat melewati Dena.


"Sialan si David. Udah mulai belagu," umpat Dena kesal.


Setelah kepergian David, Dena mengambil mobilnya. Dia pergi meninggalkan area tempat tinggalnya dengan mobil warna merah yang ditumpangi.


Dena merasa kecewa, sedih dan terabaikan. Matanya memerah mengingat kelakuan bodohnya yang masih mengharapkan pria beristri. "Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Walaupun harus merebut milik orang lain."


Sementara itu, hubungan Martha dan Yudha makin mesra. Yudha memutuskan akan menikahi Martha dalam waktu dekat. Yudha pun memberi tahu anak-anaknya.


Hubungan Martha dan anak-anak Yudha memang tidak terlalu akrab karena mereka sudah dewasa dan masing-masing mengurus rumah tangganya sendiri. Tapi Yudha yakin calon istrinya adalah wanita yang baik.


Rencana pernikahan itu juga Martha sampaikan pada Dena. Gadis yang bekerja di perusahaan ayahnya itu selalu menyempatkan diri pulang ke rumah ibunya walau hanya sebentar.


"Dena, seminggu lagi mama akan menikah secara sederhana dengan Pak Yudha."


Dena menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya. "Mama serius?" tanya Dena memastikan.

__ADS_1


Martha mengangguk. "Apa kamu keberatan? Tidak bisakah kamu memaafkan dia dan melupakan David. Kalian akan jadi saudara nantinya," bujuk Martha.


"Kenapa mama malah menikungku begini sih?" tuduh Dena.


"Menikung bagaimana? Apa mama merebut kekasihmu?" tanya balik Martha.


"Mama tidak merebut kekasihku tapi merebut calon mertuaku. Seharusnya mama dukung aku nikah sama David. Kalau mama nikah sama Om Yudha berarti aku harus melupakan cintaku pada Dave, Ma."


"Dena, sudah berapa kali mama bilang jadi perusak rumah tangga orang lain. Kamu lihat sendiri akibat orang ketiga hidup kita jadi berantakan. Apa kamu tega membuat hidup orang lain berantakan? Aku lihat Sofia wanita yang baik, sudah pasti Dave lebih menyukainya."


"Mama, kenapa mama malah membela wanita itu? Apa aku bukan anak mama? Jangan-jangan aku anak istri papa. Sedangkan mama hanya orang ketiga, iya?" tuduh Dena pada ibunya.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Dena. "Dena maafkan mama," ucap Martha menyesal.


Dena pergi meninggalkan rumah ibunya. Dia sakit hati mendapatkan perlakuan kasar dari sang ibu. "Lihat saja nanti. Aku akan membuat pernikahan kalian gagal," ancam Dena.


Setelah itu dia pun mencari orang bayaran yang akan diperintahkan untuk menjalankan rencananya. Dena mengeluarkan sejumlah uang yang ada di dalam amplop coklat. Ukurannya cukup tebal. "Ini hanya DP, jika kalian bisa melakukan apa yang aku perintahkan dengan baik, maka bayaran kalian akan aku tambah."


Salah seorang dari mereka menerima amplop tesebut. "Apa yang harus kamu lakukan?" tanyanya pada Dena.


Dena mendekat ke arah mereka lalu membisikkan tugas yang harus mereka kerjakan.


"Baik, kami mengerti."


"Ingat jangan sampai ketahuan. Aku tidak mau terlibat dengan polisi." Dena memberi peringatan pada anak buahnya. Mereka mengangguk paham.

__ADS_1


Sebenarnya apa rencana Dena? Yuk komen yang banyak? Komen kalian juga menjadi salah satu inspirasi othor


__ADS_2