
Fabian pulang bersama Erik. "Pa aku meninggalkan mobilku di jalan," lapor Fabian pada ayahnya.
"Biar papa suruh orang buat ambil mobil kamu. Alamatnya di mana?" tanya Erik.
"Aku tidak tahu daerah itu. Coba tanya Lidia," usul Fabian. Erik tersenyum miring.
"Katakan! Apa kamu tertarik dengan gadis itu?" ledek Erik pada putranya.
"Papa becanda. Mana mungkin aku tertarik pada dia. Kalau pun hanya dia wanita di dunia ini aku tidak akan memilihnya."
"Heleh. Jangan bersumpah. Siapa tahu fia memang jodoh kamu."
"Tapi dia lebih dewasa dari aku, Pa."
Erik mengerutkan keningnya. "Dari mana kamu tahu? Apa kalian sudah lama kenal?""
Fabian tiba-tiba merasa gugup. "Pa, aku ingin istirahat dulu."
"Fab, mobil kamu bagaimana?" teriak Erik.
"Nanti aku minta tolong Axel untuk mengambil mobilku."
Sesampainya di dalam kamar, Fabian melihat sikunya yang diperban. Kemudian dia merebahkan diri. Tapi ketika dia akan memejamkan mata, April masuk ke kamarnya secara tiba-tiba.
"Kak, kata papa kakak terluka ya?" April memeriksa bagian tubuh Fabian yang sakit. "Ya ampun sakit banget nih pasti."
Fabian tersenyum lalu mengacak rambut April. "Nggak apa-apa. Cuma lecet dikit."
"Mau aku bikinin sesuatu? Atau aku masakin apa gitu?"
__ADS_1
"Boleh. Pesan delivery aja, Dek. Aku pengen pizza," jawab Fabian.
"Oke. Sambil nunggu kakak tiduran aja dulu." Fabian senang April memperhatikan dia.
"Coba kamu bukan adikku, Pril," gumam Fabian yang masih menyimpan rasa pada adik tirinya itu.
Di tempat lain, Lidia sedang memikirkan Fabian. "Gue jadi ngerasa bersalah sama dia. Kalau nggak ada dia mungkin nyawa gue udah melayang," gumam Lidia di kamar seorang diri.
Sesaat kemudian teleponnya berbunyi. "Nomor siapa ya?" gumam Lidia ketika melihat nomor masuk yang tidak ada di kontaknya.
Dia pun mengangkat telepon itu. "Hallo," jawab Lidia dengan ragu.
"Hai, gue Axel. Teman Fabian yang punya bengkel."
"Owh elo. Gue kira siapa? Sorry gue belum simpan nomor elo. By the way ada apa?" tanya Lidia penasaran.
"Owh, iya. Aku tahu di mana lokasinya," jawab Lidia.
"Ya udah, kasih alamat rumah lo nanti gue jemput."
"Lho kok ngajak gue sih? Kan elo bisa pergi sendiri," protes Lidia.
"Yah nanti siapa yang bawa mobil Fabian?" Axel mencari alasan agar dia bisa dekat dengan Lidia. Jujur wajah cantik Lidia menyita perhatiannya.
"Ajak aja anak buah lo," usul Lidia.
"Mereka sedang sibuk." Lidia terpaksa memberi tahu alamat rumahnya. Tiga puluh menit kemudian Axel sampai di depan rumah Lidia.
"Itu kayaknya Kak Axel," gumam Diva ketika melihat seorang pemuda turun dari mobil.
__ADS_1
"Hai, Diva," sapa Axel ramah.
"Ada perlu apa kak kemari?" tanya Diva penasaran.
"Mau jemput kakak kamu." Diva mengira Axel dan Lidia akan pergi berpacaran.
"Ayo berangkat," kata Lidia yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya. Sementara Diva syok ketika Axel jalan sama kakaknya.
Axel membukakan pintu mobil untuk Lidia. Kali ini Axel memilih mobil barunya untuk pergi bersama Lidia. Ketika di dalam mobil Lidia hanya terdiam. Diam-diam Axel mencuri pandang gadis itu. "Makhluk Tuhan yang paling sempurna," ucap Axel yang kagum.
Sesampainya mereka di lokasi, Lidia meminta kunci mobil Fabian pada Axel. Axel menepuk jidatnya. "Gue lupa ambil kunci mobilnya." Lidia menggelengkan kepalanya.
"Terus bagaimana bisa kita membawa pulang mobil ini," protes Lidia.
"Terpaksa kita ke rumah Fabian dulu untuk ambil kunci mobil." Axel merasa tidak enak pada Lidia.
Mereka pun pergi ke rumah Fabian. "Pril, Fabian ada? Aku mau ambil mobil tapi dia lupa ngasih kuncinya," terang Axel menyampaikan tujuannya bertamu.
"Masuk dulu, Kak Axel, Kak Lidia." April tak melupakan gadis itu.
Tak lama kemudian Fabian turun dari lantai dua kamarnya. "Ada apa ke sini?" tanya Fabian ketus.
"Kunci mobil belum lo kasih ke gue. Sialan lo". Axel emosi pada Fabian. Namun, Fabian menahan tawa.
"Lho modus ya buat deketin Lidia?" ledek Fabian. Dia berbisik di telinga Axel.
"Sialan lo. Tapi lo nggak keberatan kan, Bro?"
"Ambil!"
__ADS_1