
"Apa ini, Mas?" tanya Wanda seraya melempar foto ke meja kerja Erik. Erik sangat terkejut ternyata perselingkuhannya diketahui oleh istrinya. Erik berdiri lalu mencoba menjelaskan pada istri pertamanya itu.
"Dia istri keduaku, Amira," jawab Erik.
Plak
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Erik. "Tega kamu, Mas. Apa kurangnya aku?" tanya Wanda sambil terisak. Tangannya meremat kain di dadanya. Sakit hati yang ia rasakan begitu menyiksa ketika mengetahui suaminya menikah lagi tanpa seizinnya.
"Maafkan aku, aku khilaf."
Wanda membuang semua buku yang ada di meja kerja Erik. "Khilaf katamu? Mudah sekali kamu berucap. Hatiku sakit Mas, sakit kamu perlakukan seperti ini," bentak Wanda.
"Aku mau kita cerai. Aku akan membawa Fabian pergi dari sini agar kamu tidak bisa lagi menemui anakmu," ancam Wanda pada suaminya.
Erik berlutut di hadapan Wanda. "Tolong jangan pisahkan aku dengan Fabian." Erik mengiba pada istrinya.
"Ow, jadi kamu masih bertahan denganku karena adanya Fabian? Apa yang kamu cari selama ini? Apa aku sudah tidak cantik lagi?" tanya Wanda seraya menepis tangan suaminya.
"Maaf, maaf." Erik hanya menunduk. Sedangkan Wanda pergi mencari tahu rumah madunya itu.
Hanya dengan menjentikkan jari dan uang banyak yang dia miliki, Wanda dengan mudahnya mendapatkan alamat rumah Amira. "Di sini rupanya ja*Lang itu tinggal," gumam Wanda dari dalam mobilnya. Sesaat kemudian dia turun.
Tok tok tok
Amira membukakan pintu ketika mendengar suara orang mengetuknya dari luar. "Cari siapa?" tanya wanita yang sedang hamil besar itu pada wanita yang mengenakan kaca mata hitam di depannya.
Wanda melepas kaca matanya. "Kenalkan aku istri pertama Mas Erik yang juga suamimu." Ucapan Wanda membuat Amira hampir limbung. Dia tak menyangka selama ini dia menikahi pria yang beristri.
"Bohong!" seru Amira.
"Aku sudah menduga kalau kamu mengatakan hal itu. Kamu sepertinya gadis polos yang mau saja dikibuli suamiku." Wanda memperlihatkan foto-fotonya bersama Erik dan seorang anak laki-laki berumur satu tahun.
__ADS_1
Amira menangis melihat kenyataan bahwa suaminya telah berkeluarga. "Kenapa, Mas? Kenapa kamu mempermalukan aku seperti ini?" gumam Amira sambil menangis.
"Percuma saja kamu menangis, sebaiknya jauhi suamiku! Aku akan berikan uang yang banyak untuk biaya hidupmu dan juga anakmu yang akan kamu lahirkan nanti."
Amira menggeleng. "Aku mohon jangan seperti ini. Aku rela menjadi istri kedua Mas Erik, Mbak. Tolong jangan pisahkan aku dengannya," mohon Amira. Dia berlutut di depan Wanda.
"Wah wah kalian memang satu haluan. Dengan mudahnya berlutut di hadapanku untuk mengiba. Tapi aku terlalu sakit hati karena perselingkuhan kalian. Kamu hanya wanita murahan yang menjadi duri dalam rumah tanggaku." Wanda benar-benar murka. Dia pergi meninggalkan Amira sendiri.
Amira tiba-tiba merasa pusing. Seketika dia pun ambruk di lantai. Seorang tetangga Amira yang sedang lewat di depan rumahnya melihat Amira tergeletak di depan pintu. "Ya ampun mbak Mira," teriak ibu-ibu itu. Dia pun segera berteriak minta tolong. Setelah itu mereka membawa Amira ke rumah sakit.
Erik menerima panggilan dari istri keduanya. Namun, ketika dia jawab suara itu bukanlah suara Amira.
"Hallo, saya Bu Nina mau mengabarkan kalau Mbak Mira pingsan dan dirawat di rumah sakit."
Erik yang sedang visit ke ruangan pasien pun segera keluar. " Di mana dia dirawat sekarang?" tanya Erik. Setelah mendapatkan alamat rumah sakitnya Erik pun menyusul istrinya. Sang istri dirawat di rumah sakit terdekat dengan jarak rumahnya.
"Apakah ada nama pasien bernama Amira?" tanya Erik pada resepsionis tersebut.
"Dia masih di UGD." Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Erik menyusul ke sana.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Erik pada dokter umum yang menangani istrinya.
"Tekanan darahnya tinggi, kami akan berkonsultasi pada dokter kandungan mengenai ini," jawabnya.
Erik mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bisa menangani istrinya karena rumah sakit ini bukan wilayahnya. "Jangan ditunda lagi. Cepat panggilkan dokter kandungan!" perintah Erik dengan nada tinggi.
Mereka pun menuruti permintaan Erik. Rupanya dokter kandungan yang memeriksa adalah teman kuliah Erik bernama Tamara. "Rik, ngapain lo di sini?" tanya Tamara.
"Tam, istri gue Tam. Cepat periksa istri gue," pinta Erik. Tamara bergegas memeriksa wanita yang diakui Erik sebagai istrinya.
"Rik, sebaiknya kita lakukan operasi sesar. Kalau kita tidak segera keluarkan bayinya aku takut terjadi sesuatu padanya," kata Tamara memberi tahu.
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud? Padanya? Pada siapa?" cecar Erik seraya mengguncang bahu Tamara.
"Kita lakukan operasi sekarang, hm," bujuk Tamara. Erik hanya mengangguk pasrah. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk istrinya. Saat ini dia hanya bisa berdoa dan meminta pada Yang Kuasa supaya istri dan anaknya selamat.
Dia jam menunggu akhirnya operasi sesar yang dilakukan oleh Tamara selesai. "Tam gimana oeprasinya?" tanya Erik tak sabar.
"Bayinya perempuan cantik seperti ibunya. Berat badannya normal dan dia juga sehat."
"Lalu bagaimana istriku, Tam?" Erik sungguh merasa berdebar menanyakan itu pada Tamara. Dia tidak bisa membayangkan hal terburuk yang bisa terjadi pada istrinya.
"Istrimu koma, dia mengalami pendarahan hebat."
"Nggak, nggak mungkin. Kalau kamu tahu dia mengalami tekanan darah tinggi kenapa kamu tetap melakukan operasi Tam?" Erik tidak terima dan menyalahkan Dokter Tamara.
"Rik tenang Rik. Jangan berteriak ini rumah sakit."
"Masa bodoh." Erik menepis tangan Tamara.
"Karena aku tahu kondisinya tidak memungkinkan Rik. Dia terlalu lemah. Maka dari itu aku ingin menyelamatkan anakmu sebelum istrimu meninggal lebih dulu."
Erik menatap tajam ke arah Tamara dengan mata merah menyala. "Sialan kamu Tam. Berani menyumpahi istriku." Tamara tahu Erik sangat terguncang maka dia memilih meninggalkan Erik agar dia bisa lebih tenang. Tamara tahu Erik butuh waktu sendiri.
"Amira," panggil Erik lirih seraya menundukkan kepala.
Sesaat kemudian perawat memberi tahu agar Erik mengadzani anaknya lebih dulu. "Mari saya antar ke ruangan bayi," kata perawat tersebut memberi tahu. Erik pun mengikuti langkahnya dengan gontai. Separuh nyawanya seolah hilang saat mengetahui istrinya koma.
Tak lama kemudian Erik sampai di dalam ruang perawatan bayi. "Ini anak anda," kata suster itu seraya memberikan bayi mungil itu padanya. Dia melihat bayi itu dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk bayi mungil yang belum diberi nama itu.
Erik melihat tanda lahir di lengan anaknya. "Papa akan selalu menjagamu, nak." Air matanya tumpah tak terbendung mengingat nasib anaknya yang malang.
Setelah keluar dari ruang bayi seorang perawat menemui Erik. "Pak istri anda." Jantung Erik berdebar kencang mendengar suster itu memanggilnya.
__ADS_1
...♥️♥️♥️...