
Setelah dua hari bekerja April bicara pada Sofia jika besok dia mulai sekolah seperti biasa. "Kalau boleh saya masih mau lanjut kejar di sini, Bu. Tapi bolehkah saya minta shift siang?" tanya April pada Sofia.
"Kalau pulang malam apa kamu tidak takut?" tanya Sofia. Jujur dia agak khawatir karena April bilang rumahnya lumayan jauh jaraknya dari toko roti miliknya itu.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa naik ojek," jawabnya. April hanya sayang jika dia tidak bisa lagi makan roti gratis seperti dua hari sebelumnya.
Sofia mengangguk. "Kamu boleh bekerja di sini sepulang sekolah. Tapi jangan sampai mengganggu pelajaran kamu," ucap Sofia memperingatkan.
"Siap, Bu." April sangat bersyukur memiliki atasan sebaik Sofia.
Usai pulang bekerja ibu-ibu pemilik warung memanggilnya ketika melihat April lewat di depan warungnya. "Pril, uang yang kamu janjikan buat bayar hutang mana?" tanya ibu pemilik warung itu sambil berteriak.
April mendekat. "Ya ampun baru kerja dua hari, Bu. Gajinya keluar sebulan lagi. Sabarlah Bu."
"Sabar-sabar kalau saya jadi rentenir saya bisa dapat bunga banyak ini, pokoknya dua hari lagi kalau nggak bisa bayar jangan ngutang lagi di sini," ancam ibu pemilik warung tersebut.
"Iya, Bu," jawab April lemas.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, Nak. Kamu sudah pulang?"
"Ini, Bu. Aku bawakan roti lagi." April memberikan roti sisa yang akan dibuang lagi.
"Kak, aku minta uang buat bayar sekolah," kata Azriel.
"Berapa, Dek?" tanya April.
"Dua ratus ribu," kata Azriel.
"Sebentar kakak ambilkan uangnya." Ketika April memberikan uang itu pada adiknya tapi sang ayah kembali datang untuk merebut uang anaknya.
"Pak, kembalikan uang itu," teriak April.
"Berani kamu melawan bapak?" Laki-laki itu melotot tajam. Dia hampir saja memukul April kalau saja sang ibu tidak melerai.
"Pak, jangan main kasar pak," larang istrinya. "April kamu bawa adikmu masuk!" perintah sang ibu.
"Kak, uang buat bayar sekolahku bagaimana?" tanya sang adik.
__ADS_1
"Tenang aja, Dek. Kakak akan jual anting kakak supaya kamu bisa bayar uang sekolah besok. Tapi jangan sampai ketahuan bapak ya." Azriel mengangguk.
Setelah itu April pergi menemui Diva. "Pril ada apa kamu ke sini?" tanya Diva.
"Di restoran kamu butuh pegawai tambahan nggak?" tanya April.
"Kenapa? Kamu butuh uang?" Diva memang paling tahu kemauan April.
"Aku pinjami saja. Kamu butuh berapa?" tanya Diva.
"Eh, nggak usah. Aku butuh pekerjaan bukan utang. Nanti aku bayar utang ke kamu pakai apa?" tanya April. Diva mengerti April pantang dibantu secara cuma-cuma.
"Aku tanyakan pada mamaku dulu ya," kata Diva. April pun menunggu di luar restoran. Air liurnya hampir saja menetes ketika melihat orang lain makan di restoran milik keluarga Diva.
"Pril," panggil Diva.
"Eh, ngagetin aja."
"Ayo masuk! Kamu bisa gantiin jadi pelayan nggak? Soalnya ada yang nggak masuk hari ini. Kamu bisa pakai seragam di dalam," kata Diva memberi tahu. April sangat senang mendengar kabar itu.
"Ya ampun makasih banget ya Div, kamu sahabat terbaik aku."
Tak lama kemudian Fabian, Axel dan Imam datang ke restoran itu secara bersamaan. Mereka duduk di meja yang sama. April segera mendatangi pengunjung yang baru saja sampai. Tapi dia tidak menyadari kalau para pemuda itu adalah siswa yang bersekolah di tempat yang sama dengannya.
"Selamat malam, mau pesan apa?" tanya April sambil membawa buku catatan.
Fabian langsung mengenali wajah April. "Eh, kamu kan anak kelas sepuluh yang kemaren berantem sama Nesya kan?"
April langsung menggenggam erat pulpen yang dia pegang. "Maaf bisakah anda sebutkan pesanan anda?" April berusaha bersikap profesional.
Axel pun menyebutkan pesanannya. Sementara Fabian menopang dagu melihat gadis pujaannya itu berdiri di hadapannya saat ini. Imam menyenggol Fabian. "Kamu ini naksir ya naksir tapi nggak usah terlihat jelas begitu. Nanti yang ada tuh cewek illfeel sama kamu," ledek Imam.
"Masa sih tadz. Aku ganteng gini mana ada cewek yang menolak ketampananku?" ucap Fabian dengan percaya diri. Axel menoyor kepala Fabian.
"Gantengan juga aku ke mana-mana. Dasar narsis," cibir Axel.
"Eh, Dafi jadi ke sini nggak?" tanya Imam. Fabian menggedikkan bahu.
"Jadi tu dia orangnya," tunjuk Axel ketika melihat Aksa sedang memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
"Hai," Aksa melambaikan tangan. Dia berjalan menuju ke meja teman-temannya. Di saat yang bersamaan April datang dari arah yang berlawanan. Dia tak sengaja menyenggol Aksa hingga gelas yang dibawa oleh April terguling tapi tak sampai jatuh ke lantai.
"Alhamdulillah nggak jadi ganti rugi gelas yang pecah," gumam April.
Sedangkan Aksa tampak kesal karena minuman itu membasahi bajunya. "Kamu bisa hati-hati nggak sih jalannya," bentak Aksa.
"Sorry sorry." Kali ini April mengakui kesalahannya. Dia tidak mau membuat masalah di tempat kerjanya.
Aksa mengerutkan kening ketika melihat April berdiri di hadapannya saat ini. "Kamu lagi? Kenapa di mana-mana ada kamu?" tanya Aksa kesal. Tapi tunggu Aksa melihat gadis itu memakai seragam pelayan berarti dia bekerja di restoran itu, pikir Aksa.
"Apakah dia sangat miskin sehingga harus bekerja keras padahal orang lain yang seumuran dengannya hanya tahu menghabiskan uang saja?" gumam Aksa melihat obat ke arah gadis itu.
April hendak pergi ke belakang untuk mengambil lap tapi tiba-tiba tangannya dicekal oleh Aksa. "Ganti rugi!" ucapnya pada April.
April membelalakkan matanya tak percaya. "Baik, baik akan aku ganti minumannya."
Fabian berdiri untuk membantu April. "Bro biar aku beliin baju buat ganti pakaian kamu."
"Kamu yang menyiramku?" tanya Aksa. Fabian menggeleng.
"Lalu kenapa ingin mengganti rugi? Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya."
April rasanya ingin menangis. Niatnya untuk mencari uang malah harus mengganti rugi baju Aksa. "Bagaimana caraku menggantinya jika aku saja tidak memiliki uang. Apa kamu tidak melihat usahaku mencari uang hari ini?" April harap Aksa mau berbelas kasih.
"Daf, sudahlah," bujuk Fabian yang merasa kasian pada April.
Akhirnya Aksa pun melepas tangannya. "Terima kasih." April berlalu setelah mendapat ampunan dari Aksa. Fabian mengajak Aksa duduk di meja makan mereka.
Usai berpisah dengan teman-temannya Aksa tak langsung pulang, dia sengaja menunggu April pulang. Tapi dia memberi kabar pada ibunya agar tidak khawatir.
"Pril kamu mau pulang? Aku antar ya?" Diva menawarkan tumpangan.
"Nggak usah Div. Aku bisa pulang naik ojek," tolak April yang tidak mau merepotkan sahabatnya.
"Ya sudah kabari kalau udah sampai rumah."
April terkekeh. "Oke nanti aku kabari pakai telepati ya." Ya, April memang tidak memiliki handphone. Semiskin itu hingga setiap kali ada tugas Divalah yang memberi tahunya.
"Aku balik dulu ya," pamit Diva. Dia masuk ke dalam mobil orang tuanya. April melambaikan tangan pada temannya.
__ADS_1
Setelah itu April menunggu ojek yang lewat di depan restoran Diva. Tapi tiba-tiba sebuah mobil warna merah berhenti di depannya.