
Seorang gadis ditemukan di toilet umum karena melakukan percobaan bunuh diri dengan menggores tangannya. Beruntung seseorang menemukannya kemudian membawa dia ke rumah sakit.
"Tolong, dia mengalami pendarahan," ucap petugas ambulans yang membawanya.
David tak sengaja lewat ruang UGD. "Kenapa dia?" tanya David pada perawat yang sedang merawat lukanya.
"Percobaan bunuh diri, Dok," jawab perawat tersebut. David tercengang. Dia pun ikut memeriksa bagian perutnya.
"Apa yang sedang anda lakukan, Dok?" tanya perawat itu bingung.
"Dia pasien saya. Wanita ini sedang hamil jadi saya memeriksa janin yang ada di dalam perutnya. Tapi sepertinya janinnya baik-baik saja. Lanjutkan mengobati tangannya!" perintahnya pada perawat yang bertugas. Dia pun mengangguk paham.
Setelah itu dia menemui istrinya. "Dari mana, Mas?" tanya Sofia pada sang suami.
"Tadi habis ke UGD. Ada pasienku yang melakukan bunuh diri," jawabnya.
Sofia terkejut mendengar penuturan suaminya. "Kasian sekali, kemungkinan dia sedang frustasi dan tidak menemukan jalan keluar." Sofia mengungkapkan pendapatnya.
David tersenyum miring. "Terlalu picik. Mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar. Mereka pikir mati akan membuat masalah mereka selesai."
"Ada kemungkinan lingkungan yang menyebabkan dia frustasi, Mas. Faktor dari luar sangat terpengaruh. Misal saja jika wanita itu hamil di luar nikah pasti orang-orang di sekitarnya menghina, merundung bahkan mengucilkan orang itu. Atau bisa juga karena masalah ekonomi sehingga dia tidak sanggup memelihara anak yang akan dilahirkannya. Semua kemungkinan bisa saja terjadi," terang Sofia.
David menggedikkan bahunya. "Aku tidak tahu sayang. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah."
Setelah itu David merangkul bahu istrinya. "Ayo kita ke kantin, aku sudah lapar," ajaknya.
Sementara itu Fania yang terbaring lemah di atas brankar mulai sadar. Dia membuat mata dengan perlahan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Siapa yang membawaku ke rumah sakit? Harusnya aku mati saja bersama anak ini," gumamnya di dalam hati sambil menangis.
"Anda sudah sadar," ucap perawat yang sedang mengganti cairan infus milik Fania. Kehilangan banyak darah membuatnya sangat lemas.
"Kami harus menghubungi keluarga anda. Tolong berikan kami nomor ponselnya!" pinta suster tersebut.
__ADS_1
Fania berpikir tak mungkin dia menghubungi keluarganya yang ada di luar negeri. Lalu Fania pun memiliki ide agar Leo mau bertanggung jawab padanya. "Hubungi suami saya," kata Fania. Dia pun menunjukkan nomor telepon Leo pada suster tersebut.
"Baik, akan kami hubungi." Sesaat kemudian perawat itu keluar dari ruangan Fania. "Aneh kelihatannya masih sayang suami tapi kenapa dia bunuh diri," gumamnya.
"Ada apa sus?" tanya Sofia yang mendengar ocehan perawat wanita tersebut.
"Eh dokter. Itu dok pasien yang melakukan percobaan bunuh diri kemaren meminta saya menghubungi suaminya. Terus dia bunuh diri karena apa ya?" tanya perawat itu pada Sofia.
Sofia menggedikkan bahu. "Saya tidak tahu. Tapi apapun masalahnya suster tidak perlu tahu," bisik Sofia pada perawat tersebut hingga membuatnya merasa malu karena terlalu kepo.
"Saya permisi, Dok. Mau telepon suaminya dulu supaya administrasinya ada yang menanggung." Sofia mengangguk sambil tersenyum.
Sofia berniat untuk delivery makanan karena akhir-akhir ini dia cepat lapar. Untung saja masa-masa mual muntah sudah dilewati sehingga dia bisa makan apa saja.
Setelah itu Sofia kembali ke ruangannya sambil menunggu pesanan makanannya. Tak ada yang dia lakukan karena jam prakteknya sudah selesai. Tiba-tiba dia kepikiran dengan pasien yang dibicarakan oleh perawat tadi. Sofia pun berinisiatif mendatanginya.
"Boleh saya masuk?" tanya Sofia saat menyembulkan kepalanya melalui pintu.
Nampaknya wanita itu tidak menerima kedatangan Sofia tapi dia tetap masuk. "Aku dengar kamu hamil?"
Dada Fania naik turun. "Dari mana dia tahu?"
"Suami saya seorang dokter kandungan di rumah sakit ini. Bukankah kamu pasien suami saya? Jangan takut saya tidak berniat apa-apa. Hanya saja saya ikut prihatin sama kamu kenapa harus melakukan percobaan bunuh diri? Apa tidak ada solusi tentang masalah kamu?" tanya Sofia dengan lembut seraya memegang tangan Fania agar dia mendapatkan simpatinya.
Sofia berharap wanita itu mau menceritakan beban hidupnya. Sebagai seorang psikiater hatinya terpanggil.
"Anda tidak perlu tahu," Fania membuang tangan Sofia dengan kasar. Sofia tidak tersinggung. Dia paham akan perasaan wanita yang belum diketahui namanya tersebut.
Sesaat kemudian handphonenya bergetar. "Dokter pesanan makanan anda sudah datang."
"Baik, akan saya ambil."
__ADS_1
"Maaf, jika saya mengganggu. Saya permisi, oh ya nama saya Sofia semoga kita bisa berteman," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Pantas saja Leo tergila-gila pada wanita itu. Dia sangat lembut dan perhatian," gumam Fania setelah kepergian Sofia.
Ketika Sofia berjalan ke depan untuk mengambil pesanannya, dia tak sengaja berpapasan dengan Leo. "Mas Leo sedang apa di sini? Apa ada kerabat yang sakit?" tanya Sofia.
Leo mengangguk. Dia tidak tahu akan beralasan apa. "Oh ya? Siapa Mas?" tanya Sofia penasaran.
"Kerabat," jawab Leo.
"Oh, selama buat kerabatnya ya. Aku ke depan dulu," pamit Sofia. Leo mengangguk.
Cinta tak harus memiliki. Mungkin itu ungkapan yang pas untuk menggambarkan perasaan Leo. Wanita yang dicintainya telah jatuh ke pelukan laki-laki lain akibat kesalahan yang dia perbuat. Tak mau terhanyut perasaan Leo pun menuju ke ruangan Fania. Tapi dia bertanya dulu pada resepsionis.
Brak
Leo membuka ruangan kamar Fania dengan kasar. "Apa yang kamu perbuat?" Bukannya kasian Leo malah membentak Fania.
"Menurut kamu?" tanya Fania balik. Matanya berkaca-kaca. Tega sekali laki-laki itu membentaknya. Kenapa Leo tidak kasian sekali padanya. Padahal Leo tahu kalau dia sedang hamil.
"Apa kamu sengaja membuat keributan seperti ini untuk memancing perhatianku?" tuduh Leo.
"Ya, aku memang sengaja bunuh diri. Tapi aku tidak tahu kalau pada akhirnya aku akan diselamatkan. Kalau boleh memilih aku ingin mati saja dari pada anak ini tidak diakui."
"Kenapa kamu tidak gugurkan saja kandunganmu. Aku tidak menginginkan anak itu."
Hati Fania sungguh sakit mendengar ucapan Leo. "Jadi kamu menginginkan anak dari wanita lain?" tanya Fania dengan nada bergetar.
...♥️♥️♥️...
Segini dulu ya maaf up agak larut. Jangan lupa koment dan kasih dukungan biar semangat nulisnya.
__ADS_1